Penggunaan Balok Organik untuk Remediasi Air Asam Tambang dan Media Tanam Bibit Kayu Putih (Melaleuca cajuputi)
Abstract
Industri pertambangan berkontribusi dalam peningkatan perekonomian negara, tetapi disisi lain pertambangan berdampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu dampak terhadap lingkungan yang terjadi akibat aktivitas pertambangan adalah terbentuknya air asam tambang (AAT). AAT memiliki pH yang rendah dan kelarutan logam berat yang tinggi sehingga perlu adanya remediasi. Salah satu teknologi remediasi adalah menggunakan lahan basah buatan yang memanfaatkan bahan yang tersedia secara alami seperti bahan organik sehingga lebih ramah lingkungan. AAT yang dialirkan ke perairan umum harus sesuai dengan baku mutu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 5 Tahun 2022 tentang Pengolahan Air Limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan dengan Menggunakan Metode Lahan Basah Buatan. Bahan organik yang dipadatkan dan dibentuk menjadi balok dapat dijadikan media bioremediasi di LBB sekaligus menjadi media tanam yang mampu memberikan nutrisi bagi tanaman yang tahan terhadap genangan air seperti kayu putih. Tujuan penelitian ini adalah menentukan jenis bahan organik yang efektif untuk meningkatkan pH AAT, menganalisis pengaruh komposisi balok organik terhadap remediasi AAT dan pertumbuhan kayu putih. Penelitian dilakukan pada bak reaktor dengan mereaksikan 100 g balok organik dengan 500 mL AAT dan 2.000 g balok organik yang ditanami kayu putih dengan 10.000 mL AAT. Bahan organik yang digunakan pada penelitian ini terdiri atas enam jenis, yaitu limbah penyulingan biji pala, baglog jamur tiram, sekam padi, pupuk kandang ayam, pupuk kandang kambing, pupuk kandang sapi, dan sembilan jenis bahan organik yang dikombinasikan. Selain itu, terdapat enam komposisi balok organik yang terdiri atas tanpa bahan organik atau kontrol (P0), baglog jamur 70% + semen 30% (P1), pupuk kandang kambing 70% + semen 30% (P2), baglog jamur 35% + pupuk kandang kambing 35% + semen 30% (P3), baglog jamur 45% + pupuk kandang kambing 25% + semen 30% (P4), dan baglog jamur 25% + pupuk kandang kambing 45% + semen 30% (P5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan organik jenis baglog jamur, pupuk kandang kambing, dan kombinasi baglog jamur + pupuk kandang kambing mampu meningkatkan pH AAT dari 3 menjadi 6,3; 6,8; dan 7 dalam waktu 7 hari. Perlakuan P1, P2, P3, P4, dan P5 menghasilkan peningkatan pH yang tinggi dan menurunkan kandungan logam berat Cd, Pb, Cu, dan Zn secara signifikan dibandingkan perlakuan kontrol. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa komposisi balok organik berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi dan kadar air tanaman kayu putih, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap parameter daya hidup, diameter, jumlah daun, berat basah total, berat kering total, dan nisbah pucuk akar kayu putih. Balok organik P3 yang terdiri atas baglog jamur 35% + pupuk kandang kambing 35% + semen 30% (P3) mampu menghasilkan pH dan konsentrasi logam berat hingga mencapai batas baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 5 Tahun 2022 dalam waktu 5 hari. Perlakuan P3 juga memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan bibit kayu putih.
Collections
- MT - Forestry [1541]
