| dc.description.abstract | Perekonomian suatu negara berfungsi dengan baik tanpa kendala yang
berarti jika negara telah mencapai suatu kondisi dimana sudah terjadi pendalaman
keuangan (financial deepening). Pertumbuhan ekonomi memerlukan dukungan
dana besar yang saat ini masih didominasi oleh sektor perbankan (Bank Umum dan
Bank Perkreditan Rakyat atau BPR) yang menguasai 79,8 persen pangsa pasar
dalam sistem keuangan Indonesia.
Perbankan sebagai lembaga intermediasi memiliki peran penting dalam
pelaksanaan pembangunan nasional untuk meningkatkan pemerataan pertumbuhan
ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Perbankan harus memiliki kinerja baik dan menerapkan prinsip kehati-hatian,
supaya mendapatkan kepercayaan masyarakat atau para nasabah (agent of trust)
dalam kelancaran kegiatan usahanya.
Kinerja keuangan perbankan Indonesia belum optimal jika dibandingkan
dengan bank-bank di Asociation of South East Asia Nation atau ASEAN (Malaysia,
Singapore, Filipina dan Thailand), karena efisiensi bank umum dalam menjalakan
kegiatan usahanya belum maksimal tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR)
18,10 persen, Non Performing Loan (NPL) 1,86 persen, Net Interest Margin (NIM)
5,48 persen, Biaya Operasional dibandingkan Pendapatan Operasional (BOPO)
74,14 persen, Cost Income Ratio (CIR) 46,90 persen, Loan to deposit ratio (LDR)
88,90 persen dan Return On Asset (ROA) 3,06 persen tahun 2013 (FSI-IMF,
Bankscope dan Website Bank Sentral Negara).
Kondisi Sumber Daya Manusia (SDM) perbankan Indonesia saat ini dari
sisi kuantitas cukup memadai tercermin dari jumlah SDM cenderung meningkat,
yaitu 353. 058, 408.349, 532.015, 563.668 dan 589.214 selama tahun 2010-2014
menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sedangkan, dari sisi mutu SDM
perbankan dapat dikatakan kurang memadai tercermin dari biaya pelatihan SDM
perbankan cenderung menurun dari 4,69 persen; 4,87 persen; 4,85 persen; 4,51
persen dan 4,08 persen selama tahun 2010-2014.
Melihat kinerja perbankan dan kondisi SDM ini dapat dikatakan bahwa
perbankan Indonesia memiliki daya saing cukup baik diantara bank-bank di
ASEAN, namun demikian perlu upaya maksimal untuk meningkatkan kinerja
optimal, efisiensi maksimal, serta jumlah dan mutu SDM sesuai kebutuhan
perbankan nasional dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) 2020.
Disamping itu, regulator dan/atau otoritas perlu menyusun kebijakan dan peraturan
mengenai efisiensi dan kontribusi terhadap perekonomian, penguatan Good
Corporate Governance (GCG) untuk mengurangi risiko bank dan kapasitas
permodalan termasuk penguatan mutu SDM.
Tujuan utama penelitian ini adalah: (1) menganalisis pengaruh dan
hubungan struktur organisasi, budaya organisasi dan SDM dengan etika bank
umum di Indonesia; (2) menganalisis pengaruh dan hubungan struktur organisasi,
budaya organisasi dan SDM dengan kinerja bank umum di Indonesia; (3), menganalisis pengaruh dan hubungan etika dengan kinerja bank umum di
Indonesia; dan (4) menganalisis pengembangan organisasi bank umum di Indonesia
berbasis kinerja dalam meningkatkan daya saing.
Pengumpulan data dilakukan selama empat bulan dari November 2014 -
Februari 2015 melalui survai online dengan teknik sensus seluruh bank umum di
Indonesia (118) dengan responden Kepala Satuan Kerja Manajemen Risiko (Ka
SKMR) atau Kepala Divisi (Kadiv) Pengembangan Bisnis atau Organisasi
mewakili seluruh bank umum yang memahami kondisi bank secara keseluruhan
dan tujuan penelitian serta 12 ekonom, ahli perbankan, ahli keuangan, ahli
teknologi, ahli operasional, otoritas dan akademisi melalui survai dan wawancara.
Responden yang mengembalikan kuikuesionersioner 84 kuesioner atau 71,2 persen,
sedangkan 34 responden tidak mengembalikan kuesioner, karena responden
umumnya baru menempati jabatan yang dipersyaratkan dalam kuesioner dan
kurang memahami tujuan penelitian. Metode analisis data menggunakan regresi
multivariat, korelasi Spearman dan Analytic Hierarchy Process (AHP).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) struktur organisasi, budaya
organisasi dan SDM mempunyai hubungan nyata dan kuat dengan etika bank
umum; (2) struktur organisasi, budaya organisasi dan SDM mempunyai hubungan
nyata dan kuat dengan kinerja bank umum; (3) etika mempunyai hubungan nyata
dan kuat dengan kinerja bank umum dan (4) prioritas utama model pengembangan
organisasi bank umum di Indonesia berbasis kinerja dalam meningkatkan daya
saing adalah SDM, karena SDM memiliki peran yang sangat penting dalam
menjalankan kegiatan usaha bank untuk mencapai kinerja baik dan optimal.
Bank umum di Indonesia hendaknya menerapkan struktur organisasi yang
baik, budaya organisasi dengan komitmen tinggi dan memiliki SDM kompeten
secara terintegrasi untuk mendukung pelaksanaan etika bisnis konsisten dan
konsekuen sebagai wujud implementasi GCG yang baik demi tercapainya kinerja
baik dan optimal. Di sisi lain regulator dan/atau otoritas menyusun dan memastikan
pelaksanaan kebijakan dan peraturan yang mendorong bank umum di Indonesia
siap menghadapi integrasi MEA 2020 dan mampu berkompetisi dengan bank-bank
di ASEAN. | |