| dc.description.abstract | Budidaya padi konvensional dengan penggenangan terus-menerus
meningkatkan emisi gas rumah kaca (GRK), terutama CH4. Penelitian ini
menganalisis sistem tanam Jajar Legowo 2:1 dengan irigasi Alternate Wetting and
Drying (AWD) terhadap sistem konvensional dalam menekan emisi GRK.
Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Desa Teguhan, Madiun, Jawa Timur,
selama satu musim tanam (115 hari). Parameter yang diukur meliputi fluks CH4 dan
CO2, Leaf Area Index (LAI), radiasi matahari, serta suhu tanah. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pengaruh LAI, radiasi matahari, dan suhu tanah terhadap
emisi CH4 dan CO2 tidak konsisten, bergantung pada fase pertumbuhan, sistem
tanam, dan waktu pengukuran. Trade-off antara emisi CH4 dan CO2 hanya terjadi
signifikan pada sistem konvensional fase generatif. Berdasarkan total emisi CO2-
ekivalen selama satu musim tanam, sistem konvensional mencatat nilai terendah,
sedangkan sistem Jajar Legowo mencatat nilai tertinggi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penerapan AWD pada lokasi penelitian belum menghasilkan
kondisi aerob optimal untuk menekan emisi GRK. Implikasinya, efektivitas AWD
sangat bergantung pada konsistensi penerapan di lapangan, sehingga diperlukan
pengawasan dan jadwal pengairan yang lebih ketat. | |