Kinerja Keberlanjutan Sektor Pertanian ASEAN: Efisiensi Teknis, Lingkungan, dan Tekanan Perdagangan
Date
2026Author
Danendra, Daffa Ibra
Novianti, Tanti
Hidayat, Nia Kurniawati
Metadata
Show full item recordAbstract
Pertumbuhan penduduk dan peningkatan permintaan pangan menempatkan sektor pertanian ASEAN pada tekanan ganda antara peningkatan produktivitas dan pengendalian eksternalitas lingkungan. Meskipun pertanian masih berperan penting dalam penyediaan pangan, penyerapan tenaga kerja, dan stabilitas ekonomi, distorsi kebijakan pertanian di ASEAN berpotensi menurunkan efisiensi teknis. Tantangan utama pertanian ASEAN terletak pada keberlanjutan produksi on-farm yang terintegrasi dengan sistem perdagangan global. Intensifikasi yang dipicu oleh tekanan perdagangan cenderung meningkatkan penggunaan input lingkungan seperti pupuk kimia dan emisi selama proses produksi, serta menekan efisiensi teknis pada penggunaan input konvensional seperti lahan, tenaga kerja, dan modal sehingga memperburuk efisiensi dan kinerja efisiensi lingkungan. Penelitian bertujuan mengidentifikasi ketimpangan kebijakan pertanian berkelanjutan, mengukur kinerja yang mencakup efisiensi teknis dan lingkungan sektor pertanian ASEAN, serta mengevaluasi tekanan akibat perdagangan yang mengindikasikan inefisiensi teknis serta implikasinya bagi Indonesia.
Pendekatan kualitatif digunakan untuk memetakan kebijakan pertanian dan keberlanjutan antarnegara ASEAN sebagai landasan analisis struktural. Pengukuran efisiensi teknis dan lingkungan dilakukan menggunakan pendekatan Stochastic Frontier Analysis dengan fungsi produksi transcendental logarithmic, di mana dimensi lingkungan dimasukkan melalui detrimental variable yang merepresentasikan input berdampak negatif terhadap lingkungan. Analisis tekanan perdagangan yang mengindikasikan inefisiensi teknis serta lanjutan analisis sebagai implikasi bagi Indonesia dilakukan menggunakan Export Similarity Index (ESI) untuk menilai tingkat kesamaan struktur ekspor antarnegara dan potensi tekanan persaingan yang berimplikasi pada intensifikasi produksi on-farm.
Hasil estimasi menunjukkan bahwa modal memiliki elastisitas terbesar sebesar 0,98, mencerminkan ketergantungan produksi pertanian terhadap akumulasi kapital. Rata-rata efisiensi teknis sektor pertanian ASEAN sebesar 0,68 mengindikasikan adanya ruang peningkatan output melalui optimalisasi penggunaan input konvensional terutama lahan, tenaga kerja, dan modal. Rata-rata efisiensi lingkungan sebesar 0,46 menunjukkan tingginya penggunaan input lingkungan, khususnya pupuk kimia dan hasil emisi selama produksi. Pada Kawasan ASEAN, nilai koefisien yang positif dan signifikan pada ekspor bersih yang mengindikasikan tekanan perdagangan atau inefisiensi teknis menunjukkan ekspansi perdagangan bersih pertanian belum diiringi peningkatan kapasitas teknologi, manajerial, dan kelembagaan. Hal tersebut mengakibatkan tekanan permintaan eksternal berpotensi mendorong penggunaan input yang tidak efisien. Dominasi komoditas di Kawasan ASEAN yang menyebabkan adanya tekanan perdagangan pada periode analisis didominasi oleh komoditas minyak kelapa sawit dan karet alam.
Lebih lanjut, sebagai implikasi bagi Negara Indonesia, nilai rata-rata ESI sebesar 0,32 mengindikasikan tingkat kesamaan ekspor yang relatif moderat di Kawasan ASEAN, namun tetap mendorong tekanan kompetisi dan intensifikasi produksi. Implikasi kebijakan menekankan perlunya harmonisasi kebijakan pertanian berkelanjutan, peningkatan efisiensi berbasis teknologi ramah lingkungan, serta penyesuaian strategi perdagangan. Bagi Indonesia, penguatan efisiensi lingkungan dan hilirisasi ekspor menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing tanpa memperbesar tekanan ekologis karena strategi tersebut memungkinkan peningkatan kinerja sektor pertanian yang sesuai antara produktivitas, keberlanjutan lingkungan, dan posisi kompetitif di pasar regional.
Collections
- MT - Economic and Management [3230]

