Serangan Ulat Grayak Spodotera frugiperda J.E Smith (Lepidoptera: Noctuidae) pada Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah
Abstract
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu komoditas pangan utama di Sulawesi Tengah, namun keberlanjutan produksinya terancam oleh serangan hama invasif ulat grayak jagung (Spodoptera frugiperda). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika populasi larva S. frugiperda dan intensitas serangannya pada pertanaman jagung di lokasi penelitian, mengevaluasi keberadaan serta peran musuh alami yang berasosiasi dengan S. frugiperda pada pertanaman jagung, dan menganalisis pengaruh karakteristik petani dan praktik budidaya terhadap dinamika populasi Spodoptera frugiperda serta strategi pengendalian yang diterapkan oleh petani jagung di Kabupaten Sigi.
Penelitian dilaksanakan di lima kecamatan yang berada di Kabupaten Sigi yaitu Gumbasa, Tanambulava, Sigi Biromaru, Dolo Barat dan Sigi Kota pada Oktober 2024 hingga April 2025. Data populasi dan intensitas serangan dikumpulkan melalui pengamatan langsung pada 500 tanaman jagung dan wawancara terhadap 100 petani responden. Adapun parameter lain yang diamati meliputi keberadaan hama lain, serta musuh alami berupa predator dan parasitoid. Analisis data dilakukan dengan analysis of variance (ANOVA), rancangan acak kelompok (RAK) yang dilanjutkan dengan uji Tukey pada taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi dan intensitas serangan S. frugiperda berfluktuasi sepanjang pengamatan, dengan puncak serangan pada pengamatan 4 minggu setelah tanam (MST) saat fase vegetatif pertengahan. Kecamatan Gumbasa dan Tanambulava mencatat intensitas serangan tertinggi, sedangkan Sigi Kota terendah. Selain S. frugiperda, ditemukan pula hama lain seperti belalang, wereng jagung, dan kumbang daun, serta penyakit bulai, karat daun, dan hawar bakteri. Musuh alami yang ditemukan meliputi predator Rhinocoris sp., Menochilus sexmaculata, dan Chrysoperla sp. serta parasitoid telur Telenomus sp. yang berperan penting dalam menekan populasi hama.
Hasil wawancara menunjukkan mayoritas petani masih mengandalkan pestisida sintetik, sementara penggunaan pestisida nabati serta penerapan kultur teknis masih terbatas. Faktor karakter umum petani, termasuk umur, pendidikan, dan pengalaman bertani, turut memengaruhi strategi pengendalian hama yang diterapkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa S. frugiperda merupakan ancaman utama bagi produksi jagung di Kabupaten Sigi, dengan periode kritis serangan pada minggu kedua hingga keempat setelah tanam. Namun demikian, keberadaan musuh alami serta peluang peningkatan penerapan praktik budi daya berkelanjutan memberikan dasar penting bagi pengembangan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Rekomendasi yang diajukan mencakup peningkatan penyuluhan, konservasi musuh alami, pemanfaatan pestisida nabati berbasis bahan lokal, serta diversifikasi pola tanam untuk menekan risiko serangan hama.
Collections
- MT - Agriculture [4042]

