| dc.description.abstract | Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor penting dan bersifat
fundamental yang menentukan kemajuan atau keberhasilan perusahaan. Namun,
manajemen sumber daya manusia (MSDM) sangat kompleks, berkaitan dengan
berbagai faktor internal maupun eksternal perusahaan, dan hubungan antara satu
faktor dengan faktor lainnya sering kali tidak linear, bahkan tidak jelas. Secara
empiris, dapat diketahui bahwa banyak perusahaan tidak optimal menjalankan
manajemen sumber daya manusia (MSDM), terlebih MSDM strategik. Bahkan
banyak yang tidak menyadari, telah mencurahkan sumber daya yang tidak kecil
untuk menangani MSDM yang bersifat rutin, sementara MSDM strategik yang
menggerakkan pertumbuhan jangka panjang seringkali luput dari perhatian.
Kalaupun ada perusahaan yang berupaya memikirkan penanganan isu-isu strategis,
namun pendekatan yang digunakan pada umumnya bersifat mekanistik, yang
sebenarnya tidak tepat untuk penanganan isu-isu strategik.
Tujuan dari penelitian ini adalah merancang bangun sebuah model sistem audit
MSDM yang outputnya diharapkan dapat lebih mendukung pelaksanaan MSDM,
terutama MSDM strategik. Hipotesis penelitian dapat dinyatakan bahwa dengan
meningkatnya efektivitas atau tercapainya tujuan MSDM, maka tujuan perusahaan
secara keseluruhan diharapkan dapat meningkat.
Penelitian ini menggunakan pendekatan sistem, secara lebih khusus
menggunakan metodologi sistem lunak (Soft System Methodology - SSM). Sistem
adalah keterpaduan yang kompleks, yang fungsinya dipengaruhi oleh elemen-elemen
dan interaksi antar elemen. Sistem dikembangkan untuk mencapai suatu tujuan yang
berorientasi pada pencapaian variasi output mendekati 0, atau dengan kata lain
mencapai kinerja yang teramati (observable) dan diinginkan (desired performance),
dengan prinsip semakin hari semakin baik. Soft System Methodology
berorientasi/berlandaskan pada 3 (tiga) falsafah, yaitu (1) cybernetics, yang artinya
berorientasi pada pencapaian tujuan, (2) holistic, melakukan analisis secara
komprehensif/tidak tereduksi atau menelaah persoalan secara parsial atau sepotongsepotong,
misalnya menelaah suatu sebab hanya dari beberapa variabel saja, (3)
effective, artinya memberikan penekanan pada penyelesaian persoalan dalam dunia
nyata, bukan hanya sebatas solusi konseptual atau teoritis.
Penelitian dilakukan dalam dua tahap. Pertama adalah merancang bangun
model sistem audit MSDM menggunakan pendekatan eksploratif melibatkan thinking
respondents dalam upaya mengeksplorasi dan mengakusisi pengetahuan (kepakaran)
yang dimiliki oleh responden, dan eksplorasi pengetahuan yang dilakukan oleh
peneliti sendiri melalui studi pustaka. Kedua adalah tahap uji coba model, verifikasi
dan validasi. Tahap uji coba, verifikasi dan validasi menggunakan pendekatan
deskriptif, yaitu menjelaskan data dan informasi dari hasil uji coba dan survei.
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Strategic Assumption
Surfacing and Testing (SAST), dan Interpretative Structural Modeling (ISM),
melibatkan thinking respondents melalui Focus Group Discussion (FGD). Teknik
SAST digunakan untuk melakukan pengidentifikasian, pemetaan dan pemeringkatan
asumsi-asumsi yang dipandang penting dalam sistem audit MSDM hasil rancang
bangun. Model sistem audit MSDM hasil rancang bangun diberi nama GSA, yaitu
singkatan General System Audit. Sementara teknik ISM digunakan untuk
mengidentifikasi hirarki, hubungan kontekstual antara unsur-unsur dan struktur
sistem audit MSDM model GSA dalam konteks implementasi. Kedua adalah
verifikasi dan validasi model dilakukan setelah uji coba secara terbatas pada
perusahaan manufaktur. Obyek audit untuk uji coba adalah pengelolaan budaya
perusahaan. Alasan pemilihan topik tersebut, selain karena budaya perusahaan
dipandang strategis, fundamental, juga karena alasan disetujui oleh perusahaan. Dari
pembahasan budaya perusahaan, diperoleh 7 (tujuh) asumsi: (1) bahwa budaya
perusahaan harus sesuai dengan karakteristik bisnis, (2) memiliki ciri khas yang
membedakannya dari perusahaan lain, (3) mendukung visi, misi dan tujuan
perusahaan, (4) harus diformalkan, (5) harus mampu meningkatkan kualitas sistem
sosial, (6) dipahami, diinternalisasikan dan diterapkan secara meluas dan hingga
mencapai kemapanan pada tataran filosofik, (7) mendukung nama baik
produk/perusahaan. Tahapan pengembangan budaya perusahaan terbagi tiga (3)
tahap: (1) formalisasi, (2) internalisasi, (3) implementasi. Sementara tingkat
kemapanan budaya perusahaan dapat dibedakan dalam empat (4) tataran: (1) fisik, (2)
simbolik, (3) teoretik, (4) filosofik. Melalui FGD, dipetakan 10 faktor yang
mempengaruhi pengelolaan budaya perusahaan yakni:(1) komunikasi, (2) pelatihan,
(3) formalisasi (4) reward & punishment, (5) keteladanan, (6) fairness, (7)
pengendalian (8) survei, pengukuran dan evaluasi, (9) konsistensi, dan (10)
penyesuaian. Faktor-faktor tersebut digunakan untuk penyusunan kuesioner self
assessment.
Hasil survei verifikasi menunjukan 56,9% responden setuju bahwa sistem audit
MSDM model GSA adalah penting, 33,1% responden tidak berpendapat dan 10%
tidak setuju. Untuk aspek usefulness, 86,8% responden setuju, dan 6,6 % tidak
setuju, selebihnya tidak berpendapat. Untuk aspek practicality, 46,6 % setuju, 20,3 %
tidak setuju dan sisanya tidak berpendapat. Untuk feasibility, 33,1 % responden
setuju, 20,6 % tidak setuju dan 33,1% tidak berpendapat. Untuk recommendation,
73,4% responden setuju memberikan rekomendasi penerapan pada perusahaan,
13,3% tidak setuju dan sisanya tidak berpendapat. Hasil survei validasi melibatkan
manajer senior MSDM dan auditor MSDM strategik, menunjukan sekitar 80 %
responden setuju bahwa sistem audit MSDM model GSA sesuai untuk mendukung
MSDM strategik. | |