Show simple item record

dc.contributor.advisorAndriyanto
dc.contributor.advisorManalu, Wasmen
dc.contributor.advisorSutardi, Lina Noviyanti
dc.contributor.advisorSubangkit, Mawar
dc.contributor.authorSupiyani, Atin
dc.date.accessioned2026-01-19T11:51:01Z
dc.date.available2026-01-19T11:51:01Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172153
dc.description.abstractMukus bekicot Lissachatina fulica secara etnozoologi telah digunakan sebagai obat alamiah, namun efektivitasnya bergantung pada kandungan senyawa aktif hasil biosintesis makromolekul dari pakan yang dikonsumsi bekicot. Lissachatina fulica, sebagai detritivora, mengonsumsi materi organik yang dapat terkontaminasi dengan mikroplastik seperti polistirena. Penelitian ini bertujuan utama untuk mengkaji perubahan kandungan biomolekul dalam musin bekicot setelah diberi pakan berupa sampah organik dan polistirena. Perlakuan polistirena dipilih untuk menguji hipotesis bahwa paparan polistirena dapat mengubah jalur biosintesis musin dan memengaruhi penyerapannya, yang pada akhirnya berdampak pada efikasi dan keamanan produk hilirnya. Sebagai aplikasi lanjut, penelitian ini juga akan memvalidasi secara in vivo melalui uji keamanan dan efikasi sediaan krim musin pada model dermatitis atopik (DA) mencit. Penelitian tahap 1 meliputi standarisasi bahan baku dan perlakuan pakan pada bekicot, melalui identifikasi spesies dan budi daya bekicot Lissachatina fulica hingga stadia juvenil III, yang digunakan sebagai bekicot percobaan. Sebanyak 50 ekor bekicot juvenil III dibagi menjadi 2 kelompok pakan, yaitu pakan sampah organik (PO) (kacang panjang dan kulit melon) dan pakan sampah organik (kacang panjang dan kulit melon) kombinasi polistirena (POP) diberikan ad libitum selama 28 hari. Parameter meliputi pertumbuhan, karakteristik mukus, analisis proksimat pakan dan daging bekicot, serta analisis histologi sel mukus yang diwarnai dengan Periodic Acid Schiff-Alcian Blue (PAS-AB). Tahap 2 dilakukan analisis protein mukus dan network pharmacology (NP). Mukus di-freeze-dried pada suhu -53 ºC selama 72 jam menghasilkan musin. Protein musin diidentifikasi dengan LC-MS, dilanjutkan dengan analisis in silico menggunakan basis data bioinformatika (PubChem, SwissTargetPrediction, STRING) untuk memprediksi target protein dan interaksi protein-protein target. Visualisasi menggunakan software Cytoscape 3.10.4 untuk memprediksi mekanisme kerja protein musin. Kelompok musin bekicot dengan mekanisme terbaik dalam patogenesis DA akan dipilih dan digunakan dalam uji in vivo. Tahap 3 adalah uji in vivo, dimulai dengan pembuatan krim musin. Uji yang dilakukan meliputi uji toksisitas akut dermal (Fixed Dose Method dosis 0, 5, dan 10% selama 14 hari) dan uji efikasi pada dermatitis atopik (DA) yang diinduksi 2,4- dinitrochlorobenzena (DNCB) 1% pada mencit jantan strain BALB/c usia 2 bulan. Uji efikasi dilakukan pada lima kelompok perlakuan terdiri atas (1) kontrol negatif (DNCB); (2) kontrol positif (deksametason); (3) basis krim; (4) krim musin 5%; dan (5) krim musin 10% selama 7 hari. Parameter diukur pada hari ke-0, 3, 5, dan 7 meliputi penilaian skor Atopic Dermatitis Severity Index (ADSI), analisis histologi dermis, aktivitas imunologis (sel-sel peradangan, ekspresi interleukin-1b), dan profil hematologi. Data kuantitatif dianalisis dengan uji t-independen untuk pertumbuhan bekicot; dan data lainnya menggunakan uji Two-way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Tukey (p<0,05). Data kualitatif dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan kelompok POP memiliki pertambahan bobot dan konsumsi pakan lebih rendah dibandingkan kelompok PO (p<0,05). Analisis proksimat pakan POP mengandung protein dan lemak yang lebih rendah, namun memiliki serta kasar yang jauh lebih tinggi dari pakan PO. Sementara itu, proksimat daging bekicot menghasilkan peningkatan kadar protein dan lemak kasar pada kelompok POP. Karakteristik mukus kelompok POP lebih berpigmen, berbusa, dan memiliki viskositas serta pH yang lebih tinggi dibanding PO. Secara histologi, jumlah sel penghasil mukus pada kelompok POP rendah signifikan (p<0,05) pada area anterior-dorsal, anterior-ventral, dan posterior-ventral, dengan jumlah sekresi mukus asam di area dorsal dan mukus netral-asam di area ventral. Hasil analisis LC-MS menunjukkan bahwa pakan memengaruhi keragaman protein musin. Musin PO memiliki 61 protein dan 617 ligan protein yang lebih banyak dibandingkan musin POP (26 protein dan 291 ligan). Analisis network pharmacology (NP) musin PO memiliki mekanisme yang lebih kompleks dalam patogenesis DA. Dua jalur utama yang beririsan dengan patogenesis DA dan kerja deksametason yaitu CCL2 dan TNF. Tiga protein musin, yaitu macamide dan N-benzyloleamide menginhibisi jalur CCL2 dan eplerenone menginhibisi jalur TNF. Sementara itu, musin POP hanya melibatkan protein eplerenone sebagai inhibitor TNF. Hasil uji toksisitas akut dermal menunjukkan sediaan krim musin bekicot bersifat aman, tanpa menimbulkan gejala toksik seperti iritasi kulit, pembengkakan, tremor, atau perubahan bobot organ. Pada uji efikasi, kelompok deksametason dan musin bekicot menunjukkan penurunan skor ADSI di bawah 2 pada hari ke-5 (p<0,05) dibandingkan kelompok DNCB. Secara histologis, ketebalan lapisan epidermis kembali normal pada kelompok deksametason dan musin pada hari ke-7 (p<0,05). Analisis imunologi menunjukkan kelompok musin 5% meningkat signifikan jumlah sel makrofag dan sel mast pada hari ke-5 (p<0,05), serta terjadi peningkatan jumlah sel netrofil di atas nilai normal, sementara sel limfosit menurun pada hari ke-3 dan dalam kisaran normal (p<0,05). Ekspresi IL-1b menunjukkan perbedaan yang signifikan antarkelompok dan antarhari perlakuan (p<0,05). Berdasarkan hasil penelitian membuktikan bahwa pakan sampah organik-polistirena (POP) secara signifikan memengaruhi bekicot. Perlakuan ini tidak hanya menurunkan pertumbuhan dan memengaruhi karakteristik mukus, tetapi juga mengakibatkan perubahan pada komposisi dan jumlah protein dalam musin. Secara mekanistik, protein dalam musin bekicot dari kedua kelompok pakan (PO dan POP) dapat menginhibisi jalur CCL2 dan TNF yang berperan penting sebagai aktivator sel-sel peradangan dan apoptosis pada DA. Efikasi ini dibuktikan pada uji in vivo, bahwa pemberian krim musin bekicot menyebabkan penurunan cepat gejala klinis (skor ADSI < 2 pada hari ke-5). Respons ini sejalan dengan pola perbaikan dan resolusi inflamasi melalui aktivitas sel makrofag dan sel mast, serta ekspresi interleukin-1b pada jaringan kulit yang mengindikasikan respons imun cepat terhadap DA. Sementara itu, aktivitas sel netrofil dan limfosit merupakan bentuk respons inflamasi akut dan resolusi peradangan yang diinisiasi oleh musin. Secara keseluruhan, musin bekicot Lissachatina fulica yang diberi pakan sampah organik menghasilkan senyawa biomolekul yang efektif dan aman sebagai kandidat pengobatan topikal untuk dermatitis atopik.
dc.description.sponsorshipBPI, PPAPT Kemdiktisaintek dan LPDP
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleAktivitas Biomolekul Dan Formulasi Sediaan Antiinflamasi Dari Mukus Bekicot Lissachatina fulicaid
dc.title.alternative
dc.typeDisertasi
dc.subject.keywordCCL2id
dc.subject.keywordDermatitis Atopikid
dc.subject.keywordInterleukin-1Bid
dc.subject.keywordMusin Lissachatina fulicaid
dc.subject.keywordTNFid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record