| dc.contributor.advisor | Sugema, Iman | |
| dc.contributor.advisor | Sahara | |
| dc.contributor.author | Azzahra, Latifah Fajrin | |
| dc.date.accessioned | 2026-01-05T06:18:56Z | |
| dc.date.available | 2026-01-05T06:18:56Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171950 | |
| dc.description.abstract | Ketahanan pangan merupakan isu strategis yang mencakup ketersediaan,
aksesibilitas, pemanfaatan, dan stabilitas pangan, di mana stabilitas harga beras
memegang peran penting. Sebagai pangan pokok utama di Indonesia, dinamika
harga beras berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan masyarakat dan stabilitas
ekonomi. Selama periode 2017–2024, harga beras di Pulau Jawa mengalami
fluktuasi dengan kecenderungan meningkat akibat faktor iklim, distribusi, struktur
pasar, serta kebijakan pemerintah, yang pada akhirnya memicu disparitas harga
antarwilayah.
Penelitian ini menganalisis keterhubungan harga beras di 28 kabupaten/kota
di Pulau Jawa menggunakan model Vector Autoregressive dengan regularisasi
Elastic Net (VAR–ENET) dan pendekatan Spillover Index Diebold–Yilmaz.
Analisis dilakukan secara statis untuk menggambarkan keterhubungan rata-rata,
serta secara dinamis (rolling window) untuk menangkap perubahan pola
keterhubungan antarwilayah. Seluruh tahapan analisis diimplementasikan melalui
pemrograman mandiri menggunakan EViews 13.
Hasil analisis statis menunjukkan bahwa harga beras antarwilayah di Pulau
Jawa saling terhubung dengan tingkat keterhubungan moderat, tercermin dari nilai
Total Spillover Index (TSI) sebesar 17,6 persen. Analisis directional dan net
spillover mengindikasikan adanya hubungan yang asimetris, di mana Kota Serang,
Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Bekasi, dan Kota Kediri
berperan sebagai net transmitter, sedangkan Kabupaten Banyumas, Kabupaten
Kudus, Kabupaten Cirebon, Kota Tegal, dan Kota Tasikmalaya merupakan net
receiver utama yang relatif lebih rentan terhadap guncangan eksternal.
Analisis dinamis menunjukkan bahwa keterhubungan harga beras bersifat
tidak stabil dan berkembang dalam tiga fase, mulai dari keterhubungan yang lemah
dan bersifat lokal, peningkatan integrasi antarwilayah, hingga periode dengan
tingkat keterhubungan tertinggi yang ditandai oleh penguatan hubungan bilateral
serta meningkatnya konektivitas wilayah Jawa bagian tengah dan timur. Temuan
ini menunjukkan bahwa peran wilayah sebagai transmitter dan receiver bersifat
dinamis dan dipengaruhi oleh kondisi pasokan, distribusi, musim panen, serta
kebijakan pemerintah.
Secara keseluruhan, pasar beras di Pulau Jawa menunjukkan tingkat integrasi
yang semakin kuat namun tetap rentan terhadap guncangan eksternal. Pendekatan
VAR–ENET dan analisis spillover memberikan gambaran komprehensif mengenai
mekanisme keterhubungan harga dan dapat menjadi dasar perumusan kebijakan
stabilisasi harga yang lebih adaptif. | |
| dc.description.abstract | Food security is a strategic issue encompassing the dimensions of availability,
accessibility, utilization, and stability, in which rice price stability plays a crucial role.
As the primary staple food in Indonesia, rice price dynamics directly affect household
welfare and macroeconomic stability. Over the period 2017–2024, rice prices across
Java Island exhibited fluctuations with an upward trend, driven by climatic conditions,
distribution efficiency, market structure, and government policies, resulting in
interregional price disparities.
This study examines rice price connectedness across 28 regencies and cities on
Java Island using a Vector Autoregressive model with Elastic Net regularization
(VAR–ENET) combined with the Diebold–Yilmaz spillover index approach. The
analysis is conducted using both static and dynamic frameworks: static analysis
captures average connectedness over the sample period, while dynamic (rolling
window) analysis explores the time-varying evolution of interregional price linkages.
All analytical procedures are implemented through self-programmed routines in
EViews 13.
The static results indicate a moderate level of interregional rice price
connectedness, as reflected by a Total Spillover Index (TSI) of 17.6 percent.
Directional and net spillover analyses reveal asymmetric relationships, where Serang
City, Karanganyar Regency, Tasikmalaya Regency, Bekasi City, and Kediri City act
as net transmitters of price shocks, while Banyumas Regency, Kudus Regency, Cirebon
Regency, Tegal City, and Tasikmalaya City serve as major net receivers and are more
vulnerable to external disturbances.
Dynamic analysis shows that rice price connectedness is time-varying and
evolves through three distinct phases: an initial phase characterized by weak and
localized linkages, a subsequent phase of increasing interregional integration, and a
final phase marked by the highest level of connectedness, including strengthened
bilateral relationships and enhanced connectivity across central and eastern Java. These
findings suggest that the roles of regions as transmitters or receivers of price shocks are
not fixed but change in response to supply conditions, distribution efficiency, harvest
cycles, and government policies.
Overall, the rice market in Java Island exhibits increasing integration while
remaining susceptible to external shocks. The combined VAR–ENET and spillover
framework provides a comprehensive understanding of rice price connectedness and
offers valuable insights for designing more adaptive and responsive price stabilization
policies. | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Analisis Keterhubungan Pergerakan Harga Beras di Pulau Jawa: Pendekatan Var dan Spillover Diebold-Yilmaz | id |
| dc.title.alternative | | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | keterhubungan pasar | id |
| dc.subject.keyword | spillover index | id |
| dc.subject.keyword | var-enet | id |
| dc.subject.keyword | pulau jawa | id |