Show simple item record

dc.contributor.authorHeryatno, Yayat
dc.contributor.authorSetiawan, Budi
dc.contributor.authorMardatillah, Mutiah
dc.contributor.authorAdinta, Afifah Hasya Putri
dc.contributor.authorNisya, Karin Zikra
dc.date.accessioned2025-12-31T06:32:47Z
dc.date.available2025-12-31T06:32:47Z
dc.date.issued2025-12
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171918
dc.description.abstractProgram peningkatan ketahanan pangan merupakan prioritas utama dalam pembangunan di Indonesia. Pencapaian ketahanan pangan nasional yang diawali dengan perwujudan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Negara atau wilayah dapat dikatakan mempunyai ketahanan pangan yang baik jika mampu menyelenggarakan pasokan pangan yang stabil dan masing-masing rumah tangga mampu memperoleh pangan sesuai kebutuhannya. Dengan demikian, terdapat suatu jaminan bagi seluruh penduduk untuk memperoleh pangan dan gizi yang cukup untuk menghasilkan generasi yang sehat dan cerdas. Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan (Undang-undang Pangan No.18 Tahun 2012). Pemantapan ketahanan pangan merupakan salah satu fokus dari pembangunan nasional yang dilaksanakan di setiap daerah. Perwujudan ketahanan pangan dapat dicapai melalui empat pilar yaitu: (1) ketersediaan pangan; (2) cadangan pangan; (3) penganekaragaman konsumsi pangan; dan (4) pencegahan dan penanggulangan masalah pangan. Dengan demikian, ketersediaan pangan wilayah merupakan prasyarat terwujudnya ketahanan pangan penduduk. Situasi ketersediaan pangan menunjukkan jumlah dan jenis pangan yang tersedia untuk penduduk yang akan mengalami variasi dari waktu ke waktu maupun antara satu tempat dengan tempat lain. Hal tersebut sangat tergantung pada kondisi lingkungan baik politik, iklim, jenis tanah, teknologi pertanian, cara penyimpanan pangan, sarana transportasi dan pemasaran. Neraca Bahan Makanan (NBM) merupakan salah satu instrumen data statistitik yang dapat memberikan informasi mengenai situasi ketahanan pangan di suatu wilayah, khususnya untuk aspek ketersediaan pangan, baik di tingkat nasional maupun provinsi dan kabupaten/kota. Melaui analisis situasi ketersediaan pangan secara kuantitatif dengan menggunakan NBM yang memberikan informasi mengenai data produksi, pengadaan serta semua perubahan yang terjadi di suatu wilayah dapat diketahui sejauh mana kondisi bahan makanan yang tersedia dan siap untuk dikonsumsi penduduk. ...id
dc.language.isoidid
dc.publisherDepartemen Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia IPB Universityid
dc.titleLaporan Akhir : Penyusunan Neraca Bahan Makanan Kota Bekasiid
dc.typeArticleid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record