| dc.contributor.advisor | Perwitasari, Raden Roro Dyah | |
| dc.contributor.advisor | Wowor, Daisy | |
| dc.contributor.advisor | Farajallah, Achmad | |
| dc.contributor.advisor | Annawaty | |
| dc.contributor.author | Purnamasari, Lora | |
| dc.date.accessioned | 2025-05-01T23:39:53Z | |
| dc.date.available | 2025-05-01T23:39:53Z | |
| dc.date.issued | 2025 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/161608 | |
| dc.description.abstract | Udang air tawar genus Macrobrachium memiliki jumlah spesies terbanyak
kedua setelah genus Caridina. Penyebarannya paling luas, menghuni berbagai
macam habitat perairan dan mampu beradaptasi pada lingkungan ekstrim seperti air
rawa gambut yang sangat asam. Pulau Sumatra dan Kalimantan memiliki perairan
rawa gambut yang terluas di Indonesia dan memiliki karakteristik yang berbeda.
Rawa gambut di Sumatra dicirikan oleh perairan berwarna coklat sampai hitam,
dengan substrat berupa lumpur saja, sedangkan rawa gambut di Kalimantan
memiliki karakteristik dengan substrat lumpur dan pasir kuarsa dengan warna air
yang coklat seperti teh. Perbedaan karakteristik di setiap lokasi rawa gambut ini
menyebabkan variasi jenis udang Macrobrachium yang ditemukan. Hingga saat ini
hanya lima spesies Macrobrachium yang dilaporkan berhabitat pada air asam.
Selain itu identifikasi morfologi pada genus Macrobrachium memiliki resiko yang
tinggi karena keterbatasan karakter yang hanya dapat diamati pada individu dewasa,
khususnya jantan dominan. Penggunaan analisis molekuler dengan penanda gen
cytochrome oxidase subunit I (COI) telah diterapkan untuk DNA barcoding dan
keragaman genetik pada udang air tawar. Sejauh ini, belum ada penelitian tentang
ekologi dan molekuler genus Macrobrachium yang berhabitat pada air asam.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari sistematika dan zoogeografi
Macrobrachium spp. pada habitat air asam di Sumatra dan Kalimantan.
Koleksi sampel dilakukan pada sungai rawa gambut di Pulau Sumatra dan
sekitarnya (Provinsi Riau, Jambi dan Sumatra Barat) dan Pulau Kalimantan
(Kalimantan Tengah). Pengambilan sampel menggunakan bubu yang dipasang
umpan dan handnet. Faktor biotik dan abiotik perairan diukur dan diamati. Analisis
molokuler menggunakan penanda gen cytochrome oxidase subunit I (COI).
Berdasarkan analisis morfologi dan molekuler spesies yang diperoleh pada
rawa gambut provinsi Jambi dan Riau adalah Macrobrachium sundaicum. Habitat
yang mendukung keberadaan spesies yaitu memiliki substrat lumpur dengan
keberadaan serasah daun, kayu mati dan tanaman air. Penelitian ini mencatat
laporan baru mengenai keberadaan M. sundaicum di wilayah Sumatra bagian timur.
Berdasarkan hasil analisis keanekaragaman haplotipe dan nukleotida,
Macrobrachium sundaicum menunjukkan tingkat keanekaragaman yang rendah di
setiap sungai. Sedangkan analisis jaringan haplotipe menunjukkan bahwa setiap
sungai memiliki haplotipe yang unik. Temuan ini mengindikasikan adanya
subdivisi antarpopulasi M. sundaicum di Sumatra bagian timur, yang diduga
disebabkan oleh fragmentasi habitat, perbedaan siklus hidup, dan faktor ekologis
(seperti perbedaan daerah aliran sungai purba).
Berdasarkan analisis morfologi dan molekuler diperoleh spesies
Macrobrachium idae pada rawa gambut di Provinsi Sumatra Barat. Karakteristik
habitat yang mendukung spesies ini adalah substrat lumpur dengan serasah daun
serta tanaman air. Pada penelitian ini diduga bahwa masuknya spesies M. idae ke
perairan asam secara tidak sengaja yang disebabkan oleh arus sungai. Temuan ini
menunjukkan bahwa distribusi spesies M. idae sangat luas, mencangkup perairan
payau, peraiaran tawar hingga perairan asam.
Berdasarkan analisis morfologi dan molekuler spesies yang diperoleh pada
rawa gambut di Provinsi Kalimantan Tengah adalah Macrobrachium cf sundaicum
dan M. cf callirrhoe. Spesies M. cf sundaicum ditemukan pada karakteristik habitat
dengan substart lumpur dan serasah daun dengan kehadiran tanaman air. Sedangkan
spesies M. cf callirrhoe ditemukan pada karakteristik substart berupa pasir kuarsa,
tanah liat dan serasah daun. Pada hasil penelitian ini dilaporkan kemungkinan
ditemukan dua spesies baru udang genus Macrobrachium.
Secara keseluruhan sungai rawa gambut di Pulau Sumatra di dominansi oleh
substrat lumpur, serasah daun, dan kayu mati dengan pH perairan berkisar antara
3,6-4,7, serta suhu air berkisar antara 26-28°C, dengan kehadiran tanaman yang
dominasi oleh vegetasi paku serta sawit. Sementara itu, di Pulau Kalimantan, sungai
rawa gambut memiliki dua jenis substrat yaitu lumpur, dan pasir kuarsa yang
bercampur tanah liat, dengan serasah daun, pH perairan berkisar antara 3,3-4,5, dan
suhu air berkisar antara 26–27°C. Kondisi perairan dengan substrat berupa serasah
daun dan kayu mati menyedikan sumber makanan dan tempat berlindung bagi
udang. | |
| dc.description.abstract | The freshwater prawn genus Macrobrachium is the second largest in
number of species after the genus Caridina. The distribution of this genus is global
worldwide, the inhabiting various aquatic habitats and it is able to adapt extreme
environment, such as highly acidic peat swamp waters. Sumatra and Kalimantan
islands have the largest peat swamp waters in Indonesia, which have distinct
different characteristics. Peat swamp in Sumatra are characterized by having brown
to black water, and are consisted solely mud, while Kalimantan's peat swamp have
mud and quartz sand substrate, with tea-colored brown water. The different
characteristics of each peat swamp resulted in various Macrobrachium species. Up
to the present, only five species of Macrobrachium have been reported inhabiting
acidic water. In addition, morphological identification of the genus Macrobrachium
has a high risk due to the limited characters that can only be observed in adult
individuals, especially dominant males. The use of molecular analysis with
cytochrome oxidase subunit I (COI) gene markers has been applied for DNA
barcoding and genetics in freshwater shrimp. So far, there is no study on the ecology
and molecular of the genus Macrobrachium inhabiting acidic water. This study the
aimed of is to investigate the systematic and zoogeography of Macrobrachium spp.
in acid waters in Sumatra and Kalimantan.
The samples were collected from peat swamp rivers in Sumatra and
surrounding areas (Riau, Jambi, and West Sumatra Provinces) and Kalimantan
(Central Kalimantan Province). Samples were collected using baited traps and
handnets. Aquatic biotic and abiotic factors were measured and observed.
Molecular analysis using cytochrome oxidase subunit I (COI) gene markers.
Based on morphological and molecular analyses, the species obtained in peat
swamps in Jambi and Riau provinces are Macrobrachium sundaicum. The habitat
that support the presence of this species are substrate mud with the leaf litter, dead
wood and aquatic plants. This study reports a new record of M. sundaicum, i.e the
presence of this species in eastern Sumatra. Based on the results of haplotype and
nucleotide diversity analysis, M. sundaicum showed a low level of diversity in each
river. While the haplotype network analysis showed that each river had haplotype
unique. These findings indicate subdivision among populations of M. sundaicum in
eastern Sumatra, which may be caused by habitat fragmentation, life cycle
differences and ecological factors (such as differences in ancient watersheds).
Based on morphological and molecular analyses, the species Macrobrachium
idae was found in peat swamps of West Sumatra Province, based on morphological
and molecular analyses, the species Macrobrachium idae was found. The habitat
characteristics that support this species are leaf litter substrate with the presence of
aquatic plants. We suspect that the introduction of M. idae into the acidic waters
was accidental, caused by river current. This finding shows that the distribution of
M. idae is very wide, from brackish waters, to fresh waters and up acidic waters.
Based on morphological and molecular analyses, M. cf sundaicum and M. cf
callirrhoe were obtained in peat swamps in Central Kalimantan Province.
Macrobrachium cf sundaicum was found in habitat characteristics of mud, leaf litter
and aquatic plants. While M. cf callirrhoe was found in habitat characteristics of
quartz sand, clay, and leaf litter. The results of this study reported the presence of
two new species of shrimp genus Macrobrachium.
Overall, peat swamp rivers on the island of Sumatra are dominated by
substrates of mud, leaf litter and dead wood with water pH ranging from 3.6–4.7,
and water temperature ranging from 26–28°C, with plants present and dominated by
fern and palm vegetation. Meanwhile, on the island of Borneo, peat swamp rivers
have two types of substrates, i.e mud and quartz sand mixed with clay, with leaf
litter, water pH ranging from 3.3–4.5, and water temperature ranging from 26–27°C.
Water conditions with substrates of leaf litter and dead wood provide a food source
and shelter for shrimp. | |
| dc.description.sponsorship | 1. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek)
2. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Sistematika dan Zoogeografi Macrobrachium spp. pada Habitat Air Asam di Sumatra dan Kalimantan | id |
| dc.title.alternative | Systematic and Zoogeography of Macrobrachium spp. in Acidic Water Habitat in Sumatra and Kalimantan. | |
| dc.type | Disertasi | |
| dc.subject.keyword | Udang air tawar | id |
| dc.subject.keyword | zoogeografi | id |
| dc.subject.keyword | rawa gambut | id |
| dc.subject.keyword | sistematika | id |