Efektivitas Puding Okra Hijau dalam Regulasi Protein TCF4 pada Orang Dewasa dengan Diabetes Melitus Tipe 2
Date
2026Author
Putriana, Armenia Eka
Damayanthi, Evy
Palupi, Eny
Nasution, Zuraidah
Handharyani, Ekowati
Metadata
Show full item recordAbstract
Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan kondisi yang dapat disebabkan multifaktor antara lain hiperglikemia kronis dan resistensi insulin. DMT2 tantangan kesehatan global yang memerlukan manajemen diet secara komprehensif yang dapat meningkatkan pengembangan dan pemanfaatan pangan fungsional. Dalam konteks pencarian terapi alternatif, okra hijau (Abelmoschus esculentus) telah diidentifikasi sebagai pangan fungsional yang berpotensi antidiabetes. Penelitian klinis terkait okra hijau dalam bentuk puding yang dikaitkan dengan regulasi protein TCF4 terhadap DMT2 belum pernah dilakukan, sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengkaji potensi efektivitas puding okra hijau sebagai antidiabetes melalui data dari hasil kajian literatur sistematis dengan metode meta analisis, in silico dengan metode penambatan molekular (molecular docking) dan intervensi pemberian puding okra hijau terhadap orang dewasa dengan DMT2.
Efek klinis okra hijau diperkuat oleh kajian sistematis yang dinyatakan melalui meta analisis bahwa intervensi pemberian okra hijau menunjukkan efek gabungan negatif yang signifikan pada glukosa darah puasa (GDP) di antara berbagai studi, meskipun memiliki heterogenitas yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, intervensi okra hijau berpotensi efektif dalam pengendalian GDP. Dilakukan analisis subgrup terkait bentuk okra hijau dan durasi intervensi sebagai analisis lanjutan. Bentuk okra hijau yang dikonsumsi pada intervensi adalah serbuk, ekstrak kapsul, biji dan kulit, buah direbus, buah dikukus dan air rendaman okra hijau. Durasi intervensi yang digunakan berdasarkan hasil dari meta analisis yaitu <2 minggu dan 12 minggu. Disimpulkan bahwa okra hijau yang dikukus menunjukkan effect size paling besar dalam pengendalian GDP (–1,761) dengan durasi intervensi yang relatif singkat yaitu <2 minggu.
Potensi antidiabetes pada puding okra hijau didukung oleh hasil dari kajian in silico dengan metode penambatan molekuler. Kajian molecular docking (penambatan molekular) menargetkan interaksi antara senyawa bioaktif okra dengan protein target patogenesis DMT2, yaitu Transcription Factor 4 (TCF4). Hasil komputasi menunjukkan bahwa senyawa kategori flavonoid, khususnya Tamarixetin dan Katekin, memiliki afinitas ikatan yang kuat dan stabil terhadap TCF4. Secara eksplisit, kedua senyawa tersebut menunjukkan nilai energi ikatan (?G) sebesar –7,1 kkal/mol.
Afinitas ikatan Tamarixetin dan Katekin sebesar –7,1 kkal/mol ini secara signifikan lebih kuat (lebih negatif) dibandingkan dengan ligan alami (protein ß-katenin) yang hanya sebesar –5,6 kkal/mol, maupun obat standar Metformin –4,5 kkal/mol. Temuan ini menyajikan hipotesis mekanisme molekuler di mana senyawa aktif okra berpotensi bertindak sebagai antagonis kompetitif, menekan sinyal Wnt yang patogenik melalui penghambatan pembentukan kompleks TCF4/ß-katenin. Analisis farmakokinetik (ADME) lebih lanjut menunjukkan bahwa flavonoid utama dalam okra memiliki prediksi absorpsi gastrointestinal yang tinggi dengan skor bioavailabilitas yang menjanjikan (0,55), mendukung kelayakan produk oral ini.
Puding okra hijau adalah produk pangan fungsional inovatif yang diformulasikan menggunakan varietas Naila IPB dan disajikan per porsi/100 g. Produk ini memiliki profil gizi yang rendah kalori ditandai oleh kandungan energi yang rendah (20 kal/100 g). Rendahnya kontribusi kalori ini sangat krusial bagi orang dewasa dengan DMT2 untuk membatasi asupan energi harian dan mendukung manajemen berat badan. Hasil uji klinis memperkuat temuan tersebut bahwa intervensi puding okra hijau berpotensi efektif secara statistik dalam mengendalikan kenaikan kadar glukosa darah secara signifikan. Selain itu, mekanisme perbaikan glukosa juga diusulkan melibatkan efek fisik dari serat yang memperlambat dinamika pengosongan lambung dan aksi biokimia dari antioksidan yang memengaruhi jalur insulin dan Wnt. Meskipun efektivitas puding okra hijau pada parameter GDP terbukti, perubahan perbaikan juga diamati pada HbA1c, tekanan darah, serta kadar protein TCF4 di kelompok intervensi. Namun, perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik. Diduga bahwa perubahan pada ekspresi protein TCF4 tidak cukup sensitif terhadap intervensi puding okra hijau dalam jangka pendek.
Puding okra hijau secara keseluruhan berhasil diidentifikasi dan memiliki potensi sebagai pangan fungsional antidiabetes yang aman, memiliki karakteristik fisik dan sensori yang dapat diterima, dan berpotensi mengendalikan kenaikan glukosa darah puasa. Potensi perbaikan yang diamati diindikasikan bahwa produk ini dapat memberikan manfaat metabolik, meskipun validasi statistiknya memerlukan penelitian lanjutan dengan durasi intervensi yang lebih lama.
Collections
- DT - Human Ecology [639]

