IPB University Logo

SCIENTIFIC REPOSITORY

IPB University Scientific Repository collects, disseminates, and provides persistent and reliable access to the research and scholarship of faculty, staff, and students at IPB University

AI Repository
 
Building and Categories


      View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Dissertations
      • DT - Human Ecology
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Dissertations
      • DT - Human Ecology
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Komunikasi Kolaboratif dalam Pengembangan Usaha Sosial Pertanian di Indonesia

      Thumbnail
      View/Open
      Cover (1.560Mb)
      Fulltext (6.316Mb)
      Lampiran (2.102Mb)
      Date
      2026
      Author
      Thirtawati
      Sarwoprasodjo, Sarwititi
      Muljono, Pudji
      Hapsari, Dwi Retno
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Kewirausahaan sosial pertanian di Indonesia menghadapi tantangan keberlanjutan yang bersumber dari lemahnya ekosistem kolaborasi lintas aktor. Petani kecil berhadapan dengan keterbatasan akses pasar, teknologi, dan modal, sementara usaha sosial yang hadir sebagai solusi kerap bergantung pada jaringan kolaboratif yang rapuh. Kajian yang ada selama ini lebih berfokus pada model bisnis dan dampak ekonomi, sementara dimensi komunikasi kolaboratif sebagai mekanisme pembentuk dan penstabil jaringan masih sangat kurang dieksplorasi. Penelitian ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis bagaimana komunikasi kolaboratif bekerja sebagai infrastruktur sosial-material yang membentuk, menstabilkan, dan mereproduksi jaringan dalam ekosistem kewirausahaan sosial pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengeksplorasi dan memahami bagaimana jaringan antaraktor terbentuk dan dimaknai oleh para pelaku dalam ekosistem kewirausahaan sosial pertanian di Indonesia; (2) mengeksplorasi bagaimana proses komunikasi kolaboratif dan translasi makna berlangsung di antara para aktor dalam pengembangan usaha sosial pertanian; (3) memahami bagaimana kolaborasi dan jaringan komunikasi antaraktor dimaknai oleh para pelaku dalam kaitannya dengan dampak sosial dan keberlanjutan usaha sosial pertanian; dan (4) mengkonstruksi pemahaman tentang strategi komunikasi kolaboratif yang relevan bagi para aktor untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan sosial pertanian, dalam konteks dimensi politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, dan regulasi (PESTLE). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus terjalin (embedded case study) pada dua kasus yaitu Usaha Sosial Kulaku Indonesia yang bergerak dalam pengolahan kelapa berbasis komunitas di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, dan Nichoa Chocolate, usaha sosial berbasis kakao dengan pendekatan nilai tambah dan inovasi produk di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 18 informan kunci, observasi partisipatif pada 8 forum kewirausahaan sosial, dan studi dokumentasi. Analisis dilakukan secara integratif melalui empat pendekatan: Social Network Analysis (SNA) menggunakan UCINET 6.8 untuk memetakan struktur jaringan; Actor-Network Theory (ANT) untuk menganalisis proses translasi aktor; analisis tematik berbantuan NVivo untuk mengungkap dinamika komunikasi kolaboratif; dan analisis PESTLE untuk memetakan konteks eksternal. Temuan utama dalam penelitian ini memperlihatkan: (1) Jaringan multi-aktor dengan usaha sosial sebagai obligatory passage point (OPP). Hasil SNA menunjukkan kedua usaha sosial menempati posisi sentral dengan betweenness centrality tinggi. Kulaku membangun jaringan terpusat berbasis komunitas lokal, sementara Nichoa mengembangkan jaringan tersebar berbasis pengetahuan dan inovasi. Perbedaan ini menghasilkan pola komunikasi yang berbeda yaitu relasional dan informal pada Kulaku, formal dan dimediasi artefak teknis pada Nichoa; (2) Proses translasi ANT mengkonstruksi jaringan secara aktif. Melalui tahapan problematization, interessement, enrolment, dan mobilization, kedua usaha sosial berhasil mengintegrasikan aktor manusia dan non-manusia ke dalam jaringan kolaboratif yang stabil. Aktor non-manusia, seperti standar fermentasi, SOP, sertifikasi, dan teknologi produksi menjadi media komunikasi yang mentranslasikan nilai dan komitmen usaha sosial; (3) Dialektika simultan antara struktur jaringan dan proses komunikasi kolaboratif, merupakan temuan paling sentral, di mana struktur jaringan dan proses komunikasi bukan bekerja secara sekuensial, melainkan saling membentuk secara simultan dan berulang. Aktor dengan centrality tinggi mendominasi negosiasi, di mana jaringan yang padat mempercepat pembentukan komitmen. Sebaliknya, setiap putaran siklus komunikasi mengubah konfigurasi jaringan. Hubungan dialektik ini terbukti secara empiris melalui perbandingan lintas kasus. Temuan teakhir memperlihatkan bahwa kualitas kolaborasi menentukan besaran dan karakter dampak. Kulaku menghasilkan dampak sosial komunal yang meluas, berupa peningkatan kapasitas petani, pelibatan perempuan, beasiswa anak petani dan dampak ekonomi melalui hilirisasi kelapa, sementara Nichoa menghasilkan dampak berorientasi transformasi kapasitas petani kakao dan akses pasar premium. Penelitian ini menghasilkan model konseptual komunikasi kolaboratif dalam pengembangan usaha sosial pertanian. Model terdiri dari lima komponen yang saling berinteraksi, yaitu: (1) anteseden jaringan melalui translasi ANT; (2) struktur jaringan terukur melalui SNA; (3) proses komunikasi kolaboratif yang siklikal; (4) dialektika simultan antara struktur dan proses; serta (5) dampak dan adaptasi terhadap konteks PESTLE. Seluruh komponen dimoderasi oleh konteks PESTLE sebagai variabel aktif. Model ini menawarkan kerangka analitis yang dapat diterapkan di luar kedua kasus yang diteliti. Berdasarkan model konseptual dan analisis PESTLE, penelitian merumuskan strategi dalam tiga lapisan, yaitu: (1) penguatan jaringan aktor melalui desentralisasi komunikasi, aktivasi peluang jaringan dari dimensi PESTLE, dan pembangunan kepercayaan lintas lapisan; (2) optimalisasi proses komunikasi kolaboratif melalui institusionalisasi negosiasi, pemanfaatan strategis artefak non-manusia, dan mekanisme penilaian partisipatif; dan (3) adaptasi terhadap konteks PESTLE melalui komunikasi advokasi, komunikasi nilai, komunikasi inklusif digital, dan komunikasi keberlanjutan. Strategi ini bersifat kontekstual dan adaptif terhadap orientasi jaringan. Penelitian ini membuktikan bahwa komunikasi kolaboratif dalam pengembangan usaha sosial pertanian merupakan infrastruktur sosial-material yang membentuk, menstabilkan, dan mereproduksi jaringan kolaborasi. Dialektika simultan antara struktur jaringan dan proses komunikasi adalah mekanisme yang dapat diamati dan diukur. Tidak ada model kolaborasi yang berlaku universal, setiap model menghasilkan pola komunikasi dan dampak yang berbeda. Keberlanjutan ekosistem usaha sosial pertanian ditentukan oleh kemampuan jaringan untuk merespons perubahan konteks PESTLE secara adaptif melalui rekonfigurasi struktur, praktik komunikasi, dan konfigurasi aktor.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173003
      Collections
      • DT - Human Ecology [640]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository