Peran Ombudsman Sebagai Moderator Kelembagaan Penanganan Manajemen Pendidikan Sekolah Dasar Negeri Di Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta
View/ Open
Date
2015Author
Suhartono
Hubeis, Musa
Saefuddin, Asep
Affandi, M.Joko
Metadata
Show full item recordAbstract
Kemandirian dan ketidak-berpihakan adalah prasyarat utama atas pengawasan dan pencegahan maladministrasi untuk sebuah tatakelola administrasi pemerintahan yang efektif. Perihal pengawasan (ORI) terhadap penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di Sekolah Dasar Negeri (SDN), telah memunculkan dilema-dilema karena prinsip-prinsip dasar kemitraan MBS bertentangan dengan prinsip-prinsip kemandirian atau pun ketidak-berpihakan ORL MBS adalah kemitraan antara sekolah dengan orangtua murid dan masyarakat. Komite Sekolah (KS) dan Dewan Pendidikan Daerah (DPD) sebagai bagian dari praktik MBS mempunyai peran ganda sebagai mitra sekaligus pengawas sekolah. Keseimbangan dalam menjalankan dua fungsi ORI ini sesungguhnya dapat ikut menentukan terjadinya peningkatan kepastian keberlanjutan pemberdayaan modal sosial bangsa (KPMS), karena keseimbangan yang optimal dari dilematika ini akan melahirkan inovasi-inovasi sosial. Penelitian ini mencoba memahami sejauhmana sinergi pengawasan ORI terhadap penerapan MBS yang telah terjadi.
Penelitian ini pun melihat adanya masalah yang terindikasi dari data sekunder mengenai dugaan maladministrasi dan perselisihan tersembunyi (latent dispute) antara orangtua dengan sekolah di kelembagaan pendidikan sekolah tingkat dasar, dimana MBS telah diterapkan di sana. Bersama kegiatan sosialisasi ORI terhadap 13 SDN di Wilayah Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, penelitian ini dilakukan melalui Survey, Focus Group Discussion (FGD) serta Focus Group Interview (FGI). Survey pengumpulan data kuantitatif dilakukan melalui kuesioner terhadap guru dan orangtua siswa yang hadir di sosialisasi. FGD dilakukan bersama 3 SDN yang siap melaksanankan FDG seusai sosialisasi. FGI kemudian dilakukan bersama Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah dari tiga SDN tersebut. Parameter penelitian untuk keberhasilan kolaborasi ORI-SDN yang menghasilkan keberlanjutan KPMS ini dilihat dari adanya integrasi hubungan kepercayaan mutualistis (HKM) di tataran internal antara orangtua murid dan sekolah (mikro), dari adanya HKM di tataran orangtua guru dan kelembagaan sekolah, termasuk Komite Sekolah (meso), dan dari adanya HKM di tataran antara individual orangtua dan guru dengan pemerintah (makro). Pemerintah dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan Provinsi (Disdik).
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji hubungan dan dampak dari sosialisasi ORI-SDN terhadap terbentuknya HKM di tataran Mikro, Meso, maupun Makro. Selain itu penelitian ini bermaksud untuk mengekplorasi hambatan-hambatan yang ada untuk terbentuknya HKM di tataran Mikro, Meso dan HKM Makro di kelembagaan pendidikan SDN, termasuk kendala-kendala kontekstual untuk terjadinya sinergi-sinergi pengawasan eksternal ORI dengan praktek MBS di SDN. Pada akhirnya penelitian ini bermaksud untuk menentukan alternatif tindakan pengembangan tatakelola hubungan ORI-SDN-Disdik yang dapat meningkatkan percepatan terbentuknya nilai-nilai kegotong-royongan di masyarakat dan peningkatan kepastian KPMS.
Hasil penelitian kuantitatif dengan Analisis Jalur ini menunjukkan bahwa Pembelajaran Cara Pengaduan dari sosialisasi ORI terbukti telah mendorong turun HKM di tataran mikro. Sementara Pembelajaran Cara Investigasi dari sosialisasi ORI telah memunculkan peningkatan kepercayaan orangtua dan guru terhadap kelembagaan sekolah dasar, walaupun ada hambatan-hambatan tertentu untuk membangun kepercayaan terhadap Komite Sekolah (meso). Sedangkan Pembelajaran Cara Mediasi dari hasil sosialisasi ORI terbukti tidak dapat mendorong munculnya kepercayaan orangtua, guru maupun kelembagaan sekolah terhadap Disdik (makro). Temuan statistik inferensia tersebut memperkuat indikasi adanya permasalahan dalam manajemen internal kelembagaan pendidikan SDN. Hipotesis-hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa atas adanya pengawasan eksternal ORI terhadap MBS akan terjadi sinergi-sinergi positif untuk hasil pendidikan dan nilai-nilai hubungan kepercayaan mutualisme (HKM) telah ditolak.
Hasil penelitian kualitatif melalui FGD telah memunculkan tujuh tema pokok yang mempertegas bukti adanya hubungan kepercayaan mutulistik yang rendah (low presumptive trust) antara orangtua murid dan guru terhadap sekolah (tema-1), serta adanya keprihatinan-keprihatinan para guru dan orangtua terkait hal tersebut (tema-2). Tema-3 adalah adanya pembelajaran Pelaporan Aduan yang rumit (negatif), sehingga (tema-4) komitmen untuk peningkatan kepercayaan terhadap sekolah belum dapat diperbaiki (negatif). Tema-5 adalah pembelajaran Investigasi yang menjanjikan untuk dapat mengatasi masalah operasional sekolah (positif), walaupun ada hambatan-hambatan tertentu (negatif) dari guru dan orangtua murid untuk berkomitment mempercayai lembaga sekolah dengan lembaga komite sekolah (tema-6). Tema-7 adalah pembelajaran mediasi yang melahirkan keengganan untuk dikonfrontasi, sehingga (tema-9a) beium ada komitmen untuk lebih meningkatkan HKM antara guru dan orangtua murid dengan sekolah, komite sekolah, termasuk dengan pemerintah. Pemerintah yang dimaksud di sini adalah Dinas Pendidikan Tingkat Provinsi (Disdik).
Hasil FGI memunculkan dua terma alternatif perbaikan, yaitu tema-8 adalah pentingnya perubahan paradigma pengawasan menjadi semangat coexisting, co- management dan berlanjut ke semangat co-production dan co-creation (positif), sehingga memunculkan (tema-9b) komitinen untuk meningkatkan HKM. Perubahan kandungan semangat sosialisasi ORI, yang merupakan kuasi pengawasan ORI, adalah merupakan perubahan paradigma kandungan fungsi pengawasan ORI terhadap SDN yang tidak hanya memperbaiki HKM saat ini, tetapi juga akan menjamin keberlanjutan HKM ke depan. Kandungan semangat coexisting menjadi semangat co-management dalam sosialisasi ORI akan menghasilkan kepatuhan dan kedisplinan dalam mencegah perselisihan sehingga menghasilkan efisiensi proses pendidikan di SDN. Kandungan semangat co- productioan menjadi semangat co-creation dalam sosialisasi ORI akan menghasilkan inovasi proses penyelesaian perselisihan sehingga menghasilkan iklim hubungan sosial di kelembagaan pendidikan sekolah yang ikut membentuk karakter murid.
Collections
- DT - Business [372]
