Show simple item record

dc.contributor.advisorRachmina, Dwi
dc.contributor.advisorFariyanti, Anna
dc.contributor.authorFadillah, Ayu
dc.date.accessioned2025-08-07T06:30:14Z
dc.date.available2025-08-07T06:30:14Z
dc.date.issued2025
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/166946
dc.description.abstractPadi (oryza sativa l.) merupakan tanaman pangan terpenting di Indonesia karena menjadi makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat. Untuk menjaga ketahanan pangan nasional, produksi padi harus stabil dan berkelanjutan. Namun, pada kenyataannya, produksi padi di Indonesia sering menghadapi berbagai tantangan seperti perubahan iklim serta serangan hama dan penyakit yang menyebabkan hasil panen berfluktuasi. Fluktuasi hasil panen ini menunjukkan adanya risiko produksi yang perlu diperhatikan oleh petani. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas padi sekaligus menjaga optimalisasi budidaya adalah dengan memanfaatkan teknik padi salibu. Padi salibu adalah teknik budidaya padi dengan memanfaatkan batang sisa panen untuk menghasilkan tunas baru tanpa harus melakukan olah tanah ulang dan tanpa menanam bibit baru. Teknik padi salibu dinilai lebih hemat waktu, tenaga kerja, dan dapat meningkatkan jumlah panen dalam satu tahun. Rata-rata produktivitas padi salibu mencapai sekitar 3-6 ton gabah per hektar per tahun. Kabupaten Tanah Datar merupakan salah satu daerah yang sudah banyak menerapkan teknik budidaya padi salibu. Meskipun memiliki banyak keunggulan, budidaya padi salibu juga memiliki risiko produksi yang berbeda dibandingkan budidaya padi non salibu. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat risiko produksi pada padi salibu dibandingkan dengan padi non salibu, serta faktor-faktor apa saja yang memengaruhi risiko tersebut. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, dengan jumlah responden sebanyak 129 orang petani, terdiri atas 79 petani padi salibu dan 50 petani padi non salibu. Perbedaan jumlah responden antara petani padi salibu dan padi non salibu disebabkan oleh populasi petani padi salibu yang lebih banyak di lokasi penelitian. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan koefisien variasi (CV) untuk menganalisis tingkat risiko, serta model regresi linier berganda dengan pendekatan Just and Pope untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh. Hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien variasi (CV) usahatani padi salibu sebesar 0,4, sedangkan padi non salibu sebesar 0,2. Hal ini menunjukkan bahwa risiko produksi padi salibu lebih tinggi dibandingkan padi non salibu. Produksi padi salibu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti luas lahan dan jumlah tenaga kerja. Luas lahan yang lebih besar dan tenaga kerja yang cukup dapat meningkatkan hasil produksi. Sementara itu, produksi padi non salibu dipengaruhi oleh luas lahan, pestisida, dan pupuk ponska. Penggunaan benih yang berlebihan dan tenaga kerja yang tidak dikelola dengan baik justru dapat meningkatkan risiko produksi padi salibu. Sebaliknya, penggunaan pupuk ponska dan pengalaman berusahatani dapat membantu menurunkan risiko produksi padi salibu. Namun, risiko produksi padi non salibu hanya dipengaruhi oleh faktor luas lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko produksi padi salibu lebih tinggi dibandingkan dengan padi non salibu. Hal ini berarti hasil panen padi salibu lebih bervariasi dan jika tidak dikelola dengan baik dapat berpotensi menimbulkan kerugian. Penelitian ini menunjukkan bahwa teknik padi salibu dapat memberikan hasil panen yang lebih banyak dalam satu siklus tanam karena memungkinkan petani untuk melakukan panen hingga tiga kali. Meskipun demikian, keberhasilan budidaya padi salibu sangat bergantung pada pengetahuan petani dalam mengelola risiko. Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa variabel pengalaman berusahatani berpengaruh signifikan dalam mengurangi risiko. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari pemerintah dan penyuluh pertanian untuk memberikan bimbingan, pelatihan, serta bantuan input produksi yang berkualitas seperti benih unggul, pupuk, dan pestisida yang terjangkau. Selain itu, adanya forum diskusi antar petani juga penting agar petani dapat saling bertukar pengalaman dan solusi dalam menghadapi kendala di lapangan. Dengan manajemen risiko yang baik dan dukungan kebijakan yang tepat, budidaya padi salibu di Kabupaten Tanah Datar diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan produksi padi dan mendukung ketahanan pangan daerah maupun nasional.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleRisiko Produksi Usahatani Padi Teknik Salibu dan Non Salibu di Kabupaten Tanah Datar Sumetara Baratid
dc.title.alternativeProduction Risk of Rice Farming Using salibu and Non Salibu Techniques in Tanah Datar Regency, West Sumatra
dc.typeTesis
dc.subject.keywordrisiko produksiid
dc.subject.keywordteknik budidayaid
dc.subject.keywordpadi salibuid
dc.subject.keywordusahatani padiid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record