Sintesis Amino Clay sebagai Adsorben untuk Pengolahan Limbah Cair Mengandung Uranium
Date
2025Author
Saputra, Dwi Luhur Ibnu
Purwaningsih, Henny
Farid, Muhammad
Basuki, Triyono
Metadata
Show full item recordAbstract
Limbah radioaktif yang dihasilkan dalam penerapan teknologi nuklir adalah
limbah uranium cair dari luar reaktor nuklir yaitu yang berasal dari produksi [99Tc]
teknisium, ekstraksi hasil dari uranium dioksida (UO2) sebagai bahan bakar nuklir
riset dan ekstraksi uranium monasit dari limbah timah. Limbah uranium yang
dihasilkan masih mengandung keasaman yang tinggi dan memiliki kation yang lain.
Limbah uranium belum dapat diolah oleh Instalasi pengolahan limbah radioaktif
(IPLR). Oleh karena itu pengolahan limbah uranium cair perlu dilakukan dengan
metode yang tepat. Metode adsorpsi banyak diminati untuk diteliti karena memiliki
kelebihan pada prosesnya yaitu menggunakan biaya yang relatif murah, prosesnya
yang sederhana, efektivitas dan efisiensinya relatif tinggi serta tidak memberikan
efek samping berupa zat beracun. Proses adsorpsi uranium cair yang dikembangkan
saat ini menggunakan sintetis amino clay. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mendapatkan adsorben yang dapat digunakan untuk adsorpsi uranium cair dan
mempelajari fenomena adsorpsinya.
Sintesis adsorben amino clay telah dilakukan dengan proses satu tahap solgel menggunakan larutan etanol yang mengandung magnesium klorida dan
prekursor 3-aminopropil trimetoksisilana (APTES). Amino clay memiliki gugus
permukaan positif seperti gusus -NH3+ yang dapat berinteraksi dengan komplek
anion uranium sulfat yang bermuatan negatif. Parameter yang dievaluasi dalam
penelitian ini adalah variasi pH 3-5 dan konsentrasi sulfat (0; 0,001; 0,01 dan 0,1
M). Konsentrasi uranium cair dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis
dengan kompleks arsenazo III. Optimum uranium adsorption by amino clay was
observed at pH 4 and 0.1 M sulfate concentration, yielding an average absorption
efficiency of 97.40%. Penambahan sulfat mampu meningkatkan adsorpsi uranium
cair dibandingkan dengan tanpa penambahan sulfat, yaitu rerata sebesar 95 %.
Peningkatan kapasitas adsorpsi pada pH uranium cair tanpa sulfat disebabkan
oleh fenomena kompleks trapping kation uranil (UO22+) dan [(UO2)2(OH)2]2+ pada
ruang antar basal yang relatif lemah. Peningkatan adsorpsi uranium cair yang tinggi
sebesar 441,71 mg/g dengan penambahan ion sulfat dikarenakan adanya ikatan
ionik dan ion dipol yang sangat kuat membentuk kompleks stabil yaitu
[UO2(SO4)2]2- dan UO2SO4. Amino clay sangat berpotensi dikembangkan untuk
pengolahan limbah uranium cair karena memiliki kapasitas adsorbsi yang tinggi
dibandingkan adsorben lainnya
