| dc.description.abstract | Jagung manis ungu (Zea mays saccharata) mengandung antosianin yang
mengandung aktivitas antioksidan dapat membantu mencegah penyakit
degeneratif, menjadikannya sebagai pangan fungsional yang berpotensi. Fruktosa
sebagai salah satu gula utama yang meningkatkan rasa manis dan penerimaan
konsumen. Sabut kelapa dan mikoriza dipilih karena kemampuannya yang dapat
meningkatkan ketersediaan hara tanah. Sabut kelapa menyediakan kalium untuk
pembentukan gula, sedangkan mikoriza meningkatkan ketersediaan fosfor dan
dapat mendukung sintesis antosianin. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi
pertumbuhan, hasil, kadar fruktosa, dan antosianin jagung manis ungu dengan
penambahan sabut kelapa dan mikoriza. Percobaan pada bulan Juni hingga
September 2025 di Kebun Percobaan Cikarawang Blok B, IPB, Bogor. Percobaan
menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak dua faktor yaitu sabut
kelapa dengan dosis 0, 500, 1000, dan 1500 kg ha?¹ dan mikoriza dengan dosis 0
dan 10 g per tanaman, masing-masing tiga ulangan. Peubah yang diamati meliputi
karakter vegetatif, panen, dan kualitas tongkol. Sabut kelapa secara signifikan
mempengaruhi indeks kehijauan daun, bobot tongkol, panjang tongkol, tingkat
kemanisan, fruktosa, dan aktivitas antioksidan, tetapi tidak mempengaruhi
antosianin. Perlakuan pupuk sabut kelapa dengan dosis 1000 kg ha-1 secara nyata
meningkatkan indeks kehijauan daun, bobot tongkol berkelobot, bobot tongkol
tanpa kelobot, dan panjang tongkol, namun, menurunkan tingkat kemanisan, kadar
gula total, kadar fruktosa, dan aktivitas antioksidan. Tingkat kemanisan jagung
masih di atas 12 Brix. Dosis optimum pupuk sabut kelapa diketahui sebesar 833
kg ha-1 yang menghasilkan bobot tongkol dan produktivitas tertinggi. Perlakuan
pupuk hayati mikoriza secara nyata meningkatkan presentase infeksi akar,
menunjukkan terjadinya simbiosis yang efektif antara cendawan dan akar
tanaman, namun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan, hasil
maupun kandungan antosianin. Interaksi dosis pupuk sabut kelapa dan pupuk
hayati mikoriza memberikan pengaruh nyata terhadap parameter laju fotosintesis,
panjang tongkol terpanjang diperoleh pada dosis tanpa mikoriza dan pupuk sabut
kelapa 1000 kg ha-1, dan gula total. Pupuk sabut kelapa lebih berpengaruh pada
fase produksi dibandingkan vegetatif karena membutuhkan waktu dekomposisi
lebih lama, oleh karena itu perlu dipertimbangkan waktu aplikasinya untuk
produksi jagung panen muda atau untuk panen biji kering. | |