Peran Organisasi Pembelajaran (Learning Organization) Pada Kinerja Organisasi Bisnis Telekomunikasi Selular
View/ Open
Date
2012Author
Idawati, Dwi
Dharmawan, Arya Hadi
Mangkuprawira, Sjafri
Djohar, Setiadi
Metadata
Show full item recordAbstract
Perkembangan dan kemajuan dalam 10 tahun terakhir di bidang
information, communication and technology (ICT) memberi dampak yang luas.
Seiring perkembangan jaman, maka dapat terlihat bahwa informasi, komunikasi,
dan teknologi secara dramatis mengubah inovasi dunia, memungkinkan untuk
meningkatkan produktivitas, menghubungkan orang-orang dan masyarakat, dan
meningkatkan standar kehidupan dan kesempatan di seluruh dunia.
Bila dilihat dari tingkat kesiapan Indonesia dalam bidang ICT, telah terjadi
lonjakan yaitu meningkat dari peringkat 67 menjadi 53 (dari 138 negara), dan
mengalami perbaikan di tiga komponen Network Readiness Index (NRI).
Kesiapan ICT di Indonesia tercatat mempunyai kekuatan relatif. Peringkat
kesiapan individu sangat tinggi yaitu di peringkat 18, hal tersebut dimungkinkan
karena standar mutu pendidikan semakin baik, sehingga ICT dapat terjangkau.
Kondisi tersebut ke depannya, tentu akan membantu dalam meningkatkan
penetrasi ICT serta penggunaannya yang saat sekarang masih rendah yaitu, di
peringkat 80 (dari 138 negara), dalam kenyataannya mendorong pemerintah
menempatkan ICT dalam agenda pembangunan jangka panjangnya.
Industri telekomunikasi di Indonesia, khususnya para operator selular
menghadapi peningkatan persaingan di antara para pemain, baik pemain lama,
maupun baru yang mengakibatkan terbentuknya rancangan harga yang inovatif
dan jumlah pelanggan prabayar yang meningkat dengan cepat. Sementara itu,
teknologi generasi mendatang sedang dikembangkan dan diuji sebagai upaya
memenuhi kebutuhan untuk meningkatkan kecepatan dan kapasitas.
Perubahan-perubahan yang dialami oleh organisasi bisnis telekomunikasi
selular membuat organisasi harus bergerak cepat dan mampu beradaptasi dalam
menghadapi tantangan-tantangan. Kesiapan organisasi dalam menghadapi era
globalisasi juga menjadi hal yang erat kaitannya dengan kemampuan perusahaan
dalam berkompetisi dan bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan, di mana
sumber daya manusia (SDM) dan kemampuan manusia untuk berinteraksi dengan
lingkungan menjadi faktor penting.
Organisasi bisnis harus dapat menanggapi secara kreatif atas munculnya
berbagai tantangan-tantangan baru seperti, berubahnya keinginan pelanggan atas
produk dan jasa atau kecenderungan menurunnya pasar. Pertama-tama
menemukan sesuatu yang baru, kemudian mengubah cara-cara operasional yang
merefleksikan pengetahuan baru. Tanpa pembelajaran, organisasi bisnis
cenderung akan mengulangi cara-cara lama.
Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan tersebut di atas, maka masalah
prioritas yang diteliti adalah: (1) kesiapan organisasi dalam menghadapi berbagai
tantangan yang dihadapi (persaingan diantara pemain, perkembangan teknologi
telekomunikasi, dan kesiapan serta kompetensi SDM), (2) kemampuan organisasi
bisnis dalam mempertahankan keunggulan dalam bersaing melalui kemampuan
beradaptasi dengan perubahan lingkungan, membangun budaya pembelajaran pada organisasi bisnis yang merupakan tantangan dalam belajar, sebagai upaya
meningkatkan kinerja dan keberlangsungan hidup organisasi bisnis. Pertanyaan
penelitian yang dirumuskan, yaitu (1) bagaimana tingkat turbulensi lingkungan
organisasi bisnis telekomunikasi selular di Indonesia?, (2) bagaimana organisasi
bisnis telekomunikasi selular membangun organisasi pembelajaran, (3) bagaimana
penerapan organisasi pembelajaran dapat memberi dampak pada kemampuan
organisasi dalam beradaptasi dan peningkatan kinerja organisasi bisnis
telekomunikasi selular, dan (4) bagaimana membangun organisasi pembelajaran
yang efektif dalam organisasi bisnis telekomunikasi selular agar organisasi bisnis
dapat mempertahankan kinerja dan keberlangsungan hidupnya (survival). Untuk
menjawab permasalahan penelitian tersebut, maka tujuan penelitian adalah (1)
menganalisis tingkat turbulensi lingkungan organisasi bisnis telekomunikasi
selular di Indonesia, (2) menganalisis kondisi organisasi pembelajaran pada
organisasi bisnis telekomunikasi selular, (3) menganalisis dampak penerapan
organisasi pembelajaran terhadap kemampuan organisasi dalam beradaptasi dan
kinerja organisasi, dan (4) merumuskan strategi untuk membangun organisasi
pembelajaran yang efektif dalam organisasi bisnis telekomunikasi selular.
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat berupa kontribusi
pemikiran yang signifikan bagi pengembangan ilmu manajemen dan aplikasi
organisasi pembelajaran pada organisasi bisnis telekomunikasi selular. Selain itu,
hasil penelitian ini merupakan alat penunjang kebijakan dan keputusan bagi
manajemen organisasi bisnis telekomunikasi selular berkaitan dengan upaya untuk
mengembangkan organisasi pembelajaran. Hasil penelitian ini juga berkontribusi
untuk menambah referensi bagi peneliti berikutnya yang akan melakukan
penelitian di bidang manajemen yang terkait dengan organisasi pembelajaran.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan melibatkan 5
narasumber pakar di bidang telekomunikasi dan 16 orang narasumber dengan
posisi Vice President, General Manager, dan Manager yang berasal dari dua
perusahaan telekomunikasi. Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data
adalah dengan melakukan wawancara mendalam, dan studi data sekunder.
Wawancara dengan pakar dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang tingkat
turbulensi lingkungan industri telekomunikasi selular. Sedangkan wawancara
dengan 16 orang narasumber bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang
analisis organisasi pembelajaran, kemampuan organisasi beradaptasi dalam
menciptakan perubahan dan fokus pada pelanggan di PT PQR dan PT XYZ.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat turbulensi lingkungan bisnis
telekomunikasi ada pada tingkat discontinuous-strategic, masa depan bukan
perpanjangan dari masa lalu. Berdasarkan analisis terhadap organisasi
pembelajaran di PT PQR dan PT XYZ, dapat disimpulkan bahwa kedua
perusahaan tersebut telah menerapkan organisasi pembelajaran dengan intensitas
yang berbeda. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua perusahaan telah
memiliki tiga pilar organisasi pembelajaran, yaitu kepemimpinan yang dapat
menguatkan pembelajaran, meskipun karakter dan gaya kepemimpinan di kedua
perusahaan tersebut berbeda dalam mendukung terjadinya proses pembelajaran di
masing-masing perusahaan, lingkungan pembelajaran, serta proses dan praktek
pembelajaran.
Pada PT PQR, pemimpin sudah menjalankan perannya dengan sangat baik
dalam menguatkan lingkungan pembelajaran dan proses serta praktek pembelajaran. Dengan adanya kepemimpinan yang mendukung pembelajaran,
maka berdampak pada kemampuan organisasi beradaptasi pada aspek
menciptakan perubahan berupa terciptanya kondisi dimana pemimpin selalu menchallenge
karyawan untuk dapat menghasilkan produk dan layanan yang inovatif
melalui kompetisi, racing, dan lain sebagainya. Pemimpin PT PQR juga berupaya
menciptakan keunggulan karyawan melalui program pelatihan, melakukan rotasi
karyawan, melibatkan karyawan dalam berbagai gugus tugas, memberi penugasan
untuk terlibat dalam proyek-proyek, coaching, dan lain-lain.
Dampak lain dari penerapan organisasi pembelajaran terhadap kemampuan
PT PQR beradaptasi dengan berfokus terhadap pelanggan adalah konsisten
melakukan survei customer satisfaction index. Selain itu, PT PQR secara
struktural memiliki direktorat service management yang fokusnya pada pelayanan
pelanggan. Semua unit kerja di PT PQR diarahkan untuk fokus pada pelayanan
pelanggan, bagaimana meretain pelanggan dan mendapatkan pelanggan baru. PT
PQR tidak terlalu re-act terhadap apa yang dilakukan pesaing, lebih terencana
dengan cara customer tracking, dan menciptakan produk inovasi. PT PQR sudah
memiliki parameter pengukuran kualitas pelayanan yang dapat diakses melalui
web.
Sementara pada PT XYZ, dampak penerapan organisasi pembelajaran
terhadap kemampuan perusahaan beradaptasi untuk menciptakan perubahan
adalah dihasilkannya produk baru berdasarkan permintaan dari unit bisnis
marketing. Selain itu, produk baru yang dihasilkan oleh PT XYZ juga berasal dari
proses melibatkan pelanggan atau mengundang pakar melalui ideation workshop.
Dalam upaya meningkatkan keunggulan karyawan, PT XYZ melakukan program
pelatihan, coaching oleh atasan, dan memberikan kebebasan kepada bawahan
untuk mengambil keputusan.
PT XYZ juga selalu berupaya memahami kebutuhan pelanggan, baik
melalui service center dan call center maupun melalui pelayanan berdasarkan
kebutuhan. Upaya lain yang dilakukan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan
adalah dengan membangun koneksi di kapal, dan melayani komplain dengan
memberikan informasi yang dibutuhkan melalui web. Sebagai upaya untuk
memahami perilaku konsumen, adalah dengan melibatkan pelanggan dalam
berbagai aktivitas.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa penerapan organisasi
pembelajaran memiliki dampak terhadap kinerja organisasi PT PQR dan PT XYZ.
Pada PT PQR, dampak penerapan organisasi pembelajaran terhadap kinerja
organisasi dapat dilihat dari adanya kepemimpinan yang kuat dan kapabel dalam
situasi turbulensi lingkungan bisnis selular saat ini yang mendukung terciptanya
lingkungan dan praktek pembelajaran yang sangat baik, sehingga PT PQR mampu
meraih kinerja organisasi yang tinggi, baik dari segi keuangan, maupun dari segi
non keuangan. Sementara pada PT XYZ, penerapan organisasi pembelajaran yang
belum terlihat maksimal, berdampak terhadap kinerja yang dihasilkan oleh
perusahaan. Pencapaian kinerja keuangan dan non keuangan PT XYZ mengalami
pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan dengan PT PQR selama tiga tahun
terakhir.
Collections
- DT - Business [372]
