Kemasan Cerdas Berbasis Pati Ganyong (Canna edulis Kerr.)-Nanoselulosa Kulit Jagung (Zea mays L.)-Kurkumin
Abstract
Permintaan konsumen akan keamanan dan kualitas pangan mendorong
inovasi dalam pengembangan kemasan makanan yang ramah lingkungan dan
cerdas. Kemasan cerdas mampu memantau dan memberikan informasi tentang
kualitas produk kepada produsen dan konsumen, serta mengurangi risiko kerugian
akibat kerusakan produk. Salah satu inovasi kemasan cerdas menggunakan
indikator alami, seperti kurkumin, yang sensitif terhadap perubahan pH dan dapat
mendeteksi pembusukan makanan. Berdasarkan studi literatur yang telah
dilakukan, hingga saat ini penelitian mengenai kemasan cerdas berbasis pati
ganyong-nanoselulosa dari kulit jagung dengan indikator kurkumin belum
dilakukan.
Metode isolasi selulosa dengan bantuan gelombang mikro (MAE)
merupakan metode non-konvensional yang ekonomis dan efisien dalam
menghasilkan selulosa. Hal ini dikarenakan energi gelombang mikro berinteraksi
langsung dengan campuran reaksi, sehingga menghasilkan proses pemanasan
yang lebih cepat yang membutuhkan lebih sedikit energi sehingga lebih efisien.
Metode isolasi selulosa dari kulit jagung melibatkan perlakuan dengan
menggunakan campuran metanol-gliserol dan H2SO4. Microwave-assisted
extraction (MAE) yang digunakan pada 3 variasi daya berbeda. Selulosa
dikarakterisasi dengan fourier transform infraRed (FTIR), scanning electron
microscopy (SEM), dan X-ray diffraction (XRD). Selulosa disintesis
menggunakan metode hidrolisis asam dengan H2SO4 45%, diikuti dengan
sentrifugasi, dialisis, sonikasi, dan pengeringan. Karakterisasi nanoselulosa
dilakukan menggunakan SEM, XRD, dan particle size analyzer (PSA).
Proses pembuatan kemasan cerdas dilakukan dengan melarutkan pati
ganyong, gliserol, dan nanoselulosa, yang dicampur dengan kurkumin pada
variasi konsentrasi yang berbeda. Campuran ini kemudian disonikasi dan
dikeringkan untuk mendapatkan film kemasan cerdas. Film kemasan cerdas di
karakterisasi sifat mekanik (kuat tarik dan elongasi), dan fisik seperti, ketebalan,
densitas, kadar air, laju transmisi uap air, dan kelarutan. Film kemasan cerdas
diaplikasikan pada udang vaname (Litopenaeus vannamei) untuk melihat
kemampuan deteksi kesegaran film kemasan cerdas selama 72 jam penyimpanan.
Selama periode ini, proses pembusukan diamati, dan dilakukan analisis terhadap
pH, kandungan TVBN (total volatile base nitrogen), dan tekstur udang.
Hasilnya menunjukkan selulosa berhasil disintesis dari kulit jagung dengan
menggunakan MAE secara efisien dan efektif. Proses isolasi selulosa
menunjukkan penurunan kandungan lignin menjadi 0,98%, sementara kandungan
selulosa meningkat menjadi 75,23% pada daya optimum 800 W. Melalui
hidrolisis asam, selulosa berhasil diubah menjadi berukuran nano. Rendemen
nanoselulosa kulit jagung mencapai 40,84%. Identifikasi selulosa dilakukan
melalui analisis spektrum FTIR, yang mengkonfirmasi keberadaan senyawa
selulosa serta hilangnya puncak lignin. Analisis morfologi menunjukkan
transformasi dari struktur berserat selulosa menjadi berbagai bentuk dan ukuran
tidak beraturan setelah proses hidrolisis. Peningkatan kristalinitas selulosa setelah
proses hidrolisis meningkat dari 45,98% menjadi 57,77% berdasarkan analisis
XRD. Hasil analisis rerata ukuran partikel nanoselulosa menggunakan PSA
sebesar 230,9 nm.
Kemasan cerdas merupakan inovasi yang menjanjikan dalam industri
makanan karena kemampuannya dalam memantau dan memberikan informasi
tentang kualitas produk kepada produsen dan konsumen. Dengan menggunakan
teknologi seperti indikator warna berbasis kurkumin berdampak pada sifat fisik
dan mekaniknya seperti mengurangi kadar air, laju transmisi uap air, kelarutan
dan elongasi. Namun, meningkatkan kuat tarik, densitas, dan ketebalan. Kemasan
cerdas diuji pada udang vaname untuk memantau kesegarannya, melalui
perubahan film indikator dari kuning menjadi merah dalam kondisi basa, yang
menandakan penurunan kualitas udang. Konsentrasi kurkumin 0,5% merupakan
kondisi paling optimal dan efektif untuk melihat perubahan warna yang lebih jelas.
pH basa pada udang disebabkan oleh senyawa amonia selama pembusukan, yang
mengakibatkan penyusutan bobot udang, tekstur yang lunak dan meningkatnya
nilai TVBN. Hasil penelitian menunjukkan potensi besar untuk film kemasan
cerdas ini dalam memantau kesegaran makanan laut, sehingga bio-formulasi film
kemasan cerdas ini merupakan inovasi yang menjanjikan dalam teknologi
kemasan cerdas dan pengaplikasianya.

