| dc.description.abstract | Pemanfaatan teknologi berperan penting dalam memperkuat daya saing
nasional. Alur dasar alih teknologi terdiri dari penyedia teknologi, intermediasi
pengembang produk sampai pada pengguna akhir. Keterkaitan yang seimbang
antara pelaku dan pemangku kepentingan alih teknologi yang bersumber dari
internal maupun eksternal pada proses alih teknologi merupakan dinamika dalam
pencapaian keberhasilan alih teknologi yang berkesinambungan. Penelitian ini
merupakan arsitektur strategi alih teknologi yang disusun berdasarkan keadaan saat
ini melalui studi literatur dan survey yang diperkuat dengan disain arsitektur alih
teknologi yang dianggap ideal yang bersumber dari kombinasi analisis deduktif dan
induktif.
Alih teknologi pada kajian ini dibatasi pada proses alih teknologi sektor
publik. Pertimbangan pembentukan usaha baru berbasis inovasi teknologi ditarik
dari titik pandang institusi litbang Pemerintah sebagai penyedia teknologi.
Demikian pula dengan elemen internal dan eksternal yang melibatkan sektor
swasta, kelompok komunitas dan individu yang tetap dilihat dari sisi pemerintah.
Analytical Hierarchy Process (AHP), partial least square, Structural
Equation Modeling (PLS-SEM) dan Strategy Factor Analysis Summary (SFAS)
merupakan metode yang digunakan dalam penelitian ini. Pendekatan AHP akan
menjawab pilihan alternatif kunci dalam proses alih teknologi. Pendekatan ini
bersifat searah dari pengambil kebijakan dan otoritas pengelolaan teknologi (top
down). Analisis ini bersifat induktif yaitu berupa pandangan, sikap dan
rekomendasi pakar terhadap proses alih teknologi yang dianggap ideal. Dari sisi
lain, pendekatan SFAS dilakukan merupakan pendekatan yang bersifat deduktif
merupakan analisis terhadap proses alih teknologi dalam pengembangan teknologi
biorefineri. Variabel yang diukur pada pendekatan yang diurai melalui analisis
Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT) dan dioperasionalisasikan
menggunakan SFAS. Analisis kedua bersifat konfirmasi yang akan diperkuat
dengan SEM yang mengurai kedua arah pendekatan sebelumnya. Variabel yang
digunakan bersumber dari taksonomi alih teknologi dengan penyesuaian yang
didasarkan dengan kajian literatur.
Dalam pengukuran pilihan berdasar pada hirarki dengan struktur kriteria,
aktor dan alternatif keputusan dengan menggunakan analytical hierarchy process,
maka penguatan kapasitas alih teknologi disyaratkan dengan kriteria produktivitas
paten yang tinggi (0.34898), penciptaan pasar (0.31237), penyerapan tenaga kerja
(0319329), peningkatan produk ramah lingkungan (0.07371), pencapaian efisiensi
proses produksi (0.07165). Pada struktur aktor yang berperan dalam penguatan
kapasitas alih teknologi terdiri dari litbang teknis kementerian (0.24890), lembaga
penelitian non-kementerian (0.21343), universitas (0.19519), lembaga swadaya
masyarakat yang bergerak dalam pemanfaatan teknologi (0.12290). litbang swasta
(0.11801) dan bentuk aktor yang sama di luar negeri (0.10158). Alternatif kebijakan
yang direkomendasikan adalah penguatan institusi intermediasi dan akselerator
teknologi berupa inkubator teknologi dan kawasan sains dan teknologi ((0.50414), pendirian kantor representasi sains dan teknologi di luar negeri ((0.24344),
penguatan kapasitas institusi riset (0.16648), dan peningkatan anggaran iptek
(0.08594).
Pada pendalaman dengan pengembangan pemanfaatan teknologi biorefineri
melalui pengukuran faktor internal dan eksternal menggunakan pendekatan
strategic factor analysis summary (SFAS) diperoleh hasil faktor internal
pendukung yang utama adalah ketersediaan bahan baku (0.1325) dan potensi
kapasitas permintaan yang meningkat (0.1025). Faktor internal yang perlu
ditingkatkan adalah rendahnya koordinasi antar lembaga dan kementerian
(0.11375) dan Keengganan industri dalam memanfaatkan hasil litbang dalam negeri
(0.1000). Faktor eksternal yang merupakan peluang dalam pemanfaatan teknologi
biorefineri adalah posisi geografis Indonesia yang strategis (0.1062) dan pergerakan
permintaan di Asia yang semakin berpengaruh pada perekonomian global (0.0987).
Faktor eksternal yang mengancam adalah ketidakstabilan ekonomi dan politik
(0.1225) dan rendahnya otoritas sains dan teknologi (0.1300).
Arah dan signifikansi hubungan antara variabel laten dan peubah diukur
menggunakan partial least square-structural equation modeling (PLS-SEM)
dengan hubungan antar Variabel Pemerintah berpengaruh positif dan signifikan
dengan Variabel Daya Saing Alih Teknologi (3.679) yang diikuti oleh Variabel
Pendukung Industri (2.244) dan Faktor Permintaan (2.108). Terdapat tiga variabel
yang berpengaruh positif yaitu Faktor Kondisi (1.744) diikuti oleh Variabel
Struktur Persaingan (0.318) dan Peluang Alih Teknologi (0.095).
Hasil dari ketiga pendekatan membentuk bagian-bagian yang disusun
menjadi rancang bangun alih teknologi. Bagian utama merupakan kurva-S sebagai
dasar alur alih teknologi dengan modifikasi alur umpan balik sebagai jalur dua arah
dalam alih teknologi. Kurva memotong horizon dengan bagian atas dan bawahnya
merupakan internalisasi dan eksternalisasi dari proses alih teknologi. Terdapat tiga
titik pertemuan kurva-S dengan garis waktu yaitu pengembangan gagasan, purwa
rupa dan pengembangan produk komersialisasi. Ketiga perpotongan membagi
kurva dalam empat tahap dalam proses alih teknologi yang terdiri dari perancangan
gagasan, pengembangan teknologi, produk penelitian dan pengembangan dan
produk komersial. Keempat tahapan dalam rancang bangun dilengkapi dengan
aktor yang berperan, jenis aliran kas, sumber keuangan untuk kegiatan dan
lingkungan yang berpengaruh. | |