| dc.description.abstract | Di Indonesia dimana perusahaan pertambangan merupakan salah satu
perusahaan yang termasuk dalam saham unggulan LQ-45, lebih banyak
memeroleh sorotan bahkan tudingan dalam kontribusinya terhadap kerusakan
lingkungan. Perusahaan pertambangan ditengarai dalam berbagai aktivitas
kegiatan industrinya sangat rentan terhadap isu pencemaran lingkungan.
Gencarnya isu dari LSM lingkungan merupakan fenomena yang menggambarkan
bahwa perusahaan tambang merupakan perusahaan yang sensitif pada dampak
pencemaran lingkungan yang kerap diindentikkan dengan kehancuran lingkungan.
CSR dan kinerja sosial mungkin tidak identik dengan kepemimpinan etis
dan bermoral, namun hubungan yang kuat antara kinerja sosial dan kepemimpinan
etis dan bermoral, telah diakui secara luas. Tanggung jawab sosial perusahaan
harus menonjolkan kewajiban moral bahwa bisnis yang dilakukan perusahaan
adalah bisnis bermasyarakat dan seorang pemimpin mampu membangkitkan
komitmen, motivasi, dan memengaruhi perilaku bawahan berdasarkan nilai-nilai
yang dimiliki untuk mencapai tujuan organisasi.
Tekanan pemerintah terhadap pelaksanaan CSR masih terus disertai dengan
berbagai isu dan tren CSR pada perekonomian global. Usaha peningkatan
kesadaran akan pentingnya peran serta perusahaan dalam pelaksanaan social
responsibility agar terus melindungi kelestarian lingkungan dan sumber daya
alam yang langka dengan menitikberatkan adanya pembangunan ekonomi
berkelanjutan untuk para stakeholders dan perusahaan, terutama di sektor
pertambangan dan energi.
Berdasarkan fenomena yang ada, perkembangan dunia bisnis dan tuntutan
regulasi mengenai implementasi CSR dan kebijakan lingkungan dewasa ini
semakin gencar, dimana berdasarkan laporan tahunan perusahaan, khususnya
perusahaan sektor pertambangan go public (LQ-45) telah menjalankan CSRnya
dengan baik sesuai dengan tuntutan UU bahkan lebih. Namun beberapa
kejanggalan di lapangan masih ditemukan seperti: kerusakan lingkungan (air,
tanah. udara, dan suara); konflik dengan masyarakat menimbulkan isu sosial dan
agama; penghargaan yang diterima oleh perusahaan dari dalam dan luar negeri
belum mampu menjawab dan meredam timbulnya kasus-kasus baru; aturan
pemerintah dalam pelaksanaan program-program CSR baik di sekitar perusahaan
atau di wilayah lainnya; tuntutan global dalam pelaksanaan CSR yang lebih
komprehensif dan terintegrasi; tuntutan peran dan kompetensi kepemimpinan
dalam pencapaian keberhasilan program CSR dan berbagai masalah lainnya yang
timbul. Hal inilah yang mendasari penulis, mengapa penelitian ini perlu
dilakukan. Sampai sejauh mana implementasi CSR khususnya dalam bidang
community development telah dilakukan, bagaimana kinerjanya dan apa yang
terjadi di lapangan serta bagaimana peran pemimpin dalam pencapaian kinerja
CSR.
Berdasarkan uraian latar belakang, maka tujuan disertasi ini adalah untuk
memahami berbagai faktor utama yang menentukan keberhasilan kinerja
tanggungjawab sosial, terutama di bidang community development perusahaan di
sektor pertambangan di Indonesia. Metode analisis yang digunakan pada
penelitian ini meliputi Descriptive Statistic, SAST (Strategy Assumption
Surfacing and Testing) dan permodelan dengan menggunakan Structural Equation
Modeling (SEM). Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis
frekuensi dan analisis tabulasi silang.
Hasil analisis deskriptif menggambarkan secara umum mayoritas profil
responden di perusahaan sektor pertambangan saham unggulan Indonesia LQ-45
berada pada level posisi sebagai pengawas/supervisor (superintendent) sebanyak
119 orang dan sisanya sebagai manager dan eksekutif manajer. Mayoritas usia
responden antara usia 35-44 tahun sebanyak 63 orang dan 45-54 tahun 81 orang,
reponden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 159 orang, mayoritas berpendidikan
terakhi S1 (103 orang) dan lama bekerja lebih dari tujuh tahun (> 7 tahun)
sebanyak 152 orang.
Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif
(0.149) antara level posisi (jabatan) dengan kepemimpinan di LQ-45, semakin
tinggi tingkat posisinya menunjukkan gaya kepemimpinan yang semakin kuat.
Terdapat hubungan yang positif antara level posisi dan budaya organisasi, level
posisi dapat menentukan seberapa besar karyawan mengerti dan memahami,
menjalankan budaya organisasi di perusahaan tersebut. Terdapat hubungan positif
antara pendidikan dan employee engangement (keterlibatan karyawan).
Hasil penelitian dengan metode SAST memberikan hasil bahwa asumsi
strategik yang dianggap penting dan pasti berhubungan dengan 10 Isu dan Tren
CSR adalah: integrasi CSR (A2); rantai pasokan (A6); persaingan sumber daya air
(A8); transparansi (A10); pendekatan kolaboratif dan pembagian keuntungan
(A3); isu HAM (A4); konten lokal (A5); hubungan kerja (A9); agenda LSM (A7)
dan lisensi lokal (A1).
Untuk SEM, secara keseluruhan menunjukkan bahwa model memiliki
reliabilitas konstruk yang baik dengan masing-masing CR dan VE sebesar
97.10(%) dan 65.30(%), hal tersebut sudah memenuhi ketentuan dan syarat dalam
model reliabel dalam SEM. Artinya bahwa peubah laten eksogen memiliki
kontribusi yang besar dan nyata serta handal pada peubah laten endogen. Semua
faktor memiliki kontribusi positif terhadap Kinerja CSR, kecuali pada peubah
Kepemimpinan dan Employee Engangement. Kepemimpinan tidak berkontribusi
secara signifikan sedangkan Employee Engangement berkontribusi negatif secara
signifikan terhadap Kinerja CSR. | |