Analisis Pendapatan dan Keberlanjutan Pertanian Kopi Arabika di Desa Sukawangi Bogor
Date
2026Author
Febriana, Amelia
Putri, Eka Intan Kumala
Ismail, Ahyar
Metadata
Show full item recordAbstract
Kopi merupakan salah satu komoditas pertanian strategis yang berperan penting dalam perdagangan internasional dengan permintaan global yang terus meningkat setiap tahunnya. Indonesia, sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia, memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem pertanian kopi yang unggul. Namun, sektor kopi global saat ini dihadapkan pada tantangan berat berupa volatilitas harga, krisis iklim, serta kesenjangan produktivitas dan pendapatan petani. Menurut laporan International Coffee Organization (ICO 2024), diperlukan investasi global sebesar USD 256,2 juta hingga lebih dari USD 1 miliar per tahun untuk meningkatkan ketahanan iklim dan keadilan nilai dalam rantai pasok. Kondisi ini menuntut adanya perubahan sistem produksi melalui pendekatan prinsip keberlanjutan pertanian organik. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis persepsi keberlanjutan petani kopi arabika, 2) menganalisis pendapatan rumah tangga petani dalam rangka keberlanjutan kopi Arabika di Desa Sukawangi dan 3) menganalisis status keberlanjutan pertanian kopi arabika di Desa Sukawangi, Bogor.
Penelitian ini menggunakan metode survei dengan melibatkan 40 petani sebagai responden di Desa Sukawangi secara purposive. Analisis data mencakup analisis skala Likert dan deskripsi kualitatif untuk persepsi, analisis pendapatan R/C rasio untuk aspek ekonomi, serta analisis keberlanjutan Multidimensional Scaling (MDS). Uji sensitivitas juga dilakukan melalui analisis Monte Carlo untuk menjamin kestabilan indeks keberlanjutan yang dihasilkan.
Studi ini menjawab tiga tujuan utama. Pertama, petani memiliki persepsi sangat positif terhadap aspek keberlanjutan yang mengacu pada standar pertanian organik SNI 6729:2016 dengan rata-rata skor 3,54 (Kategori Sangat Setuju). Tingginya persepsi ini didorong oleh kesadaran lingkungan (skor 3,65) dan keyakinan bahwa praktik berkelanjutan mampu meningkatkan kualitas panen serta nilai jual di pasar premium. Kedua, analisis ekonomi menunjukkan bahwa usahatani kopi arabika memberikan keuntungan finansial yang signifikan dengan total profit riil kelompok mencapai Rp1.499.010.080. Nilai R/C rasio sebesar 2,29 membuktikan kelayakan usahatani yang valid, di mana setiap pengeluaran Rp1,00 menghasilkan penerimaan Rp2,29, sehingga petani memiliki kapasitas modal untuk pemeliharaan intensif sesuai standar Good Agricultural Practices (GAP). Ketiga, status keberlanjutan multidimensi berada pada kategori cukup berkelanjutan dengan indeks median 65,33. Dimensi teknologi mencatat skor tertinggi (78,85) diikuti dimensi sosial (73,41) dan ekologi (72,99). Namun, dimensi ekonomi (49,87) dan kelembagaan (51,54) menunjukkan nilai terendah yang memerlukan perhatian khusus.
Penelitian ini menawarkan strategi bagi pihak terkait guna menjamin keberlanjutan pertanian kopi di masa depan. Pemerintah perlu memfasilitasi penguatan kelembagaan kelompok tani dan memperluas akses pasar guna meningkatkan posisi tawar petani. Selain itu, diperlukan pendampingan berkelanjutan dalam standarisasi organik agar tren pendapatan positif yang ada saat ini dapat dipertahankan secara konsisten. Analisis Monte Carlo yang menunjukkan perbedaan nilai sangat kecil dibandingkan MDS menegaskan bahwa model kebijakan yang diusulkan dalam penelitian ini memiliki reliabilitas yang tinggi untuk diterapkan. Coffee is a strategic agricultural commodity that role in international trade, with global demand continuing to rise annually. As the world’s fourth-largest coffee producer, Indonesia possesses significant opportunities to develop superior and sustainable coffee farming systems. However, the global coffee sector currently faces severe challenges, including price volatility, the climate crisis, and gaps in productivity and farmer income. According to the International Coffee Organization (ICO 2024) report, the global coffee sector requires an annual investment of USD 256.2 million to over USD 1 billion to enhance climate resilience, productivity, and value equity within the supply chain. This underscores the urgent need for a shift in coffee production systems through approaches based on organic farming sustainability principles. This research aims to: 1) analyze the sustainability perceptions of Arabica coffee farmers in Sukawangi Village, Bogor; 2) analyze the relationship between farming income and sustainability; and 3) analyze the multidimensional sustainability status of Arabica coffee farming in the region.
This study employed a survey method involving 40 farmers as respondents, selected through purposive sampling in Sukawangi Village, Bogor Regency. Data analysis included Likert scale and qualitative descriptive analysis for perceptions, R/C ratio analysis for economic feasibility, and Multidimensional Scaling (MDS) for sustainability status. Sensitivity testing was conducted using Monte Carlo analysis to ensure the stability of the sustainability indices.
The study addresses three primary objectives. First, farmers possess a highly positive perception toward the sustainability aspects of Arabica coffee farming based on the organic agriculture standard SNI 6729:2016, with an average score of 3.54 (Highly Agree). This high perception is driven by environmental awareness, with farmers viewing nature conservation as a guarantee for future productivity (score 3.65), and the belief that sustainable cultivation enhances harvest quality and market value. Second, economic analysis reveals that coffee farming provides significant financial benefits, with a total group real profit of IDR 1,499,010,080. The feasibility is validated by an R/C ratio of 2.29, indicating that every IDR 1.00 of expenditure generates IDR 2.29 in revenue, providing farmers with sufficient capital to implement Good Agricultural Practices (GAP). Third, the multidimensional sustainability status of Arabica coffee in Sukawangi Village is categorized as sufficiently sustainable, with a median index value of 65.33. The technological dimension recorded the highest score (78.85) due to good post-harvest mechanization, followed by the social (73.41) and ecological (72.99) dimensions. However, the economic (49.87) and institutional (51.54) dimensions require further strengthening through active farmer group participation and broader market access.
The research offers strategies for stakeholders to maintain future sustainability. The government needs to facilitate institutional strengthening and market access to sustain positive income trends. Monte Carlo analysis showed minimal differences compared to MDS values, confirming the model's reliability. Strengthening farmer groups and ensuring consistent organic standards are essential to securing the long-term viability of Arabica coffee farming.
Collections
- MT - Economic and Management [3229]
