| dc.description.abstract | Kebutuhan akan pakaian sangat dipengaruhi oleh penghasilan, gaya hidup,
kepercayaan, lingkungan yang akhirnya menjadi kebiasaan dari individu, kelompok,
komunitas, masyarakat, bangsa yang mencirikan perbedaan dan keunikan masingmasing.
Sesuai dengan hukum ekonomi, ketika ada permintaan maka diperlukanlah
suply dari komoditas tersebut. Karena ada kesempatan berusaha dalam bidang
pakaian ini di Indonesia, berkembanglah industri fashion yang merupakan industri
yang menghasilkan produk seperti pakaian beserta aksesorisnya.
Produk pakaian yang dijual ditengah masyarakat sangat beragam, ada yang
merupakan produk lokal dan juga impor. Ditengah keberagaman konsumen yang
sangat tinggi, toko distro menjadi ajang untuk membuktikan tentang keberadaan
produk lokal yang memiliki kualitas dan pasar tersendiri. Hal ini diperkuat dengan
berbagai inovasi yang dikembangkan oleh pemilik distro dan pemasok pakaian.
Dengan ini juga yang menjadikan industri pakaian di kota Bandung yang telah
menjadi salah satu tolak ukur dunia dapat memberikan gambaran bahwa kreativitas
dan inovasi pelaku usaha menjadi bagian penting dalam proses pengembangan usaha.
Dengan bervariasinya produk yang ditawarkan di pasaran membuat konsumen harus
lebih selektif dalam memilih suatu produk atau jasa. Konsumen akan mulai melihat
produk mana yang paling mampu memenuhi kebutuhannya sehingga kemudian akan
sampai pada tahap dimana seorang konsumen memilih untuk mengkonsumsi suatu
produk tidak hanya berdasarkan fungsi dasarnya (Primary Demand) saja, tetapi hal
ini berkembang menjadi keinginan sekunder (Secondary Demand) yaitu keinginan
untuk mengkonsumsi suatu produk dengan merek tertentu yang dapat memenuhi
kebutuhannya.
Penelitian ini merupakan pengembangan model Zaichkowsky (1986),
Goldsmith dan Hofacker (1991) dengan Jordan dan Simpson (2006). Metode
pengukuran ini memfokuskan pada faktor anteseden dari keterlibatan yaitu faktor
individu, faktor stimulan dan faktos situasi. Kemudian pegembangan model pada
faktor individu dengan menambahkan derajat inovasi sebagai laten variabel. Model
keterlibatan ini kemudian digabungkan dengan perilaku pembelian, sehingga menjadi
model yang utuh dalam kerangka model keterlibatan dan perilaku pembelian pakaian.
Berdasarkan perilaku kencenderungan konsumen yang berbeda-beda dalam mengolah
informasi dalam menghasilkan keterlibatan pada produk pakaian yang beragam.
Untuk itu sebagai pemasar perlu melihat lebih dalam perilaku konsumen khususnya
dalam memproses informasi yang berkaitan dengan produk pakaian dan pada
akhirnya menghasilkan perilaku pembelian. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
untuk:1) Mengidentifikasi tingkat keterlibatan konsumen dalam membeli pakaian. 2)
Menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keterlibatan konsumen
pakaian.3)Menganalisis pengaruh keterlibatan konsumen terhadap perilaku pembelian pakaian. 4) Merumuskan strategi pemasaran berdasarkan model keterlibatan
konsumen dan perilaku pembelian pakaian.
Penelitian dilakukan pada konsumen yang membeli pakaian di kota Bandung
pada kawasan Jl. Riau, Jl Trunojoyo, Jl Setiabudi, Bandung Super Mal, Bandung
Indah Plaza, Pasar Baru, dan Pusat Belanja Alun-Alun yang merupakan tempat
berbelanja pakaian khususnya remaja dan dewasa. Responden dinilai memiliki
karakteristik homogen dan berpotensi menjadi konsumen kini dan masa datang.
Penelitian ini telah dilakukan selama bulan Februari sampai dengan Maret 2012. Data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder, data primer
diperoleh melalui penyebaran kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari
berbagai studi kepustakaan yang dianggap relevan. Jumlah sampel yang digunakan
adalah sebanyak 405 orang, dengan kriteria responden remaja atau dewasa yang
sedang berada di kawasan pertokoan. Teknik pengambilan contoh dalam penelitian
ini menggunakan convenience sampling, teknik ini dilakukan karena pada umumnya
konsumen yang melakukan pembelian tidak mudah untuk diminta waktunya untuk
melakukan pengisian kuesioner, sehingga peneliti perlu menyesuaikan dengan
kesediaan dan ketersediaan konsumen pada saat survey dilakukan. Alat analisis yang
digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Structural Equation Modeling (SEM)
yang berfungsi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keterlibatan konsumen
pakaian dan menganalisis pengaruh keterlibatan konsumen terhadap perilaku
pembelian pakaian.
Pada saat ini, konsumen yang membeli pakaian di kota Bandung pada segmen
usia produktif lebih dominan, ini memperlihatkan bahwa mereka memiliki
pendapatan yang cukup untuk mengekspresikan dirinya atau membeli pakaian untuk
kebutuhan keluarganya. Dalam hal keterlibatan konsumen wanita cenderunng
memiliki keterlibatan yang tinggi dibanding pria, hal ini di duga karena wanita
cenderung memperhatikan detail produk dari sejak pencarian informasi sampai pada
proses pengambilan keputusan pembelian. Kecenderungan keterlibatan tinggi juga
terjadi pada usia 15-35 tahun, hal ini dipahami karen pada posisi ini konsumen
memiliki ekspresi yang tinggi terutama dalam berpakaian.
Berdasarkan hasil analisis SEM, terlihat bahwa bahwa perilaku pembelian
dominan dipengaruhi oleh keterlibatan iklan dan keterlibatan keputusan pembelian.
Hal ini dapat dijelaskan bahwa dengan adanya keterlibatan pada iklan dan keputusan
pembelian membuat konsumen melakukan aktivitas yang lebih lama dalam proses
pembeliannya. Sedangkan keterlibatan pada iklan dipengaruhi secara positif oleh
stimulan dan inovasi, namun dipengaruhi secara negatif oleh situasi pembelian. Ini
menjelaskan bahwa situasi pembelian akan mengurangi keterlibatan pada iklan dan
pada akhirnya perilaku pembelian menjadi perilaku dengan pemecahan yang terbatas.
Ini sejalan dengan Engel (1994), yang menjelaskan bahwa perilaku pembelian akan
mengarah pada perilaku pembelian dengan pemecahan yang terbatas pada situasi toko
yang menyenangkan.
Inovasi konsumen yang ditenggarai memiliki pengaruh positif pada
keterlibatan iklan, mengkonfirmasi bahwa derajat individu yang tinggi menyebabkan
konsumen cenderung memperhatikan iklan dengan lebih seksama dan selanjutnya
akan berpengaruh pada proses perilaku pembelian dengan pemecahan yang diperluas.
Artinya konsumen yang memiliki derajat inovasi yang tinggi cenderung lebih lama
dalam memutuskan pembelian pakaian. Dari faktor anteseden yang mempengaruhi
keterlibatan, faktor inovasi individu memiliki pengaruh yang cukup dominan untuk
terjadinya keterlibatan iklan dan keterlibatan produk. Sedangkan nilai materialistik
memiliki pengaruh yang dominan pada keterlibatan keputusan pembelian.
Keterlibatan iklan, keterlibatan keputusan pembelian memiliki pengaruh yang
dominan pada peningkatan perilaku pembelian. Sedangkan keterlibatan produk tidak
signifikan pengaruhnya pada perilaku pembelian.
Implikasi manajerial diperoleh berdasarkan hasil penelitian yang
menunjukkan bahwa konsumen pakaian memiliki kecenderungan pada keterlibatan
iklan dan keterlibatan pada keputusan pembelian yang dominan. Hal ini juga
ditunjang oleh dukungan faktor anteseden keterlibatan yaitu faktor individu nilai
materialisme dan inovasi yang juga siginifikan positif mempengaruhi keterlibatan ini.
Sedangkan situasi pembelian yang berpengaruh negatif pada proses keterlibatan. Hal
ini dapat dijadikan rujukan bahwa pemilik toko atau manajer harus terus melakukan
program pemasaran melalui iklan sebuah toko yang menciptakan kenyamanan
berbelanja, dan memiliki produk yang selalu baru.
Kesimpulan dari hasil penelitian, konsumen di Factory outlet cenderung
memiliki keterlibatan total yang tinggi, sedangkan di Pusat perbelanjaan
keterlibatannya relatif rendah.Faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan
konsumen adalah faktor materialisme, kegunaan produk, inovasi , faktor stimulan dan
faktor situasi. Hasil penelitian menunjukkan pola kausalitas antara faktor anteseden
keterlibatan dengan keterlibatan iklan, keterlibatan produk dan keterlibatan keputusan
pembelian. Keterlibatan iklan dipengaruhi nyata oleh faktor inovasi, faktor dan
stimulan. Keterlibatan Produk dipengaruhi nyata oleh faktor inovasi dan stimulan.
Keterlibatan keputusan pembelian dipengaruhi nyata oleh faktor stimulan dan
materialisme. Faktor situasi cenderung menurunkan keterlibatan iklan, keterlibatan
produk dan keterlibatan keputusan pembelian. Pada variabel materialisme pandangan
atas kesuksesan menjadi faktor dominan, sedangkan dari variabel kesan orang lain
atas kepemilikan barang dan kenyamanan atas kepemilikan barang merupakan faktor
yang paling dominan. Untuk variabel inovasi faktor yang paling dominan adalah
pencarian informasi, sedangkan bantuan dengan kejelasan informasi dan kelengkapan
produk menjadi faktor dominan dari stimulan yang menjadi anteseden keterlibatan.
Kemudian untuk variabel situasi pembelian yang menjadi faktor dominan adalah
membeli pakaian karena menariknya tempat membeli. Keterlibatan iklan dan
keterlibatan pengambilan keputusan berpengaruh signifikan pada perilaku pembelian.
Keterlibatan produk turut mempengaruhi perilaku pembelian, namun tidak signifikan.
Strategi pemasaran yang perlu dikembangkan dalam rangka meningkatkan
keterlibatan konsumen pakaian kota Bandung adalah mengintegrasikan program
pemasaran dengan mendorong terjadinya inovasi terus menerus, sehingga produk
yang ditawarkan selalu baru. | |