Show simple item record

dc.contributor.advisorSumardjo
dc.contributor.advisorFatchiya, Anna
dc.contributor.advisorPurnaningsih, Ninuk
dc.contributor.authorSulistyorini, Henny
dc.date.accessioned2026-01-20T06:33:13Z
dc.date.available2026-01-20T06:33:13Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172169
dc.description.abstractMembangun resiliensi masyarakat miskin dan kelompok rentan, mengurangi paparan dan kerentanannya terhadap perubahan iklim, bencana ekonomi, sosial, serta lingkungan merupakan strategi mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yaitu dunia tanpa kemiskinan. Petani merupakan salah satu kelompok rentan sehingga perlu dikembangkan kemampuan resiliensinya. Petani resilien memiliki kemampuan tinggi dalam mengatasi persoalan pengelolaan usahanya, beradaptasi dengan berbagai perubahan dan melakukan perubahan agar usahanya lebih baik dengan menerapkan strategi nafkah berkelanjutan, integrasi sosial tinggi serta kemampuan tinggi dalam melestarikan tanaman kelapa. Petani resilien merupakan pondasi tumbuhnya kemandirian usaha, mereka mengambil keputusan yang tepat dalam pengelolaan usaha berdasarkan daya saring, saing dan sanding yang tinggi sehingga efisien. Efisiensi pengelolaan usaha akan berdampak pada keberlanjutan sumber daya dan dalam jangka panjang pengelolaan usaha kelapa mengalami peningkatan pendapatan, jumlah mitra dan diversifikasi produk. Pada perkembangannya, kemampuan resiliensi dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal petani. Komoditi kelapa (Cocos nucifera sp) di Provinsi Aceh saat ini rentan terhadap keberlanjutan usaha karena kehidupan petaninya terancam, akibat perubahan lingkungan strategis berupa degradasi luas areal tanam, usia tanaman semakin tua, perubahan orientasi kebijakan, persaingan komoditi, keterbatasan penyuluhan, fluktuasi harga, serta letak geografis Aceh rawan bencana. Pada hal kelapa merupakan sumber pangan dan pendapatan masyarakat, bahan baku industri, simbol budaya, dan konservasi wilayah pesisir pantai. Diduga, kondisi tersebut disebabkan oleh rendahnya kemampuan resiliensi petani, yang berhubungan dengan tingkat kemandiriannya. Literatur review menunjukkan, model hubungan antara kemampuan resiliensi dan kemandirian petani serta keberlanjutan usaha kelapa di Provinsi Aceh belum diteliti. Penelitian terdahulu fokus pada pengembangan komoditas kelapa dan belum menyentuh pengembangan kapasitas petaninya. Oleh sebab itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengisi kesenjangan tersebut. Tujuan utama penelitian ini ialah merumuskan model hubungan antara kemampuan resiliensi dan kemandirian petani serta keberlanjutan usaha kelapa, karakteristik individu, dukungan penyuluhan, peran penyuluh, fungsi kelompok tani, modal sosial dan peran ketua kelompok tani. Penelitian dirancang secara kuantitatif dengan metode survei di Kabupaten Simeulue, Aceh Besar dan Bireun, dengan jumlah sampel 277 petani, menggunakan data primer dan sekunder, analisis data secara deskriptif, evaluasi model logic, SEM PLS 3.0 dan IPMA. Hasil penelitian menunjukkan, tingkat resiliensi petani berkategori rendah (29,24), mengindikasikan petani belum mampu menerapkan strategi keberlanjutan nafkah yang tepat, belum memiliki integrasi sosial tinggi serta belum mampu melestarikan tanaman kelapa. Tingkat kemandirian berkategori rendah (39,94), mengindikasikan petani kelapa belum mampu mengambil keputusan dengan tepat berdasarkan daya saring, saing dan sanding yang tinggi dalam mengelola usahanya sehingga belum efisien. Keberlanjutan usaha kelapa cenderung redah (39,91), menunjukkan bahwa dalam jangka panjang pendapatan petani, jumlah produk olahan dan kemitraan usaha yang saling membutuhkan serta pengelolaan kebun sesuai praktik budidaya tanam yang baik cenderung stagnan atau menurun. Pengaruh langsung dan positif terjadi antara tingkat resiliensi terhadap kemandirian, dan kemandirian terhadap keberlanjutan usaha. Modal sosial berpengaruh langsung dan positif terhadap tingkat resiliensi, sementara tingkat kemandirian dipengaruhi secara langsung dan positif oleh kemampuan resiliensi, dukungan penyuluhan, fungsi kelompok tani dan peran ketuaya. Keberlanjutan usaha kelapa dipengaruhi secara langsung dan positif oleh karakteristik individu dan kemandirian. Peran penyuluh tidak berpengaruh terhadap kemampuan resiliensi, kemandirian dan keberlanjutan usaha, menunjukkan bahwa peran penyuluh dalam memotivasi dan memfasilitasi petani mengembangkan pengelolaan usaha belum mampu meningkatkan kemampuan resiliensi dan kemandiriannya. Prioritas pertama pengembangan keberlanjutan usaha kelapa ialah memperkuat modal sosial (jaringan dan kepercayaan sosial) antar petani, antara petani dengan penyuluh, pemerintah, kelompok tani, penyedia benih, penjual pupuk dan pelaku usaha lainnya. Prioritas kedua, meningkatkan kualitas metode dan media penyuluhan agar lebih partisipatif dan moderen, meningkatkan fungsi kelompok tani sebagai media belajar dan kerjasama antar petani dalam mengatasi persoalan. Prioritas ketiga, meningkatkan peran ketua kelompok tani dalam memotivasi anggota dan mengakses sumber daya untuk pengembangan usaha kelapa. Prioritas keempat menambah jumlah pohon dan luas areal tanam kelapa. Disimpulkan bahwa faktor eksternal modal sosial berpengaruh positif terhadap kemampuan resiliensi petani. Peningkatan modal sosial akan meningkatkan kemampuan resiliensi petani. Kemampuan resiliensi bersama faktor eksternal dukungan penyuluhan, fungsi kelompok tani dan peran ketuaya berpengaruh positif terhadap kemandirian. Peningkatan kemampuan resiliensi dan faktor-faktor tersebut akan meningkatkan kemandirian. Kemandirian bersama jumlah tanaman dan luas areal berpengaruh positif terhadap keberlanjutan usaha. Peningkatan kemandirian dan penambahan jumlah tanaman serta luas areal akan meningkatkan keberlanjutan usaha. Model hubungan antara kemampuan resiliensi, kemandirian, keberlanjutan usaha, karakteristik individu, dukungan penyuluhan, fungsi kelompok tani dan ketuaya serta modal sosial positif dan saling memengaruhi. Implikasi penelitian terletak pada pengembangan teori resiliensi dan penyuluhan, serta kontribusinya dalam perumusan kebijakan pengembangan kelapa. Novelty penelitian ini ialah: (1) kolaborasi teori resiliensi, kemandirian dan keberlajutan; (2) integrasi variabel kemandirian pada hubungan antara resiliensi dengan keberlanjutan usaha; (3) indikator pengukuran kemampuan resiliensi lebih komprhensif; (4) kompleksitas ancaman yang dihadapi petani; (5) metode penelitian kuantitatif diperkaya data kualitatif serta (6) model hubungan antara resiliensi, kemandirian, dan keberlanjutan usaha kelapa.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleResiliensi Petani Kelapa dalam Menghadapi Perubahan Lingkungan Strategis untuk Keberlanjutan Usaha di Provinsi Acehid
dc.title.alternativeCoconut Farmers’ Resilience in Facing Changes in the Strategic Environment for Business Sustainability in Aceh Province
dc.typeDisertasi
dc.subject.keywordKeberlanjutan Usahaid
dc.subject.keywordkemandirian petaniid
dc.subject.keywordModal Sosialid
dc.subject.keywordpenyuluhan pertanianid
dc.subject.keywordresiliensi petaniid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record