Kolaborasi Interdisiplin dalam Pengembangan Aplikasi Perikanan
Date
2026Author
Abdullah, Ahmad Zakki
Muljono, Pudji
Sarwoprasodjo, Sarwititi
Amanah, Siti
Metadata
Show full item recordAbstract
Disertasi “Kolaborasi Interdisiplin dalam Pengembangan Aplikasi Perikanan” mengkaji transformasi digital sektor perikanan Indonesia melalui perspektif komunikasi pembangunan. Titik berangkatnya ialah kenyataan bahwa infrastruktur digital serta berbagai aplikasi teknologi informasi dan komunikasi untuk pembangunan (ICT4D) sudah banyak dikembangkan, tetapi implementasinya belum konsisten menghasilkan dampak yang kuat bagi pelaku usaha perikanan. Hambatan paling menentukan tidak berhenti pada perangkat, sistem, atau infrastruktur, melainkan pada komunikasi lintas disiplin yang belum efektif di antara pembuat kebijakan, desainer aplikasi, ilmuwan, pengembang teknologi, serta pengguna akhir. Kompleksitas perikanan yang memuat dimensi ekologi, ekonomi, sosial, dan kebijakan menuntut kolaborasi yang rapi, sementara komunikasi yang cenderung searah berulang kali gagal menjembatani perbedaan bahasa, kepentingan, dan cara memaknai masalah sehingga aplikasi tidak selalu selaras dengan kebutuhan lapangan.
Penelitian ini menetapkan empat tujuan. Pertama, menganalisis proses kolaborasi dalam ICT4D agar dapat dioptimalkan untuk mendukung pengembangan usaha perikanan. Kedua, menjelaskan bagaimana desainer memaknai serta mengelola kompleksitas sosial-teknis sebagai bagian dari komunikasi sains yang bersifat interdisipliner. Ketiga, menginterpretasikan peran agensi desainer dalam kolaborasi, termasuk bagaimana agensi tersebut membentuk struktur argumen yang membenarkan keputusan desain dan memengaruhi penerimaan lintas aktor. Keempat, mengembangkan model pendekatan partisipatif yang membuat komunikasi sains berjalan reflektif dan argumentatif agar efektivitas aplikasi meningkat. Landasan teoritis utama ialah teori strukturasi argumen (pengembangan dari Teori Strukturasi Adaptif) yang memandang struktur sosial terbentuk melalui tindakan manusia yang direproduksi terus-menerus dalam dualitas struktur. Kerangka ini dipadukan dengan konsep komunikasi sains, kolaborasi interdisiplin, serta ICT4D untuk memahami hubungan timbal balik antara pengetahuan ilmiah, praktik lokal pembudidaya, dan tata kelola kelembagaan dalam ekosistem digital perikanan.
Metode penelitian bersifat kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan desainer aplikasi, pengembang teknologi, pembuat kebijakan, dan pelaku usaha perikanan. Analisis percakapan kolaboratif dilakukan memakai Conversation Argument Coding System (CACS) yang mengurai dinamika interaksi ke dalam komponen arguables, reinforcer, prompters, delimitors, dan non-argueables. Fokus analisis diarahkan pada bagaimana istilah, pengetahuan, dan validasi keputusan diproduksi, diperdebatkan, lalu distabilkan menjadi kesepakatan kerja.
Temuan utama menunjukkan bahwa kolaborasi interdisiplin yang berhasil membutuhkan mekanisme komunikasi berbasis kepercayaan, transparansi, dan koordinasi yang konsisten. Komunikasi diposisikan sebagai “mesin penggerak” kolaborasi: arena negosiasi makna, pengujian kelayakan pengetahuan, serta pembentukan kesepahaman kerja lintas keahlian. Desainer tampil sebagai agen reflektif yang menerjemahkan perbedaan epistemik antar disiplin, menata prioritas masalah, mengelola batas pengetahuan, dan menyusun pembenaran keputusan desain melalui argumen yang dapat diuji, sehingga keputusan inovasi tidak sekadar “cepat”, tetapi dapat dipertanggungjawabkan lintas pihak.
Kontribusi teoretis memperluas penerapan teori strukturasi pada konteks ICT4D, sekaligus menegaskan bahwa praktik komunikasi bukan hanya dipengaruhi struktur, tetapi juga membentuk ulang struktur melalui agensi aktor. Pada sisi praktis, disertasi merumuskan Model Pengelolaan Kompleksitas dalam pengembangan aplikasi usaha perikanan yang adaptif dan berkelanjutan. Model ini merangkaikan siklus analisis lingkungan, penentuan kebutuhan, forum interdisiplin, verifikasi kebutuhan berlapis, pengembangan dan uji coba, implementasi, pemantauan–evaluasi, hingga pemutakhiran berkelanjutan. Arah model menempatkan komunitas sebagai pelaku berdaya dan menekankan pertemuan pengetahuan lapangan, teknis, ilmiah, serta kebijakan dalam forum lintas disiplin.
Saran utama menekankan penyusunan SOP tata kelola program digitalisasi perikanan yang mengikuti siklus model, lengkap dengan peran, jadwal, keluaran dokumen, dan mekanisme keputusan lintas lembaga. Implementasi disarankan melalui pilot project dengan pendampingan “local heroes” berliterasi digital, disertai evaluasi berkala yang juga mengukur kualitas komunikasi (kejernihan istilah dan ketepatan respons). Lokakarya lintas disiplin serta praktik knowledge management dibutuhkan agar fleksibilitas peran tidak mengorbankan kedalaman keahlian. Secara keseluruhan, disertasi menyimpulkan bahwa masa depan transformasi digital perikanan ditentukan oleh kualitas kolaborasi interdisiplin yang dijalankan melalui komunikasi reflektif, partisipatif, dan berbasis argumen yang dapat diuji.
Collections
- DT - Human Ecology [639]

