Peningkatan Kualitas Sirap Bambu Laminasi melalui Pemipihan Bilah Termodifikasi Panas dan Aplikasi Perekat Resorsinol Formaldehida
Date
2026Author
Sya'diah, Siti Masriva
Nandika, Dodi
Priadi, Trisna
Kusumah, Sukma Surya
Metadata
Show full item recordAbstract
Fenomena pemanasan global mendorong penerapan arsitektur hijau pada
bangunan gedung antara lain melalui penggunaan bahan bangunan ramah
lingkungan. Dalam kaitan ini bambu merupakan salah satu pilihan mengingat
berbagai keunggulan yang dimilikinya sebagai bahan bangunan. Namun,
penggunaan bambu sebagai atap bangunan gedung sering terkendala oleh morfologi
(bulat berongga, dimensi terbatas) dan stabilitas dimensinya yang rendah. Studi ini
mencoba mengatasi keterbatasan tersebut melalui teknik laminasi bilah bambu
terpipihkan (lamina) menggunakan perlakuan panas dan aplikasi perekat berkinerja
tinggi yaitu resorsinol formaldehida (RF). Penelitian ini juga berfokus pada
optimasi rasio resorsinol (R) terhadap formaldehida (F) serta optimasi durasi
pengempaan pada proses laminasi.
Bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea) dipilih sebagai bahan
baku utama berdasarkan hasil analisis viskoelastisitasnya yang menunjukkan
kapasitas regangan tinggi, sehingga mampu meminimalkan kerusakan serat selama
proses pemipihan menggunakan kempa panas pada suhu 140 °C selama 15 menit.
Rasio molar R:F yang diaplikasikan adalah 1:1 hingga 1:4 dengan durasi kempa
dingin 150, 180, dan 210 menit. Karakterisasi perekat RF mencakup kadar padatan
dan sifat termal nya menggunakan Differential Scanning Calorimetry dan
Thermogravimetric Analysis. Sementara itu karakteristik bilah bambu terpipihkan
dianalisis menggunakan Micro-CT scanner dan pengukuran indeks kristalinitas.
Kualitas akhir sirap bambu laminasi dievaluasi berdasarkan sifat fisis, yang
mencakup kadar air, delaminasi, dan stabilitas dimensi, serta sifat mekanis yang
meliputi Modulus of Elasticity , Modulus of Rupture, dan keteguhan rekat.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa peningkatan kadar formaldehida
dalam perekat berbanding terbalik dengan kadar padatan. Rasio RF 1:3 dan 1:4
menunjukkan sifat termal yang inferior. Sementara itu modifikasi panas terbukti
efektif menghasilkan bilah bambu terpipihkan dengan permukaan rata dan
intensitas retak minimal serta meningkatkan indeks kristalinitasnya. Hal ini
memvalidasi peningkatan stabilitas dimensi (penurunan daya serap air mencapai
29,03%) dan kekuatan mekanis sirap bambu laminasi (peningkatan nilai MOE
mencapai 51,38 %, sedangkan MOR mencapai 76,1 %). Selain itu, aplikasi perekat
RF mampu menghasilkan sirap bambu laminasi yang tahan terhadap delaminasi
(intensitas delaminasi = 0%), mengindikasikan ketahanan rekat yang sangat baik.
Studi ini menyimpulkan bahwa pemipihan lamina bambu dengan kempa panas,
aplikasi perekat RF pada rasio 1:2, dan durasi pengempaan 210 menit merupakan
perlakuan optimal untuk menghasilkan sirap bambu laminasi dengan kualitas yang
memenuhi SNI 01-5008.2-1999 dan SNI 01-5008.7-1999 atau setara dengan
formula 1:1 namun dengan biaya yang lebih efisien.
Collections
- MT - Forestry [1544]

