RESILIENSI PETANI PADI MENGHADAPI TEKANAN PERUBAHAN IKLIM: IMPLIKASI TERHADAP MODEL PENYULUHAN PERTANIAN
Abstract
Penelitian ini dilatar belakangi oleh tingginya tekanan perubahan iklim yang
dialami oleh petani padi di Indonesia. Tekanan yang terjadi menyebabkan stagnasi
dalam pencapaian sasaran Sustainable Development Goals (SDGs) sekaligus
kerentanan (vulnerability) pada rumah tangga petani. Hal ini menunjukkan perlunya
merancang tata kelola pertanian dengan perspektif resiliensi. Kemampuan petani untuk
mengatasi berbagai tekanan baik jangka pendek maupun jangka panjang
dikonseptualisasikan sebagai resiliensi. Sampai saat ini, tingkat kerentanan petani padi
masih tinggi, sehingga penelitian ini merumuskan masalah yang diteliti yakni tingginya
tingkat kerentanan padi akibat perubahan iklim dan bagaimana dengan tingkat
resiliensinya.
Tiga teori utama melandasi penelitian disertasi ini, yakni teori penyuluhan,
kapasitas resiliensi dan penghidupan berkelanjutan. Teori penyuluhan perubahan iklim
menyebutkan tiga cara yang dapat dilakukan oleh penyuluhan pertanian untuk
membantu petani menghadapi tekanan perubahan iklim: (1) memfasilitasi petani dan
menerapkan kebijakan serta program yang sesuai, (2) menyediakan informasi dan
memandu pengelolaan metode pertanian baru, dan (3) mengembangkan kapasitas
penyuluh menghadapi tekanan perubahan iklim. Kerangka teori ini digunakan untuk
membangun variabel penyelenggaraan penyuluhan dan melihat pengaruhnya terhadap
resiliensi petani terhadap perubahan iklim. Teori kedua adalah teori resiliensi yang
menekankan bahwa resiliensi adalah kemampuan petani untuk mengatasi tekanan yang
terjadi dan juga bertransformasi menjadi lebih baik. Terdapat tiga kapasitas resiliensi
yang perlu dibangun dan dikembangkan, yakni kapasitas stabilisasi, adaptasi dan
kapasitas transformasi. Teori ketiga adalah teori penghidupan berkelanjutan yang
menekankan strategi penghidupan dapat menjadi respon terhadap berbagai bentuk
tekanan dan guncangan yang terjadi. Teori ini menyebutkan bahwa strategi
penghidupan berkelanjutan mencakup lima modal, yakni modal manusia, modal
ekonomi, modal sosial, modal fisik dan modal alam.
Dalam beberapa dasawarsa terakhir, pertanian pangan yang paling banyak
mendapatkan tekanan perubahan iklim adalah usahatani padi. Data BPS 2023 menunjukkan
bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan penghasil padi nomor dua terbesar di Indonesia
dengan produksi padi mencapai 9,10 juta ton gabah kering giling. Jawa Barat juga
merupakan daerah yang mengalami kerugian ekonomi paling tinggi akibat perubahan iklim
untuk sektor pertanian di Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kerentanan rumah tangga petani
padi, menganalisis resiliensi petani padi di Jawa Barat, menganalisis faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap resiliensi petani padi, menganalisis tingkat keberlanjutan usahatani
padi dan faktor-faktor yang memengaruhinya, serta merumuskan model penyuluhan
pertanian untuk mewujudkan resiliensi petani padi.
Metode survei yang dilakukan di dua kabupaten di Provinsi Jawa Barat yaitu
Kabupaten Karawang yang mewakili wilayah pertanian intensif dan Kabupaten Subang
yang mewakili wilayah pertanian semi intensif. Sejumlah 371 petani dipilih dari 5.083
petani padi yang merupakan anggota kelompok tani padi di delapan desa di Kecamatan
Cilamaya Wetan dan Cilamaya Kulon Kabupaten Karawang, serta kelompok tani padi di
empat desa di Kecamatan Pabuaran dan Kalijati. Kriteria petani terpilih adalah petani padi
skala kecil yang mengelola usahataninya. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan
kualitatif. Analisis kuantitatif menerapkan statistik induktif sedangkan analisis kualitatif
digunakan sebagai pelengkap analisis kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan tingkat kerentanan rumah tangga petani padi di
wilayah lumbung pangan Provinsi Jawa Barat berada pada kategori cukup rentan, dengan
nilai LVI sebesar 0,47 (Karawang) dan 0,43 (Subang). Karawang yang merupakan daerah
pinggiran kota dengan pertanian padi intensif, menunjukkan kerentanan yang lebih tinggi
dibandingkan Subang yang merupakan wilayah pedesaan dengan karakter pertanian semi
intensif. Komponen utama yang menyebabkan kerentanan di Karawang adalah strategi
penghidupan (0,61), jaringan sosial (0,47), kesehatan (0,32), pangan (0,46), air (0,68), serta
bencana alam dan variabilitas iklim (0,54). Petani di Subang lebih rentan dibandingkan
petani di Karawang pada dua komponen utama, yaitu sosiodemografi (0,46) dan lahan
(0,31). Nilai LVI-IPCC untuk Kabupaten Karawang dan Subang masing-masing adalah
0,03 dan 0,02. Kedua kabupaten termasuk dalam kategori cukup rentan berdasarkan
penilaian LVI-IPCC.
Kapasitas resiliensi petani padi mencakup tiga dimensi, yaitu kapasitas stabilisasi,
adaptasi dan transformasi. Kapasitas stabilisasi petani padi di Kabupaten Karawang berada
pada kategori rendah (42,91) sedangkan petani padi di Kabupaten Subang berada pada
kategori tinggi (50,30). Dalam hal kapasitas adaptasi, Kabupaten Subang dan Karawang
berada pada kategori rendah dengan nilai masing-masing yakni 38,24 dan 33,22. Kapasitas
transformasi petani padi di Karawang berada pada kategori sangat rendah, dengan nilai
indeks 16, sedangkan Subang berada pada kategori rendah dengan nilai indeks 32. Tingkat
keberlanjutan usahatani padi diukur melalui tiga dimensi utama, yaitu ekonomi, sosial,
dan lingkungan, yang masing-masing dibagi ke dalam empat kategori keberlanjutan, yaitu
(i) terjadi penurunan, (ii) tidak ada perubahan, (iii) peningkatan tinggi, dan (iv)
peningkatan sangat tinggi. Keberlanjutan usahatani dalam aspek ekonomi di Kabupaten
Karawang berada pada kategori terjadi penurunan dengan nilai indeks 17,43 dan Kabupaten
Subang berada pada kategori tidak ada perubahan dengan nilai indeks 34,60. Keberlanjutan
usahatani dalam aspek sosial di Kabupaten Karawang dan Subang berada pada kategori
tidak ada perubahan dengan nilai indeks masing-masing 33,84 dan 37,34. Keberlanjutan
usahatani dalam aspek lingkungan di Kabupaten Karawang berada pada kategori terjadi
penurunan dengan nilai indeks 16,28 dan Kabupaten Subang berada pada kategori tidak
ada perubahan dengan nilai indeks 25,85.
Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kapasitas resiliensi petani padi, meliputi modal manusia, penyelenggaraan
penyuluhan, modal alam, modal sosial dan modal finansial. Faktor-faktor yang
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberlanjutan usahatani padi dalam hal modal
manusia, penyelenggaraan penyuluhan, modal alam, modal fisik, modal sosial dan
kapasitas resiliensi petani. Model penyuluhan untuk meningkatkan resiliensi petani padi
terhadap perubahan iklim yang dibangun adalah model penyuluhan pluralistik-best fit
berbasis modal penghidupan di tingkat lokal. Model tersebut tersusun atas lima komponen,
yaitu kondisi kontekstual, karakteristik penyuluhan pertanian dalam sistem inovasi, kinerja
kualitas layanan penyuluhan, hasil pada rumah tangga petani dan dampak jangka panjang
terhadap keberlanjutan. Penelitian ini menawarkan kontribusi teoritis terhadap
pengembangan teori kapasitas resiliensi dan teori penyuluhan pertanian untuk perubahan
iklim serta implikasi kebijakan yang bisa digunakan untuk mereformulasi kebijakan
penyuluhan pertanian dalam menghadapi tekanan perubahan iklim.
Collections
- DT - Human Ecology [641]

