Show simple item record

dc.contributor.advisorRisdiyanto, Idung
dc.contributor.authorMajid, M.Dzaky Farras
dc.date.accessioned2026-05-21T07:39:12Z
dc.date.available2026-05-21T07:39:12Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173138
dc.description.abstractPerubahan iklim yang dipicu oleh emisi gas rumah kaca menjadi tantangan signifikan bagi sektor minyak dan gas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi area High Carbon Stock (HCS), mengestimasi stok karbon, serta mengevaluasi strategi carbon offset di PT Pertamina Hulu Rokan – Lapangan X menggunakan data tutupan lahan periode 2023–2025 dari citra satelit Sentinel-2A. Analisis dilakukan dengan pendekatan High Carbon Stock Approach (HCSA) dan metode Tier 1 dari pedoman Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), dengan estimasi stok dan sekuestrasi karbon menggunakan stock difference method yang dikonversi ke dalam satuan CO2 ekuivalen untuk analisis neraca karbon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tutupan lahan tahun 2025 didominasi oleh hutan rawa sekunder (5.316 ha), perkebunan (4.572 ha), dan pertambangan (2.957 ha), dengan total stok karbon sebesar 790.265 tC. Kelas Hutan Kerapatan Sedang (HK2) menjadi kontributor utama dengan nilai 631.179 tC. Analisis neraca karbon menunjukkan defisit yang signifikan, yaitu sebesar -1.038.634 tCO2e pada tahun 2023 dan -866.828 tCO2e pada tahun 2024, yang mengindikasikan bahwa kapasitas serapan vegetasi di dalam wilayah operasional belum mampu mengimbangi emisi operasional. Analisis spasial menggunakan pendekatan ring buffer analysis radius 10–50 km menghasilkan tiga zona prioritas, yaitu Zona Prioritas 1 (89.752 ha) dengan strategi avoided deforestation, Zona Prioritas 2 (4.118 ha) dengan strategi enrichment planting, dan Zona Prioritas 3 (134.602 ha) dengan strategi carbon sink acquisition. Hasil analisis skenario menunjukkan bahwa skenario konservasi (S1) memiliki efisiensi lahan tertinggi dengan kebutuhan hanya 19.900 ha, sedangkan skenario afforestation/reforestation (S2) membutuhkan lahan yang jauh lebih luas, yaitu 86.683 ha. Oleh karena itu, strategi carbon offset perlu diimplementasikan hingga di luar wilayah operasional melalui pendekatan integrasi konservasi dan rehabilitasi, dengan prioritas pada perlindungan kawasan bernilai karbon tinggi guna mendukung pencapaian target net zero emission (NZE) tahun 2060.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleANALISIS SPASIAL UNTUK EVALUASI POTENSI HIGH CARBON STOCK AREA (HCSA) SEBAGAI STRATEGI CARBON OFFSET DI SEKTOR UPSTREAM MIGASid
dc.title.alternative
dc.typeSkripsi
dc.subject.keywordemisi nol bersihid
dc.subject.keywordneraca karbonid
dc.subject.keywordstok karbonid
dc.subject.keywordstok karbon tinggiid
dc.subject.keywordtutupan lahanid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record