Show simple item record

dc.contributor.authorHakim, Arief Rakhman
dc.date.accessioned2010-05-08T08:16:50Z
dc.date.available2010-05-08T08:16:50Z
dc.date.issued2003
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/16418
dc.description.abstractBambu merupakan salah satu jenis tanaman yang cepat tumbuh dan dapat dipanen pada umur sekitar 3·5 tabun. Bambu merupakan tumbuhan yang dapat tumbuh di berbagai tempat, oleh karena itu potensi bambu di Indonesia sangat besar. Bambu merupakan tumbuhan serbaguna karena dapat memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup masyarakat (Noermalicha, 2001). Sebagai bahan bangunan bambu banyak digunakan di daerah pedesaan. Selain penggunaan bambu yang biasa dilakukan masyarakat yang pada umumnya merupakan cara·cara tradisional, pemanfaatan bambu secara teknis juga beragam seperti : tiang, balok. lantai. dinding, struktur atap dan atap, pintu dan jendela, langit·langit, tangga. dinding penaban tanah dan lain sebagainya (Surjokusumo dan Nugrobo. 1994). Sementara itu perlcembangan jumlah penduduk mengakibatkan naikoya kebutuhan perumahan yang juga berarti meningkatnya kebutuhan akan kayu. Kebutuhan kayo yang berlebihan akan menyebabkan penebangan kayu hutan dalam jumlah banyak dan membahayakan kelestarian hutan. oleh karena itu perlu dicarikan bahan pengganti kayu dari hutan (Idris et al., 1994). Salah satu upaya untuk mendapatkan jawabannya adalah pemanfaatan keunggulan·keunggulan bambu yaitu dengan teknologi laminasi bambu. Teknologi laminasi bambu inipun semakin berkembang mulai dari laminasi bambu untuk keperluan meubell furniture dan kerajinan tangan yang masih berupa bentukan batang lurus sampai pembuatan laminasi melengkung. Perkembangan teknologi bambu ini menjadi lebib mengekspresikan estetika, arsitektur dan bahkan keindahannya (Noermalicha, 2001). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Keteknikan Kayo, Laboratorium Kayu Solid Fakultas Kehutanan IPB dan di Bengkel Kayu Sinar Bogor dengan waktu penelitian yaitu dari bulan September 2002 sampai dengan Iuli 2003. Penelitian ini mempunyai dua tujuan utama yaitu pertama untuk mengetabui pengaruh perbedaan bentuk laminasi bambu yaitu pada laminasi melengkung dan Iaminasi lurus terhadap sifat· sifat mekanik balok laminasi itu sendiri. Kedua untuk mengetahui pengarub perbedaan jenis lasan dan bentuk laminasi yang digunakan, lasan tunggal (single reinforcement layer) dan lasan ganda (double reinforcement layers), terhadap kekakuan dan besamya beban maksimum balok laminasi pada sambungan miring. Data yang diambil adalab nilai kekakuan bahanl Modulus of Elasticity (MOE), tegangan maksimwnl Modulus of Rupture (MaR), keteguhan tekan dan keteguban geser rekat. Perlakuan yang diteliti adalah bentukan balok laminasi yaitu lurus dan melengkung dan jenis lapisan penguat/ lasan yaitu lasan tunggal dan lasan ganda untuk pengujian MOE dan MOR. Untuk pengujian keteguhan tekan dan keteguhan geser rekat maka variabel yang diteliti ditambah variabel ke-3 yaitu jenis perekat (po/yvinil acetate dan epoksi) untuk keteguhan geser rekat dan posisi penekanan (sejajar serat dan tegak lurns serat) untuk keteguhan tekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balok bentukan lurus mempunyai kekakuan lebih besar dari pada balok bentukan melengkung dengan rata-rata nilai MOE masing-masing 15110 N/mml dan 8410 N/mm2 • Sedangkan lasan tunggal dan lasan ganda secara statistik mempunyai kekakuan yang sama dengan masing-masing nilainya sebesar 10370 Nlmm2 dan 13130 N/mml. Selanjutnya nilai koefisien determinasi variabel bentukan dan variabellasan terhadap kekauan sebesar 74 %. Ini berarti 74 % dari kedua variabel tersebut dapat untuk menentukanl menjelaskan keragaman dari data-data MOE dan cukup mewakili variabel-variabel penentu )ainnya. Kemudian secara umum nilai kekakuan berurutan meningkat dari kombinasi, melengkung-tunggal. melengkung-ganda, lurus-tunggal, lurusganda dengan masing-masing nilai adalah 6610 N/mml. 10220 N/mml • 14140 N/mm1 , 16060 N/mm2 • Selanjutnya tegangan maksimum dengan lapisan penguat ganda lebih besar dari pada lapisan penguat tunggal dengan masing-masing nilai 35,3 N/mm1 dan 45,5 N/mml. Sedangkan tegangan maksimum bentukan lurus dan melengkung seeara statistik tidak berbeda karena dalam hal ini terjadi kerusakan awal dan kerusakan akhir. Nilai koefisien determinasi untuk tegangan maksimum yaitu besamya 41.6 %, ini berarti faktor bentukan dan lapisan penguat kurang dapat menentukan tegangan maksimum balok laminasi karena 58,4 % dijelaskan oleh faktor Jainnya. Secara umwn Behan maksimwn berurutan meningkat dari kombinasi melengkung-tunggal, melengkung-ganda, lurnstunggal. lurns-ganda dengan masing-masing nilai adalah 33,7 N/mml; 36.9 N/mm2 ; 43.5 N/mml; 47.4 N/mml. Kekuatan geser rekat untuk hentukan lurus dan melengkung masing-masing adalah 7.29 N/mml dan 6,62 N/mm2. Kemudian kekuatan geser rekat untuk perekat Polyvinil Acetate (PVAc) dan epoksi adalah 7;29 N/mml dan 6,67 N/mml. Nilai kekuatan geser rekat yang lebih rendah dibandingkan taraf lainnya da1am satu variabel ditetjemahkan ke dalam susahl tidaknya penanganan. Nilai kekuatan tekan sejajar serat lebih besar dari kekuatan tekan tegak !urns serat dengan nilai masing-masing 6,66 N/mml dan 5,05 Nhnm2 • Hal ini diduga disehabkan oleh susunan sel-sel serat dimana materi penyusun sel serat saling bergabung dan memanjang pada arah panjang sel serat tersebut yang akan memberikan efek sifat yang heranatogis dengan ikatan gabungan dari beherapa potongan pipa. Regresi pendugaan tegangan maksimum (MOR) oleh kekakuan bahan (MOE) menghasilkan persamaan MOR = 97 x to'] MOE + 29. Kemudian secara regresi persamaan ini mempunyai koefisien determinasi (Rl) sebesar 29,63 % dan selebihnya ditentukan oleh faktor tainnya. Hasil analisa korelasi menunjukkan bahwa bentukan dengan kekakuan dan variabel lasan dengan beban maksimum berkorelsi kuat. Juga regresi MOE dengan MOR berkorelasi kuat sehingga dalam ruus penelitian ini persamaan regresi di atas dapat digunakan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa variabel bentukan mempengaruhi kekakuan (MOE) balok laminasi bambu andong, dimana rata·rata kekakuan bentukan lurns lebih besar (75,22 %) daripada bentukan melengkung. Untuk tarafperlakuan variabellasan (lasan tunggal dan lasan ganda) tidak mempengaruhi MOE laminasi bambu andong. Selanjutnya variabel bentukan tidak mempengaruhi tegangan maksimum (MOR) balok laminasi bambu andong. Sedangkan variabellasan mempengaruhi MOR laminasi bambu andong dimana MOR pada lasan ganda lebih besar daripada lasan tunggal dengan nilai masing·masing 35,3 Nlmm2 dan 45,5 N/mm2 • Juga beberapa kesimpulan berikut yang tidak kalah pentingnya yaitu bahwa pembuatan balok laminasi bentukan melengkung lebih rumit daripada pembuatan balok laminasi bentukan lorus. Pengelasan ketika membuat sambungan lebih sulit daripada membuat balok yang akan disambung ito sendiri dan diketahui rata· rata kekuatan tekan sejajar serat lebih besar (31,94 %) daripada kekuatan tegak lurus serat. Kemudian saran·saran yang dapat dikemukakan dari hasil penelitian ini ada empat saran. Pertama diperlukannya perbaikan atan modifikasi alat kempa balok laminasi agar menjadi lebih sempuma dalam eara kerjanya dan kemungkinannya untuk aplikasi perekat dengan kempa panas. Kedua pembuatan alat pelabur perekat untuk bilah laminasi yang bertaraf masinal supaya proses pelaburan dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat sehingga tidak mengganggu opening time perekat. Ketiga penelitian lebih lanjut mengenai jenis sambungan balok laminasi Jainnya seperti sambungan miring bertingkat. Keempat jika biaya tidak menjadi halangan, sebaiknya digunakan perekat khusus untuk tujuan struktural karena pembuatan balok laminasi ini akan diaplikasikan daJam raneang bangon konstruksi.id
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.titlePengaruh Sambungan Terhadap Sifat Mekanls Laminasi Bambu Lengkung Untuk Tujuan Penggunaanid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record