PROFIL FENOLAT Arachis pintoi DAN POTENSINYA SEBAGAI BIOHERBISIDA PRE-EMERGENCE
Date
2026Author
Jasadin, Isma Muliani
Chozin, Muhamad Achmad
Furqoni, Hafith
Metadata
Show full item recordAbstract
Gulma merupakan salah satu faktor utama yang menurunkan produktivitas tanaman, sementara penggunaan herbisida sintetis secara intensif dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan serta meningkatkan risiko terjadinya resistensi. Arachis pintoi merupakan tanaman legum tropis yang diketahui memiliki potensi alelopatik karena kandungan metabolit sekundernya, terutama senyawa fenolat, sehingga berpeluang dikembangkan sebagai sumber bioherbisida alami. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi profil senyawa fenolat dalam ekstrak A. pintoi menggunakan analisis LC–MS, (2) mengevaluasi efektivitas berbagai konsentrasi ekstrak A. pintoi dalam menghambat perkecambahan dan pertumbuhan awal gulma, dan (3) menganalisis efektivitas berbagai konsentrasi ekstrak A. pintoi dalam mengendalikan gulma secara pre-emergence serta dampaknya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni–November 2025 melalui identifikasi profil senyawa fenolik ekstrak A. pintoi dengan LC-MS, bioassay di laboratorium dengan lima taraf konsentrasi ekstrak (0 g/L, 50 g/L, 100 g/L, 150 g/L dan 200 g/L), serta bioassay di lapangan dengan enam taraf, yaitu weed free, 0 g/L, 50 g/L, 100 g/L, 150 g/L dan 200 g/L. Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak A. pintoi mengandung beberapa senyawa fenolik utama, termasuk asam salisilat, N-feruloilglisin, asetilsalisilat (aspirin), kurkumin, zingerol, asam gentisat, dan 4-hidroksibenzaldehida dengan total fenol sebesar 22.050,12 mg/kg. Bioassay di laboratorium menunjukkan bahwa penghambatan perkecambahan dan pertumbuhan awal gulma meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi, dengan penghambatan maksimum diamati pada 200 g/L sekitar 66% pada Eulesine indica, 64% pada Cyperus iria, dan 72% pada Borreria alata. Gulma berdaun lebar lebih sensitif daripada gulma rumput dan teki, sedangkan perkecambahan dan pertumbuhan awal jagung tidak berpengaruh secara signifikan. Bioassay di lapangan menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak A. pintoi secara pre-emergence mampu menekan pertumbuhan gulma. Konsentrasi 200 g/L memberikan penekanan gulma tertinggi dan menghasilkan berat tongkol jagung tanpa kelobot tertinggi dibandingkan perlakuan lain, tanpa menyebabkan gejala fitotoksisitas yang signifikan pada tanaman jagung. Temuan ini menunjukkan bahwa A. pintoi berpotensi dikembangkan sebagai bioherbisida pre-emergence yang selektif dan ramah lingkungan untuk pengendalian gulma secara berkelanjutan dalam sistem pertanian tropis.
Collections
- MT - Agriculture [4048]

