| dc.description.abstract | Lebah Apis dorsata merupakan lebah madu terbesar dalam genus Apis. Lebah
A. dorsata memiliki distribusi yang luas, dapat ditemukan di Asia Tenggara, Asia
Selatan dan Asia Timur. Indonesia menawarkan kondisi yang sangat ideal untuk
mempelajari variasi intrapopulasi dari spesies yang tersebar luas. Tiga pulau yang
berbeda yaitu Sumatera, Belitung dan Kalimantan merupakan bagian dari
Sundaland yang terbentuk akibat dari naiknya permukaan laut terpisah menjadi
beberapa pulau. Terpisahnya pulau menyebabkan isolasi geografis antar populasi
yang berdampak pada perbedaan lingkungan lokal, vegetasi dan sumber pakan,
sehingga terjadi variasi morfometrik pada spesies yang dulunya berada pada
populasi yang sama. Ketiga pulau memiliki karakteristik geografis dan ekologi
yang unik yang dapat menjadi representasi yang baik untuk mengamati isolasi
geografis dan perbedaan lingkungan yang mempengaruhi populasi A. dorsata.
Metode yang digunakan adalah morfometrik tradisional. Metode ini
dilakukan untuk menganalisis adanya variasi ukuran bagian tubuh secara kuantitatif
pada organisme. Di Indonesia, penelitian mengenai morfometrik khususnya pada
lebah A. dorsata masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan
untuk membandingkan persamaan dan perbedaan morfometrika lebah A. dorsata
asal Sumatera Selatan, Belitung dan Kalimantan Barat.
Penelitian ini menggunakan 120 individu dari 12 koloni lebah A. dorsata yang
berasal dari provinsi Sumatera Selatan, Belitung dan Kalimantan Barat.
morfometrik tradisional menggunakan 23 karakter morfometrik yang mencakup 6
bagian yaitu panjang tubuh (PTB), bagian kepala yaitu panjang proboscis (PP),
panjang kepala (PK), lebar kepala (LK), panjang mata majemuk (PMM), lebar mata
majemuk (LMM), jarak antar ocelli (JAO), jarak antar socket antenna (JSA). Bagian
toraks yaitu panjang toraks (PT) dan lebar toraks (LT). Bagian abdomen yaitu
panjang abdomen (PA) dan lebar abdomen (LA). Bagian sayap yaitu panjang sayap
depan (PSD), lebar sayap depan (LSD), panjang sayap belakang (PSB), lebar sayap
belakang (LSB), jumlah hamuli (JH). Bagian tungkai yaitu panjang metafemur
(PMF), panjang metatibia (PMTI), panjang metatarsus (PMTA) dan lebar
metatarsus (LMTA).
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa populasi lebah A. dorsata dari tiga
pulau terdapat perbedaan morfometrik yang nyata (12 dari 23 parameter signifikan
antar populasi). Terdapat perbedaan ukuran parameter morfometrik yang signifikan
antara populasi Sumatera Selatan dan Belitung untuk 11 parameter seperti panjang
tubuh (PTB), panjang proboscis (PP), lebar mata majemuk (LMM), jarak antar
ocelli (JAO), jarak socket antenna (JSA), lebar toraks (LT), panjang tergit 3 (PT3),
panjang tergit 4 (PT4), panjang sayap depan (PSD), panjang sayap belakang (PSB)
dan panjang metatarsus (PMTA). Perbedaan yang ditunjukkan pada beberapa
parameter morfometrik menunjukkan adanya variasi antar lokasi dimana 50% dari
parameter yang diukur memiliki perbedaan yang signifikan.
Bagian kepala parameter morfometrik, seperti parameter morfometrik
panjang proboscis lebih tinggi di Belitung dibandingkan dua tempat lainnya.
Proboscis yang lebih panjang memiliki peran penting dalam efisiensi foraging.
Nilai rata-rata ukuran parameter morfometrik lebah lebih tinggi di Sumatera Selatan
dibandingkan dengan individu dari Belitung dan Kalimantan Barat (16 dari 23
parameter morfometrik) seperti panjang kepala (PK), lebar kepala (LK), panjang
mata majemuk (PMM), lebar mata majemuk (LMM), jarak antar ocelli (JAO),
panjang toraks (PT), lebar toraks (LT), panjang abdomen (PA), panjang tergit 3
(PT3), panjang tergit 4 (PT4), panjang sayap depan (PSD), panjang sayap belakang
(PSB), lebar sayap belakang (LSB), jumlah hamuli (JH), panjang metatibia (PMTI)
dan panjang metatarsus (PMTA). Keberadaan komunitas tumbuhan yang lebih
bervariasi dan kaya di Sumatera Selatan ini kemungkinan besar mendukung variasi
morfometrik pada populasi lebah dari wilayah tersebut. | |