Persepsi Petani terhadap Penerapan Sistem Jajar Legowo pada Kelompok Tani Sukatani di Desa Tukdana
Abstract
Sistem jajar legowo menawarkan keunggulan yang signifikan, namun
penerapannya di kalangan petani di Kabupaten Indramayu, termasuk Desa
Tukdana, masih terbatas. Penelitian bertujuan menganalisis persepsi petani
terhadap sistem Jajar Legowo pada budidaya padi Kelompok Tani Sukatani
di Desa Tukdana serta hubungan antara persepsi petani dengan karakteristik
petani (umur, pendidikan, dan luas lahan). Penelitian dilaksanakan pada
September 2024 - Desember 2025 dengan 30 responden petani padi
menggunakan mixed method melalui observasi, wawancara, dan kuesioner
skala likert mengenai pengetahuan dan sikap yang dikonstruksi menjadi
variabel persepsi. Hasil menunjukkan bahwa pengetahuan petani terhadap
jajar legowo masih terbilang rendah, sikap pada kategori sedang, serta
terdapat korelasi positif signifikan antara pengetahuan dan sikap sebesar r =
0,609. Persepsi berkorelasi sangat lemah dengan umur (r = 0,346 ; p > 0,05)
dan pendidikan (r = -0,310; p > 0,05), namun memiliki hubungan signifikan
dengan luas lahan (r = 0,458; p < 0,05). Uji regresi sederhana menunjukkan
bahwa luas lahan berpengaruh signifikan terhadap persepsi (p= 0,011),
sedangkan umur (p = 0,061) dan pendidikan (p= 0,095) tidak berpengaruh
nyata. Faktor pendukung utama pembentukan persepsi yang lebih baik
meliputi penyuluhan aktif, petani pelopor, dan kemudahan akses informasi,
sementara penghambatnya adalah rendahnya kehadiran penyuluhan,
kebiasaan konvensional, dan minimnya dukungan program khusus. The Jajar Legowo planting system offers significant advantages, yet its
adoption among farmers in Indramayu Regency, including those in Tukdana
Village, remains limited. This study aims to analyze farmers’ perceptions of
the Jajar Legowo system in rice cultivation within the Sukatani Farmers’
Group in Tukdana Village, as well as examine the relationship between
farmers’ perceptions and their characteristics (age, education level, and land
size). The research was conducted from September 2024 to December 2025
with 30 rice farmers as respondents, using a mixed-methods approach through
observation, interviews, and Likert-scale questionnaires measuring
knowledge and attitudes, which were constructed into the perception variable.
The findings indicate that farmers’ knowledge of the Jajar Legowo system
remains relatively low, their attitudes fall into the moderate category, and
there is a significant positive correlation between knowledge and attitude (r=
0,609). Farmers’ perceptions show a very weak correlation with age (r=
0,346; p > 0,05) and education (r = -0,310; p > 0,05), but a significant
relationship with land size (r= 0,458; p < 0,05). A simple regression test
further shows that land size significantly influences perception (p= 0,011),
while age (p= 0,061) and education (p= 0,095) have no significant effect.
Supporting factors for positive perceptions include active agricultural
extension, the presence of pioneer farmers, and accessible information,
whereas inhibiting factors consist of low attendance in extension activities,
strong conventional farming habits, and limited program support.
