Peran Kepemimpinan Kepala Daerah Berbasis Kewirausahaan Dalam Penerapan Sistem Ketahanan Nasional Di Tujuh Provinsi Di Indonesia
View/ Open
Date
2012Author
Garnida, Dadang
Mangkuprawira, Sjafri
Hermawan, Aji
Pasaribu, Bomer
Metadata
Show full item recordAbstract
Dalam menghadapi perubahan lingkungan yang terjadi sebagai ekses dari
pelaksanaan otonomi daerah, maka seorang Kepala Daerah tidak hanya dituntut
dapat melaksanakan kegiatan pemerintahan dan pelayanan sehari-hari, tetapi juga
mengembangkan kreatifitas dan inovasi untuk mendorong perubahan sosial dan
ekonomi di dalam masyarakat. Dengan kata lain seorang Kepala Daerah harus
memiliki jiwa entrepreneur. Nilai-nilai dan semangat entrepreneur yang
mengajarkan keberanian dalam mengambil keputusan dan resiko, kemampuan
untuk merespon peluang dengan cepat, orientasi kepada masyarakat pengguna,
perhatian terhadap output dan kinerja serta inovasi, mampu memberikan
pencerahan terhadap para Kepala Daerah yang selama ini cenderung dibelenggu
oleh nilai dan tradisi yang mengandalkan kepatuhan pada peraturan dan prosedur,
rutinitas dan kepastian, serta orientasi pada kekuasaan.
Pelaksanaan otonomi daerah yang telah berjalan selama kurang lebih
hampir satu dekade memiliki banyak hambatan atau kendala, baik kendala teknis
maupun kendala non teknis. Berbagai kendala yang dapat mengganggu
implementasi otonomi daerah diantaranya adalah:
1. adanya tuntutan tentang otonomi daerah oleh berbagai daerah di Indonesia
yang sebenarnya lebih bermuatan politis dibandingkan ekonomis. Hal ini
dapat terjadi karena pemahaman otonomi daerah oleh sebagian daerah masih
diartikan sebagai sebuah instrumen untuk menggali pendapatan asli daerah
(PAD) sebagai sumber pemasukan daerah dan untuk membiayai seluruh
kegiatan operasional daerahnya.
2. ketidaksamaan persepsi para aparatur pusat dan daerah tentang
penyelenggaraan sistem pemerintahan di daerah.
3. bentuk pendelegasian wewenang yang belum jelas kepada daerah, belum
baiknya akuntabilitas pemerintahan daerah, ketidaksiapan sumberdaya
manusia di daerah, dan sistem politik yang belum kondusif.
Dampak-dampak negatif dari pelaksanaan otonomi daerah telah
menimbulkan berbagai konflik horizontal antar warga masyarakat seperti yang
marak terjadi di beberapa daerah. Konflik-konflik tersebut akan berdampak pada
kondisi Sistem Ketahanan Nasional yang telah ada. Kondisi Sistem Ketahanan
Nasional yang ada di daerah sangat bergantung pada hasil pembangunan daerah
sebagai implementasi dari pelaksanaan otonomi daerah. Hasil pembangunan
daerah yang baik dapat meningkatkan Ketahanan Nasional di daerah, dan
sebaliknya bila hasil pembangunan daerah kurang baik, maka Ketahanan Nasional
di daerah akan semakin rapuh. Terjadinya tindak korupsi, kolusi, dan nepotisme
yang masih terus berlangsung serta konflik horizontal yang banyak disebabkan
oleh fanatisme kedaerahan menjadi ancaman terhadap Sistem Ketahanan
Nasional.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka penelitian ini perlu dilakukan
dengan tujuan: (1) mengetahui kondisi kepemimpinan Kepala Daerah,
kewirausahaan, dan Sistem Ketahanan Nasional di tujuh provinsi yang menjadi
lokasi penelitian ini; (2) menganalisis peran kepemimpinan Kepala Daerah
berbasis kewirausahaan dalam penerapan Sistem Ketahanan Nasional; dan (3)
merumuskan strategi kepemimpinan Kepala Daerah berbasis kewirausahaan yang
efektif dalam penerapan Sistem Ketahanan Nasional. Kepala Daerah yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah Gubernur yang merupakan pimpinan
eksekutif tertinggi tingkat provinsi yang memimpin dan mengarahkan seluruh
sumberdaya dan potensi daerahnya untuk mencapai kinerja terbaik dalam rangka
memajukan pembangunan di daerah.
Penelitian ini dilakukan di tujuh provinsi di Indonesia, yang meliputi
Lampung, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Tengah, Sulawesi
Utara, Maluku, dan Papua. Penelitian berlangsung selama empat bulan yakni pada
bulan November 2009 sampai dengan bulan Februari 2010. Desain penelitian ini
adalah survei dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengambilan sampel
menggunakan teknik purposive sampling dimana responden penelitian ini adalah
para Gubernur, Wakil Gubernur, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD), Ketua Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda),
Inspektur Provinsi, Staf Gubernur, dan tokoh masyarakat dengan total responden
sebanyak 77 responden.
Data dianalisis dengan analisis rataan skor. Analisis rataan skor digunakan
untuk mengetahui kondisi kepemimpinan Kepala Daerah, kewirausahaan, dan
Sistem Ketahanan Nasional. Selain itu, hasil analisis rataan skor digunakan untuk
melihat peran kepemimpinan Kepala Daerah berbasis kewirausahaan dalam
penerapan Sistem Ketahanan Nasional (Sistannas).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis rataan skor,
kondisi kepemimpinan Kepala Daerah, kewirausahaan, dan Sistem Ketahanan
Nasional (Sistannas) di tujuh provinsi yang menjadi lokasi penelitian masingmasing
adalah sangat baik, baik, dan tangguh. Hal ini mengindikasikan bahwa
kepemimpinan dan kewirausahaan para Gubernur saat ini sudah sangat baik dan
baik. Begitu pula dengan penerapan Sistem Ketahanan Nasional yang pada saat
ini berada dalam kondisi yang tangguh.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa semua indikator kepemimpinan
Kepala Daerah yang meliputi moralitas dan akuntabilitas individual (MAP),
moralitas dan akuntabilitas sosial (MAS), moralitas dan akuntabilitas institusional
(MAI), dan moralitas dan akuntabilitas global (MAG) dipersepsikan dengan
sangat baik oleh para responden sehingga semua indikator kepemimpinan Kepala
Daerah merupakan kekuatan-kekuatan utama yang terdapat dalam diri para
Gubernur.
Hasil penelitian juga menunjukkan semua indikator kewirausahaan
dipersepsikan dengan baik oleh para responden sehingga semua indikator
kewirausahaan merupakan kekuatan-kekuatan utama kewirausahaan yang terdapat
dalam diri para Gubernur, meskipun pada aspek toleransi terhadap ketidakpastian
(TK) memerlukan perbaikan dan peningkatan agar semua aspek dapat
berkontribusi positif dalam mengimplementasikan kewirausahaan di berbagai
daerah provinsi.
Hasil penelitian juga menunjukkan semua indikator Sistannas yang berupa
delapan gatra dipersepsikan tangguh oleh para responden sehingga delapan gatra
tersebut merupakan kekuatan-kekuatan utama untuk membentuk Sistannas yang
tangguh, meskipun pada aspek demografi dan ekonomi memerlukan perbaikan
dan peningkatan agar semua aspek dapat berkontribusi positif dalam mewujudkan
Sistannas yang tangguh di berbagai daerah provinsi.
Berdasarkan hasil analisis rataan skor dan wawancara mendalam dengan
para responden, kepemimpinan yang sangat baik oleh Gubernur sebagai Kepala
Daerah memiliki peran yang sangat besar dalam penerapan Sistannas. Penguatan
kepemimpinan Kepala Daerah perlu dilakukan di semua indikator, karena terbukti
melalui penelitian ini kondisi kepemimpinan Kepala Daerah yang kuat di semua
indikator kepemimpinan Kepala Daerah akan berperan besar dalam penerapan
Sistannas yang tangguh.
Peranan Kepala Daerah sebagai pimpinan pemerintahan tidak hanya
dituntut mampu menyusun kebijakan pembangunan, pemberdayaan, dan
pelayanan bagi masyarakat, tetapi lebih dari itu, pimpinan harus mampu
mengimplementasikan dan mengevaluasi implementasi kebijakan tersebut, seraya
selalu mengembangkan sikap dan perilaku keteladanan dalam hal kemampuan
intelektual, keahlian, keterampilan, etika, dan moral pemimpin. Begitu
strategisnya kedudukan dan peran Kepala Daerah dalam sistem pemerintahan,
sehingga seorang Gubernur selaku Kepala Daerah harus meningkatkan
kemampuan dalam menerapkan pola kegiatan yang dinamis, aktif, dan
komunikatif, menerapkan pola kekuasaan yang tepat maupun pola perilaku
kepemimpinan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan yang dipengaruhi oleh
latar belakang individual masing-masing Kepala Daerah. Dengan kepemimpinan
yang efektif dari Kepala Daerah, diharapkan dapat menerapkan dan menyesuaikan
dengan paradigma baru otonomi daerah di tengah-tengah lingkungan strategis
yang terus berubah seperti reinventing government, akuntabilitas, serta good
governance. Korelasi positif sangat diperlukan dalam hubungan antara Kepala
Daerah dalam berbagai eksistensinya dengan otonomi daerah serta dipengaruhi
oleh lingkungan strategis.
Berdasarkan hasil analisis rataan skor dan wawancara mendalam dengan
para responden, implementasi kewirausahaan yang baik oleh Kepala Daerah tidak
berkaitan dengan terciptanya kondisi Sistannas yang tangguh. Kewirausahaan
Gubernur di masa mendatang diyakini dapat berperan dalam penerapan Sistannas
apabila terdapat dukungan dari seluruh stake holder pemerintahan daerah,
perubahan internal yang cukup mendasar, termasuk perubahan struktur birokrasi,
budaya, sistem insentif, dan pengembangan sumberdaya aparatur, dukungan dari
pemerintah pusat terkait dengan prosedur dan administrasi pemerintahan, dan
dukungan dari seluruh masyarakat daerah.
Collections
- DT - Business [372]
