| dc.description.abstract | Kacang tanah (Arachis hypogaea) merupakan salah satu tanaman pangan penting di Indonesia. Namun, produksi kacang tanah banyak hambatannya, antara lain kualitas benih, teknik budi daya yang tidak optimal, pengelolaan pasca panen, serangan hama dan infeksi patogen. Patogen penting pada tanaman kacang tanah antara lain Sclerotium rolfsii, Puccinia arachidis dan Peanut mottle virus di Indonesia, menyebabkan kehilangan hasil yang signifikan. Pengelolaan penyakit kacang tanah masih mengandalkan pestisida kimiawi, sehingga perlu dikaji kemampuan agens hayati seperti cendawan endofit dan fitokimia dalam pengelolaan penyakit penting pada kacang tanah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan cendawan endofit asal gulma dan asap cair dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dalam mengendalikan Sclerotium rolfsii dan Puccinia arachidis secara in vitro dan kemampuan asap cair dalam menekan infeksi mekanis virus belang kacang tanah.
Isolat cendawan endofit yang digunakan yaitu AR31D (Fusarium proliferatum), BR32C (Trichoderma asperellum), VNTB1 (Chaetomium sp.) dan EAGS14 (Curvularia lunata). Patogenisitas cendawan endofit terhadap benih diuji dengan parameter indeks vigor dan daya berkecambah. Aktivitas antimikrob cendawan endofit terhadap S. rolfsii diuji dengan metode dual culture, dengan parameter yang diamati diameter dan persentase penghambatan pertumbuhan cendawan.
Pengujian antimikrob asap cair TKKS terhadap S. rolfsii diuji dilakukan dengan metode peracunan media. Parameter yang diamati diameter cendawan dan persentase penghambatan untuk menentukan EC50 (effective concentration 50%) asap cair TKKS. Konsentrasi asap cair dianalisis dengan program Polo Plus berdasarkan EC50 dan didapatkan konsentrasi uji berturut-turut 0,1%; 0,5%; 1%; 1,2% dan 1,4%. Fitotoksisitas asap cair terhadap benih diuji menggunakan blotter test dan uji kertas gulung berdiri dalam plastik (UKDdP). Parameter yang diamati jumlah benih sehat dan sakit, sedangkan UKDdP diamati indeks vigor dan daya berkecambah. Penghambatan perkecambahan uredospora P. arachidis diuji dengan meneteskan asap cair langsung pada uredospora dan diamati persentase perkecambahan spora.
Potensi asap cair TKKS dalam menekan virus belang kacang tanah di rumah kaca dilakukan dengan perlakuan benih dan penyemprotan asap cair ke daun sebelum dan setelah inokulasi virus. Parameter yang diamati masa inkubasi, tipe gejala, insidensi penyakit, skor keparahan penyakit, titer virus, tingkat hambatan relatif (THR), dan aktivitas enzim peroksidase.
Secara umum pengaruh cendawan endofit terhadap perkecambahan benih kacang tanah lebih baik dibandingkan kontrol tergantung spesies endofit. Perkecambahan tertinggi ditunjukkan oleh endofit F. proliferatum sebesar 72%. Aktivitas antimikrob cendawan endofit Chaetomium, C. lunata, F. proliferatum, dan T. asperellum terhadap S. rolfsii menunjukkan mampu menghambat pertumbuhan S. rolfsii berturut-turut sebesar 31%; 43%; 46%; 53% dibandingkan kontrol.
Asap cair TKKS pada konsentrasi 1,2% dan 1,4% menunjukkan daya kecambah, indeks vigor dan pertumbuhan kecambah terbaik diantara konsentrasi lainnya dan kontrol. Pada konsentrasi asap cair 1,2% dan 1,4% menunjukkan mampu menghambat pertumbuhan S. rolfsii secara signifikan dibandingkan dengan kontrol. Asap cair TKKS pada konsentrasi 0,1% menunjukkan mampu menghambat perkecambahan uredospora P. arachidis sampai 100% pada 24 jam dan 48 jam setelah perlakuan dibandingkan kontrol.
Asap cair TKKS yang diaplikasikan sebelum dan setelah inokulasi virus belang mampu memperpanjang masa inkubasi, menurunkan keparahan penyakit, dan titer virus melalui peningkatan aktivitas enzim peroksidase. Hal ini membuktikan bahwa asap cair TKKS sebagai fitokimia prospektif untuk mengendalikan patogen tanaman. | |