Show simple item record

dc.contributor.advisorSlamet, Alim Setiawan
dc.contributor.advisorWulandari, Suci
dc.contributor.authorYULIANA, RADEN RORO RETNO RIZKI DINI
dc.date.accessioned2026-01-15T08:49:08Z
dc.date.available2026-01-15T08:49:08Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172113
dc.description.abstractAdopsi teknologi digital di sektor pertanian Indonesia masih rendah, terutama dalam pengelolaan rantai pasok alpukat. Teknologi digital pada bidang pertanian dapat dibedakan berdasarkan subsistemnya yaitu subsistem produksi, pasca panen, pemasaran, dan pendukung. Alpukat memiliki potensi pasar yang besar dan posisi Indonesia sebagai salah satu produsen utama dunia. Namun, distribusi alpukat domestik masih menghadapi tantangan besar, seperti ketergantungan petani pada pedagang pengepul, margin harga yang signifikan antara petani dan konsumen, serta rendahnya pemanfaatan teknologi digital oleh pelaku usaha. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan strategi digitalisasi pada rantai pasok alpukat guna meningkatkan efisiensi distribusi dan akses pasar produk alpukat. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis rantai pasok dan tingkat adopsi teknologi digital pelaku usaha dalam rantai pasok alpukat; 2) mengidentifikasi risiko digitalisasi dalam rantai pasok alpukat; serta 3) menyusun strategi digitalisasi rantai pasok buah alpukat yang terintegrasi. Penelitian ini dilakukan di Jawa Barat, pada bulan Februari hingga Mei 2025. Data dikumpulkan melalui wawancara, kuesioner, dan studi literatur. Selanjutnya data di analisis dengan beberapa metode yaitu analisis deskriptif untuk mengambarkan rantai pasok alpukat, analisis adopsi teknologi digital dengan SEM-PLS, identifikasi risiko dengan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), serta pengembangan strategi dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai pasok alpukat di Jawa Barat melibatkan 10 kelompok pelaku yang terlibat dimulai dari petani bibit hingga ke konsumen. Tingkat adopsi teknologi pelaku usaha dalam rantai pasok alpukat di Jawa Barat masih dibawah 30%. Terdapat 5 faktor adopsi yang memengaruhi penggunaan teknologi yaitu niat berperilaku, kebiasaan, pengaruh sosial, harapan usaha, serta penerimaan risiko. Beberapa risiko dalam digitalisasi rantai pasok alpukat yang teridentifikasi dalam kategori menengah hingga tinggi. Risiko-risiko tersebut diantaranya risiko kesalahan dalam pengoreparasian, terjadinya serangan siber dan kegagalan sistem, budaya lokal menghambat adopsi teknologi, pengawasan sistem digital yang lemah dari sisi hukum dan perbedaan regulasi, terjadinya kebocoran dan penyalahgunaan data, serta terjadinya penyalahgunaan dana atau kegagalan pengembalian pinjaman. Hasil analisis AHP menunjukkan bahwa alternatif strategi yang direkomendasikan untuk mencapai tujuan memperluas akses pasar yaitu fasilitasi kemitraan, pelatihan digital marketing dan Big data, serta fasilitasi pembiayaan.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleSTRATEGI DIGITALISASI RANTAI PASOK ALPUKAT DI JAWA BARATid
dc.title.alternative
dc.typeTesis
dc.subject.keywordakses pasarid
dc.subject.keywordalpukatid
dc.subject.keywordDigitalisasiid
dc.subject.keywordDistribusiid
dc.subject.keywordrantai pasokid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record