Show simple item record

dc.contributor.advisorMangkuprawira, Sjafri
dc.contributor.advisorSaefuddin, Asep
dc.contributor.advisorDjohar, Setiadi
dc.contributor.authorBangun, Yuni Ros
dc.date.accessioned2024-11-07T06:17:57Z
dc.date.available2024-11-07T06:17:57Z
dc.date.issued2011
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159233
dc.description.abstractKapabilitas organisasi merupakan elemen yang penting dalam manajemen stratejik dan manajemen sumber daya manusia. Kapabilitas organisasi merupakan aspek yang penting dalam menunjang keberhasilan pencapaian kinerja perusahaan khususnya pada situasi lingkungan bisnis yang turbulen Kapabilitas organisisasi menjadi sangat penting untuk dikenali dan diidentifikasi agar memastikan keberhasilan pencapaian kinerja. Semakin tepat suatu perusahaan mengidentifikasi elemen kapabilitas organisasi pada lingkungan yang turbulen, semakin baik pula perusahaan tersebut memastikan pencapaian kinerja. Kajian literatur membuktikan bahwa kapabilitas organisasi merupakan basil pengaruh dari tiga variabel yakni kepemimpinan, budaya dan perilaku politik organisasi. Penelitian dilakukan pada kelompok perusahaan perkebunan kelapa sawit negara dan kelompok perkebunan kelapa sawit swasta di Indonesia yang diduga mengalami banyak perubahan pada dekade terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tingkat (level) turbulensi industri minyak sawit dan mengidentifikasi elemen kapabilitas organisasi, mempelajari hubungan elemen kapabilitas organisasi dengan kinerja perusahaan serta menemukan model (modelling) pembentukan kapabilitas organisasi tersebut ditinjau dari tiga variabel kepemimpinan-budaya perilaku politik secara bersamaan. Pemilihan industri minyak sawit dilakukan karena peran penting industri tersebut pada perekonomian negara, adanya turbulensi industri tersebut serta terdapat beberapa masalah diantaranya adalah perbedaan kinerja antara kelompok perkebunan milik negara dan perkebunan swasta Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa level turbulensi industri minyak swit berada diantara level 2 (dua) dan level 3 (tiga) pada skala level turbulensi 5 Level turbulensi diantara 2 dan 3, ditandai dengan beberapa ciri yang menuntut perusahaan hendaknya memiliki ciri (firm characteristics) yang senantiasa peka dan dan memanfaatkan perubahan terkait (seeks relevant and related change)serta memiliki tingkat respons stratejik (strategic responsiveness) yang baik untuk memastikan perusahaan tetap bertahan dan bertumbuh (sustain and growth), Penelitian ini mengidentifikasi 9 (sembilan) elemen sebagai kapabilitas Organisasi pada industri yang turbulen yaitu kecepatan (speed) inovasi (inovativeness), konektifitas pelanggan (customer connectivity), tanggap akan perubahan (seeks related change), respons stratejik (strategic responsiveness), lingkungan kerja internasional (international working environment), kesiapan untuk aliansi stratejik (ready to strategic alliances), efisiensi (efficient) serta talent Kapabilitas organisasi berpengaruh positif terhadap kinerja organisasi pada kedua populasi. Setiap elemen kapabilitas organisasi mempunyai pengaruh langsung terhadap kinerja perusahaan dengan koefisien korelasi tertentu. Pada kelompok perkebunan sawit negara ditemukan bahwa kecepatan, konektifitas pelanggan, tanggap akan perubahan, respons stratejik, lingkungan kerja internasional, efisiensi dan talent berperigaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan, sedangkan elemen kecepatan, tanggap akan perubahan, respons stratejik, lingkungan kerja internasional, efisiensi dan talent berpengaruh terhadap kinerja kepuasan karyawan. Pada kelompok perkebunan sawit swasta ditemukan bahwa kecepatan, inovasi, konektifitas pelanggan,tanggap akan Perubahan, respons stratejik, lingkungan kerja internasional, kesiapan aliansi stratejik dan talent berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan. Elemen kapabilitas kecepatan, inovasi, konektifitas pelanggan, tanggap perubahan, respons stratejik, lingkungan kerja internasional efisiensi dan talent berpengaruh positif terhadap kinerja kepuasan karyawan. Penelitian menunjukkan hubungan antara variabel kepemimpinan, budaya serta politik organisasi berperan secara serentak dalam terciptanya kapabilitas organisasi. Pemodelan menunjukkan bahwa kepemimpinan dan budaya organisasi tidak mempunyai hubungan langsung terhadap kinerja organisasi, akan tetapi kepemimpinan dan budaya organisasi mempunyai hubungan yang positif dan signifikan terhadap kapabilitas organisasi. Kepemimpinan mempunyai hubungan langsung yang positif terhadap kapabilitas organisasi dan budaya organisasi, akan tetapi mempunyai hubungan yang negatif terhadap perilaku politik organisasi. Kepemimpinan stratejik dan kepemimpinan transformasional memberikan kebermaknaan tertinggi dalam membentuk kapabilitas organisasi pada kedua populasi. Implikasi temuan ini adalah saran bagi perusahaan perkebunan untuk menekankan pentingnya kepemimpinan stratejik dan kepemimpinan transformasional. Terdapat elastisitas variabel kepemimpinan terhadap kapabilitas organisasi yang lebih tinggi pada populasi perkebunan swasta. Ini mengindikasikan bahwa program pengembangan kepemimpinan lebih berarti bagi populasi swasta dalam peningkatan kinerja Pengaruh budaya terhadap kapabilitas organisasi pada populasi perkebunan milik negara lebih tinggi dari pada populasi swasta. Hal ini mengindikasikan bahwa pembenahan budaya pada populasi perkebunan negara lebih berarti untuk peningkatan kinerja perusahaan. Jadi dalam program pengembangan kepemimpinan untuk manajer pada populasi perkebunan milik negara sebaiknya lebih diarahkan pada kemampuan manajer dalam membentuk budaya yang mendukung kapabilitas organisasi. Penelitian juga menemukan bahwa budaya yang paling bermakna untuk pengembangan budaya pada populasi perkebunan milik negara adalah adaptabilitas (adaptability) dan budaya yang melibatkan karyawan (involvement) Perilaku politik terdapat pada kedua populasi dan memberi pengaruh langsung yang negatif terhadap kinerja perusahaan. Intensitas perilaku politik pada populasi milik negara lebih tinggi dari pada yang terdapat pada populasi swasta, akan tetapi elastisitas negatif pada swasta lebih tinggi daripada elastisitas negatif yang terdapat pada populasi milik negara Model persamaan struktural menunjukkan bahwa perilaku politik organisasi merupakan variabel endogen dari kepemimpinan Oleh karena itu sudah selayaknya pemimpin atau manajer peka akan politik organisasi serta berupaya mengurangi hadirnya perilaku politik yang merugikan
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Sumber Daya Manusiaid
dc.titlePemodelan Kapabilitas Organisasi Ditinjau Dari Faktor Kepemimpinan Budaya Dan Perilaku Politik Organisasi Serta Pengaruhnya Terhadap Kinerja Pada Lingkungan Yang Turbulen, Studi Kasus: Kelompok Perkebunan Kelapa Sawit Negara (Ptpn) Dan Perkebunan Kelapa Sawit Swastaid
dc.subject.keyword|Manajemen Sumber Daya Manusiaid
dc.subject.keywordManajemen Strategikid
dc.subject.keywordKapabilitas Organisasiid
dc.subject.keywordLevel Turbulensi Industri Minyak Sawitid
dc.subject.keywordKepemimpinan Strategikid
dc.subject.keywordPolitik Organisasiid
dc.subject.keywordBudaya Perusahaanid
dc.subject.keywordKepemimpinan Bumnid
dc.subject.keywordUji Reliabilitas Dan Validitas Skala Penelitianid
dc.subject.keywordStructural Equation Modeling (Sem)id
dc.subject.keywordStrategic Managementid
dc.subject.keywordOrganizational Capabilityid
dc.subject.keywordPalm Oil industryid
dc.subject.keywordLevel of turbulenceid
dc.subject.keywordStrategic Leadershipid
dc.subject.keywordTransformational Leadershipid
dc.subject.keywordOrganizational Politicsid
dc.subject.keywordOrganizational Cultureid
dc.subject.keywordLCOPid
dc.subject.keywordGovernment owned companyid
dc.subject.keywordManajemen Stratejikid
dc.subject.keywordKapabilitas Organisasiid
dc.subject.keywordLevel Turbulensi industri minyak sawitid
dc.subject.keywordKepemimpinan Stratejikid
dc.subject.keywordPolitik Organisasiid
dc.subject.keywordBudaya Perusahaanid
dc.subject.keywordKepemimpinan BUMN|id


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record