Show simple item record

dc.contributor.advisorSyukur, Muhamad
dc.contributor.advisorRitonga, Arya Widura
dc.contributor.advisorNurcholis, Waras
dc.contributor.authorRizqi, Rizal Hanifur
dc.date.accessioned2026-05-21T23:02:23Z
dc.date.available2026-05-21T23:02:23Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173145
dc.description.abstractCabai Rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan tanaman semusim yang termasuk dalam komoditas tanaman hortikultura yang memiliki produk berupa buah. Konsumen dalam memilih cabai mempertimbangkan tingkat kepedasan yang dimiliki oleh cabai. Tingkat kepedasan buah cabai dipengaruhi oleh kandungan zat capsaicin yang berasal dari kelompok senyawa kimia capsaicinoid. Peningkatan kepedasan cabai dilakukan dengan meningkatkan kandungan capsaicin lebih tinggi. Peningkatan capsaicin pada cabai dapat dicapai melalui program pemuliaan tanaman melalui persilangan interspesifik. Cabai rawit dikenal dengan cabai yang memiliki produktivitas dan adaptasi yang baik di lapangan. Tingkat kepedasan cabai rawit umumnya berada pada nilai 120.000 SHU. Tingkat kepedasan cabai Carolina Reaper dapat mencapai hingga 2,2 juta SHU. Carolina Reaper sebagai Capsicum chinense memiliki kepedasan yang tinggi namun tingkat adaptasinya rendah. Penerapan metode persilangan interspesifik antara varietas diharapkan menghasilkan generasi baru cabai rawit dengan tingkat kepedasan lebih tinggi. Persilangan interspesifik pada tahap F1 silang tunggal dan silang tiga arah dalam tanaman cabai diharapkan dapat meningkatkan adaptasi dan tingkat kepedasan sehingga dapat mereduksi jumlah cabai yang diperlukan untuk mendapatkan tingkat kepedasan tertentu. Percobaan pertama evaluasi daya hasil dan tingkat kepedasan silang tunggal menunjukan interaksi genotipe dengan lingkungan yang sangat nyata pada karakter tinggi tanaman, diameter batang, panjang buah, diameter buah, panjang tangkai buah, bobot buah, jumlah buah, dan potensi hasil serta hasil yang nyata pada tebal daging buah. . Genotipe IPB 420 x IPB 388 memiliki daya hasil terbaik diantara hasil silang tunggal lainnya. Genotipe IPB 420 x IPB 388 memiliki rata-rata bobot buah (2,73 g), jumlah buah (199 buah) di lahan terbuka, rata-rata potensi hasil (11,48 ton/ha). Genotipe IPB 424 x IPB 388 memiliki tingkat kepedasan tertinggi diantara genotipe silang tunggal lainnya dengan nilai sebesar 557.900 SHU meskipun hasil uji lanjut menunjukan tidak berbeda nyata dengan IPB 432 x IPB 388, IPB 420 x IPB 388, dan IPB 434 x IPB 388. Percobaan kedua evaluasi daya hasil dan tingkat kepedasan silang tiga arah menunjukkan interaksi genotipe dengan lingkungan nyata pada karakter tinggi tanaman, tinggi dikotomus, diameter batang, panjang daun, tebal daging buah, panjang tangkai buah, bobot buah, jumlah buah, potensi hasil dan tingkat kepedasan. Hasil silang tiga arah belum mampu melampaui daya hasil tetua C. Frutescens. Genotipe IPB 420 memiliki hasil lebih baik pada karakter daya hasil yaitu rata-rata bobot buah (2,39 g), rata-rata potensi hasil (7,77 ton/ha). Genotipe IPB 421 x IPB 388 // IPB 434 x IPB 388 memiliki rata-rata tingkat kepedasan tertinggi diantara genotipe silang tiga arah lainnya sebesar 446.783,33 SHU.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleInteraksi GxE Daya Hasil dan Tingkat Kepedasan F1 Silang Tunggal dan Silang Tiga Arah Interspesifik Capsicum frutescens x C. chinenseid
dc.title.alternativeInteraction GxE On Yield And Pungency Level Of F1 Single Cross And Threeway Cross Interspecific Capsicum frutescens x C. chinense
dc.typeTesis
dc.subject.keywordadaptasiid
dc.subject.keywordkepedasaid
dc.subject.keywordmultilokasiid
dc.subject.keywordpemuliaanid
dc.subject.keywordproduktivitasid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record