Peran Agrososiopreneur Muda sebagai Agen Perubahan di Masyarakat Petani
Date
2026Author
Syamsiah, Siti
Sumardjo
Fatchiya, Anna
Haryanto, Yoyon
Metadata
Show full item recordAbstract
Berkurangnya jumlah petani produktif dan meningkatnya proporsi petani lanjut usia menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan pembangunan pertanian di Indonesia. Kondisi ini terjadi di tengah masa bonus demografi yang seharusnya menjadi peluang besar bagi peningkatan keterlibatan generasi muda di sektor pertanian. Namun, rendahnya minat dan terbatasnya akses terhadap sumber daya, pasar, serta teknologi menyebabkan proses regenerasi petani berjalan lambat. Dalam konteks ini, muncul generasi Agrososiopreneur (ASP) muda sebagai wirausahawan sosial di bidang pertanian yang berpotensi menjadi agen perubahan melalui inovasi sosial, kepemimpinan kolektif, dan kolaborasi digital. Keberadaan ASP Muda diharapkan dapat mempercepat regenerasi petani, mengurangi kesenjangan akses, dan mendorong pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.
Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kapasitas dan kemandirian agrososiopreneur muda; (2) menganalisis pengaruh kapasitas dan kemandirian agrososiopreneur muda terhadap keefektifan perannya; (3) menganalisis pengaruh keefektifan peran agrososiopreneur muda sebagai agen perubahan di masyarakat petani terhadap keberlanjutan usaha; (4) merumuskan strategi yang tepat untuk meningkatkan peran agrososiopreneur muda sebagai agen perubahan di masyarakat petani.
Penelitian dilakukan di Provinsi Jawa Barat dengan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode survei, yang dilengkapi data kualitatif. Populasi penelitian meliputi 515 ASP Muda di Kabupaten Cianjur dan Subang, dengan 227 responden yang ditentukan melalui cluster random sampling menggunakan rumus Slovin. Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu. Instrumen penelitian berupa kuesioner telah melalui proses uji validitas dan reliabilitas, dan seluruh butir pertanyaan dinyatakan valid serta reliabel untuk digunakan dalam pengumpulan data. Penelitian dilaksanakan pada periode September 2023 hingga September 2024, dengan memanfaatkan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, serta wawancara terstruktur menggunakan kuesioner, sedangkan data sekunder dikumpulkan dari berbagai sumber dokumentasi terkait. Analisis data dilakukan dengan pendekatan statistik deskriptif dan inferensia. Uji hubungan struktural antarvariabel dilaksanakan menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modelling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS.
Hasil penelitian menunjukkan dukungan eksternal dan modal sosial berapa pada kategori sedang, sedangkan intensitas pemanfaatan teknologi informasi berada pada kategori rendah. Berdasarkan hasil uji hipotesis, ketiga variabel berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kapasitas ASP Muda. Dukungan eksternal meliputi akses pelatihan, pendampingan, dan bantuan pembiayaan yang berkontribusi langsung pada peningkatan pengetahuan teknis, manajerial, dan kewirausahaan. Intensitas pemanfaatan teknologi informasi berperan dalam memperkuat kapasitas melalui peningkatan akses informasi, pemasaran digital, serta kemampuan analisis usaha, meskipun tidak berpengaruh langsung terhadap kemandirian. Adapun modal sosial, berupa kepercayaan, kerja sama, dan jaringan antar pelaku, terbukti berpengaruh secara langsung terhadap kapasitas maupun kemandirian ASP Muda. Dengan demikian, kemandirian usaha terutama dibentuk oleh dukungan eksternal dan modal sosial, sedangkan pemanfaatan teknologi informasi berkontribusi tidak langsung melalui peningkatan kapasitas. Kemandirian tersebut tercermin dari kemampuan ASP Muda dalam mengelola sumber daya, mengambil keputusan strategis, dan mengembangkan usaha secara profesional serta berorientasi jangka panjang.
Peran ASP Muda sudah efektif, hasil ini, kapasitas dan kemandirian terbukti berpengaruh signifikan terhadap keefektifan peran ASP Muda sebagai agen perubahan di masyarakat petani. ASP Muda yang memiliki kemampuan teknis, manajerial, dan sosial yang baik mampu berperan sebagai penghubung (linker) antara petani dan pasar, sebagai motivator yang menginspirasi perubahan perilaku, serta sebagai fasilitator yang mendorong adopsi inovasi pertanian di tingkat komunitas. Di sisi lain, kemandirian usaha memperkuat legitimasi sosial dan meningkatkan kepercayaan dari petani lain, memungkinkan ASP Muda menjadi figur panutan dan penggerak perubahan di lingkungan pertaniannya. Kombinasi antara kapasitas dan kemandirian membentuk kepemimpinan transformasional yang menjadi kunci dalam membangun kepercayaan, partisipasi, dan semangat kolaborasi di kalangan petani.
Tingkat keberlanjutan usaha ASP Muda berada pada kategori rendah karena kapasitas dan kemandirian belum cukup kuat menopang usaha jangka panjang. Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa keefektifan peran ASP Muda sebagai agen perubahan berpengaruh signifikan terhadap keberlanjutan usaha. Pada dimensi ekonomi, peran berkontribusi terhadap produktivitas, diversifikasi usaha, dan perluasan akses pasar; pada dimensi sosial, peran ini memperkuat jejaring, solidaritas kelompok, dan partisipasi kolektif, serta pada dimensi lingkungan, ASP Muda mendorong praktik pertanian ramah lingkungan dan adaptasi iklim. Dengan demikian, keefektifan peran ASP Muda menjadi penghubung antara kapasitas dan kemandirian individu dengan keberlanjutan usaha pertanian secara kolektif. Oleh karena itu, penguatan peran ASP Muda memerlukan pengembangan kapasitas dan kemandirian yang terintegrasi denga kolaborasi lintas aktor, dukungan teknologi informasi, dan modal sosial agar berdampak berkelanjutan.
Strategi prioritas untuk penguatan peran ASP Muda sebagai agen perubahan di masyarakat petani perlu diarahkan terutama pada peningkatan kemandirian, sedangkan kapasitas dan modal sosial tetap dipertahankan karena keduanya sudah berada pada level yang kuat. Penguatan keefektifan peran ASP Muda merupakan titik ungkit yang paling utama, karena peran dijalankan secara efektif memperkuat hubungan antara kapasitas dan kemandirian, sehingga mampu mendorong keberlanjutan usaha yang lebih kuat. The declining number of productive farmers and the increasing proportion of elderly farmers pose a serious challenge to the sustainability of agricultural development in Indonesia. This condition occurs amid a demographic bonus that should present a strategic opportunity to increase youth engagement in the agricultural sector. However, limited access to resources, markets, and technology, along with low interest among young people, has slowed the process of farmer regeneration. In this context, a new generation of young Agrosociopreneurs (ASPs) has emerged as social entrepreneurs in agriculture with the potential to become agents of change through social innovation, collective leadership, and digital collaboration. Their presence is expected to accelerate farmer regeneration, bridge access gaps, and foster a more resilient and sustainable agricultural system.
This study aims to: (1) analyze the factors influencing the capacity and independence of young Agrosociopreneurs; (2) examine the influence of capacity and independence on their social roles; (3) analyze the impact of their effectiveness as change agents on farm business sustainability; and (4) formulate appropriate strategies to strengthen their role as agents of change within farming communities.
The research was conducted in West Java Province using a quantitative approach, with a survey complemented by qualitative descriptive data. The study population comprised 515 young Agrosociopreneurs in Cianjur and Subang Regencies, and 227 respondents were selected using cluster random sampling and the Slovin’s formula. The individual served as the unit of analysis. The research instrument - a structured questionnaire - had previously undergone validity and reliability testing, and all items were deemed valid and reliable. The study was conducted from September 2023 to September 2024, using both primary and secondary data. Primary data were collected through field observation, in-depth and structured interviews, and questionnaires, while secondary data were obtained from relevant documents. Data analysis employed descriptive and inferential statistics, and structural relationships among variables were tested using Partial Least Squares–Structural Equation Modelling (PLS-SEM) with SmartPLS software.
The results of the study indicate that external support and social capital are in the moderate category, while the intensity of information technology utilization is in the low category. Based on the results of the hypothesis test, all three variables have a significant effect on increasing the capacity of Young ASPs. External support includes access to training, mentoring, and financial assistance, which directly contribute to increasing technical, managerial, and entrepreneurial knowledge. The intensity of information technology utilization plays a role in strengthening capacity through increasing access to information, digital marketing, and business analysis skills, although it does not directly affect independence. Meanwhile, social capital, in the form of trust, cooperation, and networks between actors, has been shown to directly influence the capacity and independence of Young ASPs. Thus, business independence is primarily shaped by external support and social capital, while the use of information technology contributes indirectly through capacity building. This independence is reflected in the ability of Young ASPs to manage resources, make strategic decisions, and develop businesses professionally and with a long-term orientation.
The level of sustainability of Young ASP businesses is low because their capacity and independence are not yet strong enough to support long-term business. The research also shows that the effectiveness of Young ASP's role as agents of change has a significant impact on business sustainability. In the economic dimension, this role contributes to productivity, business diversification, and expanding market access; in the social dimension, this role strengthens networks, group solidarity, and collective participation; and in the environmental dimension, Young ASPs encourage environmentally friendly agricultural practices and climate adaptation. Thus, the effectiveness of Young ASP's role is a link between individual capacity and independence and the sustainability of collective agricultural businesses. Therefore, strengthening the role of Young ASPs requires integrated capacity development and independence with cross-actor collaboration, information technology support, and social capital to achieve sustainable impact.
The findings also indicate that the effectiveness of young Agrosociopreneurs’ social roles has a significant positive impact on agricultural business sustainability across three dimensions economic, social, and environmental. Economically, their roles enhance productivity, business diversification, and market access; socially, they strengthen farmer networks, group solidarity, and collective participation; and environmentally, they promote sustainable and climate-adaptive agricultural practices. Thus, the effectiveness of their social role serves as a bridge linking individual capacity and independence to the collective sustainability of farming enterprises, reinforcing farmers’ economic and social resilience. Strengthening the role of young Agrosociopreneurs as change agents requires developing their capacity and independence through multi-actor collaboration, information technology support, and social capital enhancement to achieve lasting impacts on agricultural systems and rural well-being.
Priority strategies for strengthening the role of Young ASPs as agents of change in farming communities should be directed primarily at increasing independence, while maintaining capacity and social capital, as both are already at a strong. Strengthening the effectiveness of the Young ASP’s role is the most important lever, as effectively executing the role strengthens the relationship between capacity and independence, thereby promoting stronger business sustainability.
Collections
- DT - Human Ecology [639]

