Pola Aktivitas dan Spasial Permukiman Suku Bajo di Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara
Date
2026Author
Asrin, Safrianti
Rustiadi, Ernan
Indraprahasta, Galuh Syahbana
Metadata
Show full item recordAbstract
SAFRIANTI ASRIN. Pola Aktivitas dan Spasial Permukiman Suku Bajo di Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara. Dibimbing oleh ERNAN RUSTIADI dan GALUH SYAHBANA INDRAPRAHASTA.
Permukiman masyarakat Suku Bajo di Desa Mola Selatan, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan dan Desa Sama Bahari, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi menunjukkan keterikatan yang kuat dengan laut sebagai sumber penghidupan sekaligus sebagai bagian utama dari identitas budaya. Banyaknya penduduk masyarakat Suku Bajo yang memilih untuk tinggal di atas laut berkontribusi pada pembentukan berbagai aktivitas masyarakat di wilayah pesisir, yang pada akhirnya menciptakan pola ruang tersendiri di wilayah pesisir Kabupaten Wakatobi. Namun, pola permukiman Suku Bajo yang spesifik ini juga menimbulkan berbagai masalah yang perlu untuk ditangani segera. Permasalahan-permasalahan tersebut meliputi hilangnya nilai-nilai tradisional, rumah tidak layak huni dan kondisi lingkungan yang buruk. Selain itu, masih rendahnya tingkat pendidikan anak dan tingginya angka kemiskinan juga menjadi isu krusial.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi aktivitas masyarakat Suku Bajo di Kabupaten Wakatobi pada desa dengan karakteristik geografis yang berbeda sebagai dasar dalam pengembangan permukiman, (2) menganalisis pola spasial permukiman masyarakat Suku Bajo di Kabupaten Wakatobi berdasarkan karakteristik lokasi permukiman, dan (3) merumuskan strategi pengembangan permukiman masyarakat Suku Bajo. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Mola Selatan, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan dan Desa Sama Bahari, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi. Metode analisis yang digunakan meliputi thematic analysis, Nearest Neighbor Analysis (NNA), serta metode A’WOT yang mengintegrasikan analisis SWOT dan AHP untuk menentukan prioritas strategi pengembangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Suku Bajo di Desa Mola Selatan memiliki aktivitas yang relatif lebih modern dibandingkan dengan Desa Sama Bahari yang masih didominasi oleh praktik-praktik tradisional. Pola spasial permukiman di kedua lokasi penelitian bersifat seragam, yang mencerminkan bentuk adaptasi masyarakat terhadap kondisi geografis wilayah. Strategi utama yang dihasilkan dari analisis A’WOT adalah strategi ST (Strength–Threat), yang berfokus pada penguatan potensi internal dan mitigasi ancaman eksternal dalam rangka pengembangan permukiman yang lebih baik.
Kata Kunci : Suku Bajo, aktivitas, pesisir, permukiman. SAFRIANTI ASRIN. Activity and Spatial Patterns of Bajo Settlements in Wakatobi Regency, Southeast Sulawesi Province. Supervised by ERNAN RUSTIADI dan GALUH SYAHBANA INDRAPRAHASTA.
The settlements of the Bajo community in Mola Selatan Village, Wangi-Wangi Selatan District, and Sama Bahari Village, Kaledupa District, Wakatobi Regency, demonstrate a strong attachment to the sea as both a primary source of livelihood and a core element of cultural identity. The large proportion of the Bajo population choosing to live over the sea contributes to the formation of diverse coastal activities, which ultimately create distinctive spatial patterns along the coastal areas of Wakatobi Regency. However, this unique settlement pattern also generates various challenges that require immediate attention. These issues include the erosion of traditional values, substandard housing conditions and poor environmental quality. In addition, low levels of children’s educational attainment and high poverty rates.
This study aims to: (1) identify the activities of the Bajo community in Wakatobi Regency in villages with different geographical characteristics as a basis for settlement development, (2) analyze the spatial settlement patterns of the Bajo community in Wakatobi Regency based on the characteristics of settlement locations, and (3) formulate strategies for the development of Bajo community settlements. The research was conducted in Mola Selatan Village, Wangi-Wangi Selatan District, and Sama Bahari Village, Kaledupa District, Wakatobi Regency. The analytical methods employed include thematic analysis, Nearest Neighbor Analysis (NNA), and the A’WOT method, which integrates SWOT and AHP to determine development strategy priorities.
The results indicate that the Bajo community in Mola Selatan Village exhibits relatively more modern activities compared to Sama Bahari Village, where traditional practices remain dominant. The spatial settlement patterns in both study areas are uniform, reflecting community adaptation to local geographical conditions. The main strategy derived from the A’WOT analysis is the ST (Strength–Threat) strategy, which focuses on strengthening internal potential and mitigating external threats to develop better settlements.
Keywords: Bajo community, activities, coastal, settlement.
Collections
- MT - Agriculture [4039]
