Karakteristik Aerogel dari Kayu Balsa (Ochroma bicolor) dan Kayu Pulai (Alstonia scholaris) sebagai Material Penyerap Karbon.
Date
2026Author
Syalsabil, Hapidh Alaudin
Wahyudi, Imam
Augustina, Sarah
Metadata
Show full item recordAbstract
Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, diperlukan terobosan material
yang inovatif dan berkelanjutan. Material penyimpan dan penyerap karbon berbasis
kayu, seperti wood aerogel (WA), menawarkan solusi yang sangat potensial karena
struktur alami kayu yang berpori serta ketersediaannya yang melimpah dan
terbarukan. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik aerogel yang dibuat
menggunakan kayu balsa (Ochroma bicolor) dan kayu pulai (Alstonia scholaris)
dengan fokus mempelajari pengaruh perbedaan konsentrasi larutan pelarut dinding
sel. Pembuatan WA dilakukan melalui proses delignifikasi dua tahap–pertama
dengan Na2SO3 dan NaOH pada suhu 100 ºC selama 10 jam dan yang kedua dengan
larutan H2O2+akuades pada suhu 100 ºC selama 3 jam–dilanjutkan dengan
dissolution cell wall menggunakan larutan DMAc/LiCl berkonsentrasi 6, 8 dan 10%
pada suhu ruang selama 24 jam; lalu diregenerasi dengan cara direndam dalam
aseton selama 20 menit pada suhu ruang sebanyak 4 kali, kemudian dibekukan
dalam freezer bersuhu –20 °C selama 24 jam, lalu dikering-bekukan dalam freeze
drier bersuhu –50 °C selama 48 jam dan diakhiri dengan proses conditioning
selama 24 jam. Karakteristik WA yang dikaji terdiri dari perubahan struktur
anatomi dan pemulihan bentuk, kerapatan, kehilangan berat, perubahan komponen
kimia dan indeks kristalinitas serta kemampuannya menyerap CO2. Dibandingkan
dengan kayu kontrol, hasil penelitian memperlihatkan WA yang dihasilkan
memiliki kerapatan yang lebih rendah, dimana kerapatan WA balsa berkurang
36,3%, sedangkan WA pulai berkurang 44,4%. Kehilangan berat menunjukkan
peningkatan: WA balsa meningkat dari 41,6 menjadi 67,6% dan WA pulai
meningkat dari 26,6 menjadi 42,9%. Tingkat pemulihan bentuk sesuai dengan nilai
kerapatan dan kehilangan beratnya. Pemulihan bentuk WA balsa bervariasi dari
0,02 hingga 0,37, sementara pada WA pulai bervariasi dari 0,50 hingga 0,92.
Analisis morfologi, terutama struktur anatomi, menegaskan bahwa WA yang
dihasilkan lebih porous dengan indeks kristalinitas yang lebih rendah. Hasil
penelitian juga menunjukkan bahwa WA yang dihasilkan mampu menyerap CO2,
terutama pada suhu 50°C. Perlakuan DMAC/LiCl 6% menghasilkan WA terbaik
untuk kayu balsa dengan jumlah penyerapan 1,085 mmol/g, sementara untuk pulai
adalah perlakuan 10% dengan penyerapan karbon sebesar 0,919 mmol/g.
Collections
- MT - Forestry [1541]
