Dinamika Tutupan Lahan dan Dampaknya terhadap Transformasi Perdesaan-Perkotaan di Kawasan Megaurban Joglosemar.
Date
2026Author
Sari, Yuria
Pravitasari, Andrea Emma
Pribadi, Didit Okta
Metadata
Show full item recordAbstract
Kawasan Joglosemar merupakan salah satu kawasan megaurban yang berkembang di bagian tengah Pulau Jawa, Indonesia. Pembangunan fisik yang masif terjadi di kawasan ini dapat memperbesar risiko alih fungsi lahan dan ketidakseimbangan spasial antar wilayah sekaligus memicu urbanisasi yang meluas ke daerah periurban, potensi urban sprawl serta transformasi yang signifikan dalam aspek spasial, sosial, dan ekonomi. Transformasi perdesaan-perkotaan pun menjadi tidak terelakkan, terutama di area periurban. Meskipun berbagai penelitian mengenai urbanisasi telah banyak dilakukan di Kawasan Joglosemar (aglomerasi perkotaan Yogyakarta – Surakarta – Semarang), namun kajian tersebut masih berfokus pada aspek spasial terutama terkait perubahan tutupan lahan. Kajian transformasi sosial ekonomi juga belum banyak ditelaah secara regional. Transformasi perdesaan-perkotaan di kawasan ini menjadi suatu kajian yang relevan di mana perubahan ekonomi, sosial, dan spasial saling terkait satu sama lain.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis dan memetakan tren perubahan tutupan lahan di Kawasan Megaurban Joglosemar (2) menganalisis transformasi perdesaan–perkotaan baik dari aspek spasial, maupun sosial ekonomi (3) mengidentifikasi dan memetakan area dengan potensi pertumbuhan lahan terbangun tinggi di Kawasan Megaurban Joglosemar berdasarkan prediksi tutupan lahan tahun 2033 dan 2043, dan (4) merumuskan rekomendasi alternatif untuk pengembangan Kawasan Megaurban Joglosemar yang berbasis pada transformasi perdesaan-perkotaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan temporal tahun 2002, 2013 dan 2023. Tutupan lahan diklasifikasi dengan metode supervised classification dan algoritma random forest. Transformasi perdesaan perkotaan menggunakan rasio lahan terbangun, dan analisis GeoDetector. Sementara itu, prediksi tutupan lahan tahun 2033 dan 2043 menggunakan land changes modeler (Terrset) dengan menggabungkan pendekatan multi layer percepton dan model markov chain. Perumusan rekomendasi menggunakan analisis deskriptif analitis untuk melihat hubungan, pola, dan implikasi antar temuan sehingga menghasilkan rekomendasi yang integratif dan kontekstual.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terjadinya pertumbuhan lahan terbangun yang signifikan di Kawasan Joglosemar seiring dengan berkurangnya lahan hijau seperti sawah, hutan, kebun, ladang, tegalan dan lahan bervegetasi lainnya. Pertumbuhan ini sejalan dengan transformasi spasial dimana batas zona perkotaan semakin menjauh dari pusat kota dan terjadi perluasan zona periurban. Secara administratif desa di kawasan ini mengalami terjadinya pertambahan jumlah desa perkotaan dan desa periurban. Kemudian, dari hasil analisis GeoDetector terdapat hubungan positif antara transformasi spasial dan sosial ekonomi yang menunjukkan bahwa pertumbuhan lahan terbangun sejalan dengan adanya perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakatnya dalam hal ini dapat disimpulkan terjadi transformasi perdesaan-perkotaan di Kawasan Joglosemar.
Proses transformasi perdesaan perkotaan di kawasan Joglosemar memiliki dua fase dengan karakteristik yang berbeda. Pada fase awal (2002-2013), secara keruangan ekspansi wilayah perkotaan berfokus pada wilayah pinggiran, dengan perubahan struktural ekonomi dari pertanian ke campuran (pertanian, industri dan jasa) dan kondisi sosial yang sedikit mengalami guncangan dengan banyaknya migrasi masuk serta berkembangnya tindak kejahatan yang terjadi. Pada fase kedua (2013-2023), pertumbuhan lahan terbangun bergerak sesuai dengan jalur transportasi sehingga meningkatkan urban network antar metropolitan dan memperkokoh sistem megaurban. Transformasi mata pencaharian masih terus berlangsung, seiring dengan struktur ekonomi industri dan jasa yang semakin matang dan merata. Dari sisi sosial, meskipun diversitas dan angka kejahatan masing tinggi, namun secara sistem masyarakat mulai mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Kemudian analisis prediksi tutupan lahan digunakan untuk memprediksi wilayah dengan kecepatan pertumbuhan lahan terbangun tinggi. Dari hasil tersebut, beberapa area yang teridentifikasi memiliki laju pertumbuhan lahan terbangun kategori tinggi yaitu desa/kelurahan yang berada di sepanjang koridor jalan utama di Kabupaten Semarang, Kendal, Demak, dan Magelang-Yogyakarta. Kemudian pada ibukota Kabupaten Klaten, dan kabupaten lain di DI Yogyakarta. Wilayah-wilayah ini memerlukan intervensi lanjutan untuk dapat beradaptasi dari berbagai perubahan yang akan terjadi baik secara keruangan (alih fungsi lahan), lingkungan, sosial dan ekonomi.
Pengelolaan kawasan megaurban Joglosemar perlu dilakukan melalui pendekatan sistemik yang menyeimbangkan pengendalian spasial–ekologis, transformasi ekonomi lokal, serta stabilitas sosial dan kelembagaan. Pendekatan ini diharapkan mampu mengarahkan perkembangan Joglosemar menuju kawasan megaurban yang berkelanjutan dan inklusif tanpa mengorbankan fungsi lingkungan maupun kesejahteraan masyarakat. The Joglosemar region is one of Indonesia’s rapidly emerging mega-urban regions in the central part of Java. Intensive physical development in this region has heightened the risk of land-use conversion and interregional spatial imbalance, while also accelerating urban expantion into peri-urban areas, increasing the potential for urban sprawl and driving substantial spatial, social, and economic transformations. Consequently, rural–urban transformation has become uncontrolled, particularly in peri-urban zones. Although a substantial body of research on urbanization in the Joglosemar region already exists, most studies focused primarily on spatial aspects, while regional-scale assessments of socio-economic transformation remain limited. Rural–urban transformation in this region is therefore a compelling research topic, given the interdependence of economic, social, and spatial changes.
This study aims to: (1) analyze and map trends in land-cover change in the Joglosemar mega-urban region; (2) examine rural–urban transformation from both spatial and socio-economic perspectives; (3) identify and map areas with high potential for built-up land growth in the Joglosemar mega-urban region based on land-cover predictions for 2033 and 2043; and (4) formulating alternative recommendations for the development of the Joglosemar Megaurban Region based on rural-urban transformation. The analysis adopts a temporal framework covering 2002, 2013, and 2023. Land cover was classified using supervised classification with a random forest algorithm. Rural–urban transformation was assessed using the built-up land ratio and GeoDetector analysis. Land-cover prediction for 2033 and 2043 was conducted using the Land Change Modeler (TerrSet), applying a multi-layer perceptron approach combined with a Markov chain model. Recommendations are formulated using descriptive analytical analysis to examine the relationships, patterns, and implications between findings, thereby producing integrated and contextual recommendations.
The results indicate that land-cover dynamics in the Joglosemar region over the past two decades (2002–2023) are characterized by a substantial expansion of built-up land alongside a decline in green areas, including paddy fields, forests, plantations, dry fields, mixed cropland, and other vegetated land. This growth aligns with spatial transformation, whereby urban boundaries are moving further away from city centers and peri-urban areas are expanding (urban expansion). Administratively, the number of urban and peri-urban villages in this region has increased. Furthermore, GeoDetector analysis reveal a positive association between spatial transformation and socio-economic change, indicating that built-up growth is accompanied by shifts in local socio-economic conditions. Collectively, these findings suggest that rural–urban transformation is occurring across the Joglosemar region.
The rural–urban transformation process in the Joglosemar region comprises two phases with distinct characteristics. In the initial phase (2002–2013), urban expansion was spatially concentrated in peripheral areas, accompanied by an economic structural shift from agriculture toward a mixed economy (agriculture, industry, and services). Social conditions experienced mild disruption, reflected in substantial in-migration and a growing incidence of criminal activity. In the second phase (2013–2023), built-up land growth increasingly followed transportation corridors, strengthening inter-metropolitan urban networks and consolidating the mega-urban system. Livelihood transformation continued, alongside a more mature and spatially diffused industrial and service-based economic structure. Socially, although diversity and crime rates remained relatively high, communities increasingly demonstrated adaptive capacity and institutional adjustment to these changes.
Land-cover prediction was subsequently employed to identify areas experiencing high rates of built-up land growth. The results highlight several high-growth areas, particularly villages/urban spaces located along major road corridors in Semarang Regency, Kendal, Demak, and the Magelang–Yogyakarta corridor, as well as in the regency capital of Klaten and other districts within the Special Region of Yogyakarta. These areas require further policy intervention to strengthen adaptive capacity to forthcoming spatial (land-use conversion), environmental, social, and economic changes.
The management of the Joglosemar megaurban area needs to be carried out through a systemic approach that balances spatial-ecological control, local economic transformation, and social and institutional stability. This approach is expected to steer the development of Joglosemar towards a sustainable and inclusive megaurban area without sacrificing ecological functions or community welfare.
Collections
- MT - Economic and Management [3229]
