Show simple item record

dc.contributor.authorNursal, Wim Ikbal
dc.date.accessioned2010-05-07T14:25:54Z
dc.date.available2010-05-07T14:25:54Z
dc.date.issued2001
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/16016
dc.description.abstractLutung jawa (Trachypithecus aura/us) merupakan salah satu primata endemik pulau Jawa yang berstatus vulnerable (rentan) dan termasuk salah satu jenis satwa yang terdaftar dalam Appendiks II dokumen CITES (Massicot, 2000), yakni satwa yang dibatasi perdagangannya. Namun demikian, keberadaan lutung jawa semakin terancam karena penurunan luas habitat alami bagi lutung jawa dari tahun ke tahun dan maraknya perdagangan lutung di kota-kota Pulau Jawa. Total jumlah lutung yang diperdagangkan selama lima bulan pengamatan (Januari - Mei 1999) di pasar-pasar Jawa Timur diperkirakan 222 ekor (Konservasi Satwa Bagi Kehidupan, 2000). Saat ini populasi lutung jawa terkonsentrasi pada kawasan yang memiliki habitat yang relatif tidak terganggu, salah satu diantaranya adalah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) di Jawa Barat. Lutung jawa merupakan salah satu bagian dari total keanekaragaman hayati Indonesia yang terdegradasi secara terus-menerus. Melihat kondisi keanekaragaman hayati dan lingkungan yang semakin memburuk dari tahun ke tahun, maka perlu dilakukan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dan konservasi keanekaragaman hayati di masa sekarang maupun masa mendatang. Oleh karena itu, perlu diadakan pendidikan lingkungan dan konservasi alam bagi masyarakat. Bentuk pendidikan lingkungan dan konservasi alam yang sesuai adalah ekowisata, yang memadukan rekreasi alam, pendidikan, dan pelestarian lingkungan hidup. Untuk menunjang penyelenggaraan aktivitas ekowisata diperlukan informasi yang baik tentang keberadaan dan perilaku satwaliar sehingga dapat memenuhi tuntutan wisatawan. Salah satu jenis satwaliar yang mudah ditemukan di sekitar kawasan Pos Selabintana TNGP serta berpotensi untuk atraksi ekowisata adalah lutung jawa. Untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang lutung jawa di Pas Selabintana TNGP, diantaranya tentang aktivitas hariannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas harian lutung jawa mencakup penggunaan waktu berdasarkan kelas umur dan peri ode harian, serta pola aktivitas hariannya. Manfaat penelitian tentang aktivitas harian lutung jawa antara lain sebagai bahan penyusunan paket interpretasi dan pengamatan satwa (khususnya lutung jawa) dan menambah khazanah ilmu pengetahuan tentang lutungjawa. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2000 sampai dengan April 200 I di Pos Selabintana TNGP Jawa Barat. Data yang diambil adalah data aktivitas harian dan habitat lutungjawa. Data aktivitas harian didapatkan melalui teknik focal animal sampling. Pengamatan dilakukan dari pukul 06.00 WIB sampai dengan 18.00 WIB. Aktivitas yang diamati antara lain aktivitas makan, berpindah, istirahat, dan aktivitas sosial (Chivers, Raemakers, Aldrich-Blake 1975). Data aktivitas (i) harian akan dianalisis dengan statistik deskriptif dan uji Khi-kuadrat untuk mengetahui bentuk sebaran penggunaan waktu aktivitas harian lutung jawa. Selain itu, untuk mengetahui kondisi habitat lutung seeara umum dilihat dari kelimpahan sumber pakan lutungjawa dilakukan analisis vegetasi. Data vegetasi yang diukur di lapangan adalah diameter setinggi dada, tinggi bebas eabang, dan tinggi total, terutama untuk vegetasi tingkat pohon dan tiang. Teknik pengumpulan data vegetasi dilakukan dengan menggunakan metode jalur berpetak (Kusmana 1997), sedangkan teknik sampling yang digunakan adalah pengambilan eontoh seeara sistematis dengan petak ukur sebanyak 30 buah. Data vegetasi selanjutnya dianalisis untuk mengetahui nilai kerapatan, frekuensi, dan dominansi (hanya untuk vegetasi tingkat tiang dan pohon) beserta nilai relatifnya, dan indeks nilai penting tiap jenis tumbuhan. Kelompok lutung jawa yang menjadi objek penelitian adalah kelompok lutung jawa di blok Barubenteng, yang berjumlah 21 ekor dengan jumlah jantan dewasa I ekor, betina dewasa 9 ekor, remaja 5 ekor, anak 3 ekor, dan bayi 3 ekor (seks rasio kelompok I: 9). Berdasarkan hasil anal isis vegetasi habitat lutung jawa didominasi oleh saninten (Caslanopsis argentea), puspa (Schima wallichii) yang merupakan jenis khas ekosistem submontana. Kisaran tinggi pohon yang paling ban yak ditemukan (persentase terbesar) adalah adalah 14 - 16m, sedangkan untuk diameter pohon adalah 20 - 30 em. Hasil anal isis menunjukkan bahwa pada saat penelitian ini dilakukan habitat Jutung memiliki sumber pakan yang cukup melimpah. Dari 48 jenis vegetasi tingkat pahon yang teridentifikasi, 28 jenis diantaranya adalah pakan lutung jawa. Enam pahon pertama menempati urutan nilai kemenonjolan teratas (saninten, puspa, kiara, kondang, kuray, dan riung anak). Sumber pakan lutung jawa pada tingkat tiang, pancang, dan semai juga melimpah. Berbeda untuk vegetasi tingkat pahon, tiang, pancang, dan semai, sumber pakan lutungjawa untuk vegetasi tumbuhan bawah, liana dan epifit, tidak begitu beragam dan melimpah. lumlah jenis vegetasi di tingkat tumbuhan bawah, liana, dan epifit yang teridentifikasi adalah 7 I jenis, 9 diantaranya diketahui dapat dimakan oleh Jutung jawa. Meskipun kelimpahan sumber pakan di daerah ini cukup tinggi (terutama pada tingkat tiang dan pohon), untuk di masa depan masih diragukan kelimpahannya. Hal ini disebabkan banyaknya pohon sumber pakan yang tidak memiliki anakan (sernai dan pancang), misalnya kuray (Trema orientatis), beunying (Ficus fistu/osa), kiracun, manggong (Macaranga rhizinoides), harnerang badak (F. g/obosa), rasamala (Altingia excelsa), kihujan (Enge/hardtia spicata), dan lain-lain. Lutungjawa mulai beraktivitas sejak bangun dari tidurnya sekitar pukul 05:10 WIB, kemudian sekitar pukul 05.30 WIB berpindah dan makan di pohon tempat tidur atau pohon sumber pakan disekitar pohon tempat tidur. Akhir aktivitas harian ditandai dengan aktivitas berpindah memasuki pohon tempat tidur. Lutung memasuki pohon tempat tidur pukul 17.45 WIB dan mulai tidur sekitar pukul 18.05 WIB. Hasil uji Khi-kuadrat menunjukkan penggunaan waktu untuk beraktivitas berdasarkan macam individu (kelas umur) berbeda sangat nyata (A?hilling = 489,54; J...2 (O,OS; 12) = 21,03; }"(om; 12) = 26,22). Dengan kata lain, ada hubungan antara individu lutung jawa (individu jantan dan betina dewasa, remaja, anak, dan bayi) dengan penggunaan waktu hariannya. (ii) Penggunaan waktu untuk beraktivitas berdasarkan periade harian (pagi 06.00 - 10.00 WIB, siang 10.00 - 14.00 WIB, dan sare 14.00 - 18.00 WIB)juga berbeda sangat nyata setelah dianalisis dengan uji Khi-kuadrat. Hal ini berlaku untuk seluruh individu, yaitu jantan dan betina dewasa, remaja, anak, dan bayi. Secara berturut-turut penggunaan waktu beraktivitas dari yang paling besar sampai terkecil adalah aktivitas istirahat, makan, sasial, dan berpindah. Penggunaan waI,:tu aktivitas makan terbesar dilakukan aleh jantan dewasa (319 menit), sedangkan aktivitas istirahat aleh individu anak (329 menit) dan remaja (324 menit). Penggunaan waktu untuk aktivitas berpindah tertinggi terjadi pada individu jantan dewasa (78 menit), diikuti aleh individu remaja (68 menit), anak (59 menit), dan betina dewasa (47 menit). Anggaran waktu ah'livitas menelisik (sosial) tertinggi dilakukan oleh betina dewasa (137 menit), terutama aktivitas menelisik (103 menit). Aktivitas ditelisik paling tinggi terjadi pada individu anak (127 men it) dan jantan dewasa (44 menit). Jantan dewasa dan anak kurang berperan dalam aktivitas sosial, sehingga penggunaan untuk aktivitas ini keeil. Macam-macam pola aktivitas kelompak lutung jawa yang teridentifikasi antara lain manafasik, bifasik, dan multifasik. Aktivitas istirahat cenderung berpola monofasik, aktivitas makan dan berpindah cenderung berpola bifasik, sedangkan aktivitas sosial cenderung berpola multifasik. Puncak aktivitas istirahat terjadi hanya sekali disepanjang waktu aktifnya (periode pengamatan), yaitu pukul 13.30 - 14.00 WIB (periode siang), meskipun terjadi fluktuasi tajam pada periode pagi. Puncak aktivitas makan dan berpindah terjadi dua kali disepanjang waktu aktif (periode pagi dan sare hari), sedangkan aktivitas sosial terjadi tiga kali (pagi, siang, dan sare hari). Puncak aktivitas makan terjadi pada pukul 06.00 - 06.30 dan 16.30 - 17.30 WIB. Puncak aktivitas berpindah terjadi pada pukul OS.30 - 09.00 dan 16.00 - 16.30 WIB. Puncak aktivitas sosial terjadi pada pukul 07.30 - OS.OO, 11.30 - 13.00, dan 15.30 - 16.00 WIB. Di dalam merencanakan program ekowisata, pengelola TNGP dapat mempertimbangkan kelompok lutung jawa yang diamati ini sebagai objek pengamatan fauna, dengan alasan tingkat aksesibilitas dan visibilitas untuk mengamati keJompok ini yang cukup tinggi. Pengeioia perlu menetapkan pengamatan lutung jawa ini melalui sistem jaiur, dengan jarak pengamatan minimum 20 m di dalam hutan.id
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.titleAktivitas harian lutung jawa (Trachypithecus auratus Geoffroy 1812) di Pos Selabintana Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Jawa Baratid
dc.typeThesisid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record