Evaluasi Introduksi Kumbang Predator Curinus coeruleus Mulsant (Coleoptera: Coccinellidae)
Date
2026Author
Mardhatillah, Widiya Arta
Hindayana, Dadan
Sartiami, Dewi
Metadata
Show full item recordAbstract
Heteropsylla cubana merupakan hama tanaman lamtoro yang menyebabkan kerusakan signifikan sejak tahun 1986. Sebagai respons, pemerintah mengimplementasikan pengendalian hayati melalui introduksi predator Curinus coeruleus. Penelitian ini bertujuan menyusun kronologi penelitian C. coeruleus sejak introduksi tahun 1986 hingga 2025, mengevaluasi keberadaan dan struktur populasinya, serta menghitung kelimpahan serangga lain yang berasosiasi dengan tanaman lamtoro. Pengamatan dilakukan di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Cianjur (Provinsi Jawa Barat) dan Kabupaten Jember (Provinsi Jawa Timur). Pengamatan di Kabupaten Cianjur dilakukan pada dua lokasi yaitu Desa Ciputri dan Desa Nyalindung, sedangkan di Kabupaten Jember dilakukan pengambilan sampel yaitu Desa Ambulu dan Desa Mulyerejo. Pengambilan sampel dilakukan dengan memotong pucuk lamtoro sepanjang 20 cm yang sebelumnya disungkup terlebih dahulu. Sampel kemudian dibawa ke laboratorium untuk dihitung jumlah populasi C. coeruleus dan serangga lainnya yang terdapat pada potongan pucuk tersebut.
Total publikasi yang diperoleh dengan memilah terkait introduksi, pelepasan, dan deteksi keberadaan di Indonesia yaitu 44 publikasi. Kelimpahan populasi C. coeruleus dan H. cubana dianalisis berdasarkan fase hidup dan dihitung proporsi kelimpahannya serta rasio predator dan mangsa. Serangga yang berasosiasi dengan Lamtoro diidentifikasi hingga tingkat spesies atau morfospesies. Seluruh serangga yang ditemukan dihitung kelimpahan dan dianalisis melalui indeks Margalef dan Sorenson. Hasil menunjukkan bahwa C. coeruleus ditemukan di tiga dari empat desa dengan kelimpahan tertinggi yaitu di Desa Ciputri sejumlah 424 total individu yang terdiri dari 246 telur, 96 larva, 23 pupa dan 59 imago; Desa Nyalindung 183 total individu, yang terdiri dari 84 telur, 52 larva, 10 pupa dan 37 imago; dan di Desa Mulyorejo sebanyak 62 total individu, yang terdiri dari 29 telur, 19 larva, 4 pupa dan 10 imago. Populasi C. coeruleus tidak ditemukan di Desa Ambulu.
Faktor lingkungan seperti ketinggian, suhu, curah hujan, dan struktur vegetasi berpengaruh kuat terhadap keberhasilan kolonisasi C. coeruleus. Desa Ciputri dengan ketinggian 1130 mdpl dan curah hujan rendah menunjukkan kondisi paling optimal bagi perkembangan predator ini, sedangkan Desa Ambulu dengan ketinggian 130 mdpl dan curah hujan lebih tinggi menjadi lokasi yang kurang mendukung. Habitat dengan struktur vegetasi yang homogen, seperti di Ciputri, mempermudah C. coeruleus mendeteksi mangsa H. cubana dibandingkan habitat kompleks yang banyak semak dan pohon heterogen seperti di Ambulu. Kompleksitas vegetasi dapat menghambat efektivitas predator karena menyediakan tempat berlindung bagi mangsa dan meningkatkan potensi kompetisi antar predator.
Proporsi fase hidup C. coeruleus didominasi oleh fase telur, menandakan adanya aktivitas reproduksi yang tinggi. Di Desa Ciputri, telur mencapai 58% dari total populasi, diikuti larva 22,6%, pupa 5,4%, dan imago 13,9%. Pola yang sama juga terlihat di lokasi lain, menunjukkan bahwa siklus hidup predator berlangsung lengkap di alam. Uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antar lokasi (p=0,1244), yang berarti struktur populasi relatif seragam meskipun jumlah total individu berbeda. Kondisi ini menggambarkan bahwa populasi C. coeruleus di alam sedang berada dalam fase berkembang dan berhasil beradaptasi dengan lingkungan lokal.
Indeks kekayaan jenis Margalef menunjukkan nilai tertinggi di Desa Ciputri (2,31) dan terendah di Desa Ambulu (0,63), menunjukkan bahwa lokasi dengan kehadiran C. coeruleus justru memiliki keragaman serangga non-target yang lebih tinggi. Nilai indeks kesamaan jenis Sorenson tertinggi sebesar 51,4% ditemukan antara Desa Ciputri dan Desa Nyalindung, sedangkan terendah 26,67% antara Desa Ambulu dan Desa Ciputri. Hasil ini menunjukkan bahwa keberadaan C. coeruleus tidak menurunkan keanekaragaman serangga lokal, melainkan berperan positif dalam menjaga keseimbangan komunitas serangga dan menekan populasi H. cubana. Dengan demikian, C. coeruleus terbukti mampu membentuk populasi stabil di alam, berperan efektif sebagai agen pengendali hayati berkelanjutan, dan aman terhadap ekosistem lokal.
Collections
- MT - Agriculture [4039]
