Struktur Modal Perusahaan Sub Sektor Perkebunan Di Bursa Efek Indonesia
View/ Open
Date
2016Author
Nugroho, Sigit Dani
Siregar, Hermanto
Manurung, Adler Haymans
Nuryartono, Nunung
Metadata
Show full item recordAbstract
Pendanaan di perusahaan memiliki peranan yang penting dalam keuangan
perusahaan untuk leverage bisnis. Peranan struktur modal pada subsektor
perkebunan menjadi penting tidak hanya bagi perusahaan tersebut namun juga bagi
pertumbuhan perekonomian Indonesia. Struktur modal yang optimal mampu
meningkatkan kinerja perusahaan perkebunan di Indonesia. Tujuan penelitian
adalah menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi
struktur modal, menganalisis berlakunya hierarki pendanaan, menganalisis
kecepatan penyesuaian struktur modal, menganalisis struktur modal optimal, dan
menganalisis pengaruh struktur modal terhadap harga saham perusahaan pada
perusahaan perkebunan kelapa sawit yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sampel dipilih dari seluruh perusahaan di sub sektor perkebunan yang tercatat di
BEI tahun 2009-2013. Kajian menggunakan analisis regresi data panel.
Hasil kajian menunjukkan bahwa perusahaan perkebunan di Bursa Efek
Indonesia menerapkan kebijakan leverage yang bervariasi, beberapa perusahaan
memiliki leverage rendah seperti Lonsum, Astra Agro Lestari, dan Sampoerna
Agro pada struktur modalnya dan sebagian lainnya menerapkan leverage tinggi
seperti Bakrie Sumatera Plantations, Tunas Baru Lampung, dan Gozco Plantation
pada struktur modalnya. Hasil analisis faktor internal yang memengaruhi leverage
perusahaan perkebunan di Indonesia antara lain tingkat struktur aktiva, ukuran
perusahaan, profitabilitas, pertumbuhan penjualan, dan market to book value.
Analisis selanjutnya menunjukkan faktor eksternal yang memengaruhi kebijakan
leverage perusahaan antara lain inflasi, IHSG, suku bunga, dan nilai tukar.
Perusahaan perkebunan di Bursa Efek Indonesia terbukti mengikuti pecking order
theory dalam struktur modalnya. Kemudian, kajian berikutnya kecepatan
penyesuaian struktur modal perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia
dipengaruhi oleh faktor internal perusahaan terutama DER sebelumnya, dan
profitabilitas. Faktor makroekonomi juga berpengaruh signifikan terhadap
kecepatan penyesuaian struktur modal perusahaan perkebunan kelapa sawit di
Indonesia. Kecepatan penyesuaian industri perkebunan kelapa sawit sebesar
44.64%. Hasil kajian struktur modal optimal menunjukkan secara keseluruhan
perusahaan perkebunan kelapa sawit belum menggunakan leverage yang optimal
kecuali AALI, SMAR, dan TBLA. Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh
signifikan dan negatif terhadap harga saham pada perusahaan perkebunan kelapa
sawit yang tercatat di BEI periode 2009-2013 sehingga manajeman perusahaan
perlu menjaga nilai leverage yang optimal.
Hasil kajian memiliki implikasi manajerial bagi stakeholder terutama dari
regulator, emiten, dan investor. Implikasi manajerial bagi investor di sektor
perkebunan adalah perlu mencermati DER untuk mengevaluasi nilai saham
perkebunan, investor di sektor perkebunan kelapa sawit perlu memperhatikan
faktor internal untuk melakukan investasi jangka pendek maupun jangka panjang
serta perkembangan faktor makroekonomi Indonesia menjadi
pertimbangan/indikator investor dalam melakukan investasi di sub sektor, perkebunan di Indonesia. Implikasi manajerial bagi regulator adalah perlu
memperhatikan indikator DER bila terjadi pergerakan harga saham perkebunan
yang tidak wajar, menurunkan suku bunga, serta perlu memperhatikan faktor
makroekonomi untuk mendukung iklim investasi perkebunan kelapa sawit di
Indonesia agar tetap berdaya saing. Implikasi manajerial bagi emiten adalah perlu
mengoptimalkan DER untuk meningkatkan nilai saham di perkebunan kelapa
sawit, perlu mengatur tingkat leverage perusahaan perkebunan kelapa sawit pada
tingkat optimum dengan memperhatikan faktor internal perusahaan serta perlu
memperhatikan faktor makroekonomi Indonesia dalam melakukan aksi leverage
perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Penelitian ini terbatas pada perusahaan sub sektor perkebunan yang tercatat
pada Bursa Efek Indonesia periode 2009-2013 dengan variabel independen yang
masih terbatas. Saran untuk penelitian selanjutnya menggunakan variabel lain yang
mungkin juga memengaruhi kebijakan struktur modal. Kajian lebih lanjut akan
menarik bila melihat struktur modal perkebunan di Indonesia dalam kurun waktu
yang lama (15 – 25 tahun) untuk melihat pengaruh makroekonomi terhadap
kecepatan penyesuaian struktur modal perusahaan perkebunan. Selain itu juga perlu
membandingkan dengan perusahaan perkebunan di Malaysia.
Collections
- DT - Business [372]
