Pemodelan Prediksi Kerawanan Kebakaran Lahan Gambut berdasarkan Tinggi Muka Air dengan Pendekatan Machine Learning
Date
2026Author
Wulandari, Ratu Mutiara
Syaufina, Lailan
Sitanggang, Imas Sukaesih
Jaya, I Nengah Surati
Metadata
Show full item recordAbstract
Kebakaran lahan gambut di Asia Tenggara merupakan bencana berulang yang
semakin parah pada musim kemarau, diperparah oleh fenomena El Niño yang
meningkatkan kekeringan, terutama di Provinsi Jambi, Indonesia. Dampak
kebakaran gambut meliputi degradasi lingkungan, hilangnya habitat, kerusakan
ekosistem dan peningkatan emisi akibat kabut asap, sehingga pemantauan
kerawanan dan mitigasi menjadi sangat penting. Pemantauan berbasis tinggi muka
air, terutama melalui teknologi Internet of Things (IoT), telah terbukti efektif untuk
menilai kelembapan tanah secara real-time dan mendukung peringatan dini risiko
kebakaran. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model prediksi kerawanan
berdasarkan tinggi muka air dan mengategorikan kerawanan kebakaran berbasis
data lingkungan dengan pendekatan machine learning, mengevaluasi performa
model, dan menerapkan model pada wilayah lain. Data dikumpulkan dari stasiun
pemantauan berbasis Internet of Things (IoT) yang merekam delapan peubah
lingkungan setiap 15 menit selama 3 bulan di Desa Pematang Rahim. Peubah
prediktor yang diamati yaitu curah hujan, kelembapan udara, suhu, intensitas
cahaya, kelembapan tanah, arah angin dan kecepatan angin dengan target peubah
tinggi muka air. Secara ringkas, model dinyatakan dalam bentuk aturan IF–THEN
dominan : (1) IF SM < 28 % THEN Y = -75 cm; (2) IF 28 = SM = 62 % AND RF
= 1,9 mm THEN -41 = Y = -22 cm; dan (3) IF SM = 62 % AND = 23 TEM =
THEN Y = -14 cm. Hasil prediksi menunjukkan nilai performa dengan nilai R²
0,93, RMSE 10,42, MAE 5,98, dan MAPE 0,76 % yang menunjukkan model yang
tidak bias. Selain itu, simulasi jumlah peubah dan waktu data menunjukkan bahwa
memungkinkan reduksi peubah prediktor menjadi tiga peubah utama, yaitu
kelembapan tanah, suhu, dan curah hujan dengan waktu terbaik selama 3 bulan.
Selanjutnya, klasifikasi kerawanan dibagi berdasarkan ambang batas kritis tinggi
muka air < -40 cm untuk menentukan kategori kerawanan "rendah" dan "tinggi".
Hasil klasifikasi mencapai akurasi 97%. Model kemudian diterapkan pada data
Desa Teluk Dawan. Hasil penerapan model menunjukkan bahwa model belum
mampu diterapkan di daerah lain, sehingga perlu dilakukan pelatihan data agar
model dapat menyesuaikan peubah lingkungan di wilayah lain. Klasifikasi
kerawanan pada data baru dengan target titik panas menunjukkan bahwa hari tanpa
hujan, kelembapan tanah, tinggi muka air, dan suhu tanah secara berurutan
mempengaruhi kerawanan kebakaran. Hasil penelitian ini juga memberi
rekomendasi untuk menyeleksi peubah lingkungan dalam menduga tinggi muka air
menjadi tiga, yaitu kelembapan tanah, suhu, dan curah hujan sebagai strategi
monitoring pencegahan kebakaran hutan dan lahan gambut yang lebih efektif. Peatland fires in Southeast Asia are recurring disasters that become increasingly
severe during the dry season and are exacerbated by El Niño, which intensifies
drought and expands affected areas, particularly in Jambi Province, Indonesia. The
impacts of peat fires include environmental degradation, habitat loss, ecosystem
damage, and increased haze-related emissions, underscoring the need for
vulnerability monitoring and mitigation. Groundwater level-based monitoring,
particularly through the Internet of Things (IoT), has proven effective for assessing
soil moisture in real time and for supporting early warning of fire risk. This study
aims to develop a prediction model based on groundwater levels, categorize fire
risk using environmental data using a machine learning approach, evaluate model
performance, and apply the model to other regions. Data were collected from an
Internet of Things (IoT)-based monitoring station that recorded eight environmental
variables every 15 minutes for 3 months in Pematang Rahim. The observed
predictor variables were rainfall, relative humidity, temperature, light intensity, soil
moisture, wind direction, and wind speed, with groundwater level as the target
variable. The model is expressed in the form of dominant IF–THEN rules: (1) IF
soil moisture < 28% THEN groundwater level is in a very low condition (= -75
cm); (2) IF soil moisture is 28–62% AND rainfall is = 1.9 cm THEN the
groundwater level is in a transition state from dry to wet (-41 to -22 cm); and (3)
IF soil moisture is = 62% AND soil temperature is low THEN the groundwater level
is relatively shallow (= -14 cm). The prediction results show an R2 of 0.93, RMSE
of 10.42, MAE of 5.98, and MAPE of 0.76%, indicating an unbiased model. In
addition, the simulation of the number of variables and data time shows that it is
possible to reduce the predictor variables to three main variables, namely soil
moisture, temperature, and rainfall, with the best time being 3 months. Furthermore,
vulnerability classification is divided based on a critical threshold of groundwater
level < -40 cm to determine the categories of "low" and "high" vulnerability. The
classification results achieved 97% accuracy. The model was then applied to data
from Teluk Dawan Village. The results of the model application showed that it
could not yet be applied to other areas; training data were needed to enable the
model to adapt to environmental variables. The classification of vulnerability in the
new data with hotspot targets shows that, in sequence, days without rain, soil
moisture, water level, and soil temperature affect fire vulnerability. The results of
this study also provide recommendations for selecting environmental variables for
estimating water levels, namely soil moisture, temperature, and rainfall, as a
strategy for more effective monitoring of forest and peatland fire prevention.
Collections
- MT - Forestry [1553]

