Show simple item record

dc.contributor.advisorSiregar, Hermanto
dc.contributor.advisorNovianti, Tanti
dc.contributor.advisorZulbainarni, Nimmi
dc.contributor.authorHapsari, Umi Indah
dc.date.accessioned2026-05-12T03:46:45Z
dc.date.available2026-05-12T03:46:45Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173070
dc.description.abstractIntegrasi faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola (Enviromental, Social, and Governance) ke dalam pengambilan keputusan investasi, relevan dalam lanskap keuangan global, terutama karena investor mencari strategi yang meningkatkan ketahanan selama periode ketidakpastian. Indonesia, mengalami pertumbuhan pesat dalam inisiatif keuangan berkelanjutan; namun, bukti empiris tentang bagaimana integrasi ESG memengaruhi dinamika risiko portofolio di pasar ini masih terbatas. Studi ini mengadopsi kerangka kerja analitis berbasis periode dengan memisahkan sampel menjadi empat rezim yang berbeda: pra-pandemi (2016–2019), pandemi (2020–2021), pemulihan pasca-pandemi (2022–2023), dan seluruh periode (2016-2023). Pendekatan ini bertujuan menganalisis dinamika volatilitas risiko imbal hasil saham, optimalisasi portofolio saham , dan pengaruh faktor-faktor makroekonomi dengan memperhitungkan perubahan dan pergeseran perilaku investor yang bergantung pada rezim. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data harga penutupan saham dengan periode data sejak 1 Januari 2016 sampai dengan 31 Desember 2023 dalam bentuk data time series harian, berasal dari Bursa Efek Indonesia dan Bloomberg. Penelitian dilakukan atas saham-saham kelompok Indeks LQ45 dan Indeks ESG per 31 Desember 2023. Yang mana Indeks ESG terdiri dari Indeks (IDX ESGL – ESG Leaders), Indeks SRI Kehati, Indeks ESG Sector Leaders IDX Kehati, Indeks ESG Quality 45 IDX Kehati per 31 Desember 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volatilitas tertinggi terdapat pada saham LQ45, diikuti oleh ESG dan ESGLQ45, yang keduanya merupakan bagian dari IHSG sehingga berkontribusi terhadap volatilitasnya. Berbeda dengan temuan sebelumnya yang menunjukkan bahwa SRI/ESG unggul dalam imbal hasil dan risiko, studi ini menemukan bahwa imbal hasil dan volatilitas ESG masih lebih rendah daripada LQ45, kemungkinan karena penggunaan empat indeks ESG termasuk SRI KEHATI. LQ45 secara konsisten mencatat rata-rata imbal hasil dan tertinggi di semua periode, meskipun volatilitasnya juga paling tinggi. Perbedaan imbal hasil antar kelompok hanya signifikan selama Covid-19, ketika ESG mengungguli ESGLQ45, sementara perbedaan volatilitas signifikan di semua periode. Hasil-hasil ini memberikan rekomendasi – Menggunakan saham yang berfungsi sebagai ESG juga LQ45. Ada manfaat ganda pemakaiannya, yakni, imbal hasil akan lebih besar dari ESG namun volatilitas lebih rendah dari ESG. Di masa pandemi, ESG sebagai penjaga pencapaian imbal hasil yang tertinggi kedua setelah LQ45. - Mengoptimalkan portofolio dengan Mean return tertinggi dan sharpe risiko terbesar adalah pendekatan Mean CVaR. Jika menginginkan risiko terrendah dengan metode Mean Variance. - Menyesuaikan muatan portofolio dengan faktor makroekonomi dengan pertimbangan bahwa portofolio ESG tidak sepenuhnya terisolasi dari guncangan makroekonomi; namun, responsnya terhadap faktor eksternal seperti suku bunga, harga minyak, dan nilai tukar kurang terasa dibandingkan dengan portofolio konvensional. Meski investasi ESG lebih tangguh selama krisis keuangan, investasi tersebut masih rentan terhadap peristiwa pasar signifikan yang dipengaruhi oleh faktor makroekonomi.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.titleOptimizing LQ45 and ESG Stock Portfolios and Factors Affecting the Volatility of the Formed Portfoliosid
dc.typeDissertationid
dc.subject.keywordESGid
dc.subject.keywordMakroekonomiid
dc.subject.keywordoptimalisasi portfolioid
dc.subject.keywordVolatilitasid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record