| dc.description.abstract | Spesies Trichoderma endofit di antaranya dapat memacu pertumbuhan bawang merah. Produksi bawang merah (Allium cepa L.) varietas Lembah Palu BM-VLP1 mengalami kendala oleh keterbatasan air akibat iklim di Lembah Palu yang tidak menentu. Penelitian potensi asosiasi bawang merah var. Lembah Palu BM-VLP1 (BM-VLP1) dengan Trichoderma untuk meningkatkan adaptasi tanaman terhadap kondisi cekaman kekeringan belum pernah dilaporkan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan; (1) mengisolasi dan mengidentifikasi Trichoderma yang berasosiasi dengan BM-VLP1; dan (2) mempelajari kemampuan tanaman BM-VLP1 dalam menghadapi cekaman kekeringan saat bersimbiosis dengan Trichoderma.
Metode dalam penelitian ini meliputi; (i) mengisolasi dan mengidentifikasi morfologi cendawan hasil isolasi dari lapisan umbi BM-VLP1. Sebanyak 4 lapisan bagian dalam umbi yang berasal dari sebuah umbi masing-masing dipotong menjadi 12 potong sebagai sumber isolasi dan semuanya ditumbuhkan pada media potato dextrose agar (PDA); (ii) menentukan frekuensi dan indeks dominansi dari genus isolat yang diperoleh; (iii) pengamatan makroskopis dan mikroskopis cendawan terpilih pada lapisan keempat, serta mengidentifikasinya secara molekuler menggunakan segmen dari gen alpha elongation factor; (iv) menguji patogenisitas cendawan terpilih terhadap umbi BM-VLP1; (v) mendeteksi keberadaan hormon IAA dan kinetin yang dihasilkan oleh cendawan terpilih dengan teknik kromatografi lapis tipis dan spektrofotometer UV-Vis; (vi) menganalisis unsur makro berupa N, P, K, Ca, dan Mg pada tanah dan zeolit yang akan digunakan sebagai media tanam; dan (vii) menguji BM-VLP1 terhadap cekaman kekeringan yang medium tanamnya diinokulasi terlebih dahulu dengan cendawan terpilih.
Percobaan cekaman kekeringan merupakan percobaan faktorial dua faktor yang disusun dalam rancangan acak lengkap dengan 10 ulangan. Faktor pertama adalah perlakuan kombinasi cekaman kekeringan dan inokulasi cendawan (KKI) yang terdiri atas tiga taraf; (1) tanaman setiap 2 hari disiram hingga berumur 20 HST dan berikutnya setiap 5 hari hingga berumur 70 HST (tidak diberi cekaman kekeringan) dengan tidak diinokulasi cendawan (SNI), (2) tanaman diberi cekaman kekeringan dengan cara media tanam disiram setiap 2 hari hingga tanaman berumur 20 HST dan berikutnya setiap 10 hari hingga berumur 70 HST, dan tidak diinokulasi cendawan (KNI); dan (3) tanaman diberi cekaman kekeringan dengan cara media tanam disiram setiap 2 hari hingga tanaman berumur 20 HST dan berikutnya setiap 10 hari hingga berumur 70 HST, dan diinokulasi cendawan terpilih (isolat no. 135) (KI). Faktor kedua adalah perlakuan komposisi media tanam yang terdiri atas 5 taraf: tanah:zeolit (100:0), tanah:zeolit (75:25), tanah:zeolit (50:50), tanah:zeolit (25:75), dan tanah:zeolit (0,100). Komposisi media tanam ditentukan berdasarkan persen bobot masing-masing komponen media terhadap total bobot media. Peubah tanaman yang diamati setiap 10 hari berupa tinggi tanaman, jumlah daun tinggal (daun segar) daun kering (daun gugur), diameter daun, diameter batang semu. Adapun panjang akar, jumlah dan diameter umbi, serta kadar air daun segar, umbi, serta akar dilakukan pada saat panen (70 HST). Selain itu umbi bawang merah dianalisis kandungan N, P, K, Ca, dan Mg.
Hasil isolasi cendawan mendapatkan 20 isolat. Lapisan ke 2 dan 3 dari sebuah umbi paling banyak tumbuh cendawan selama masa inkubasi, masing-masing dengan frekuensi 50%. Cendawan dari lapisan ke-1 diperoleh genus Trichoderma dan Fusarium, sedangkan dari lapisan lainnya hanya diperoleh Trichoderma, sehingga Trichoderma memiliki frekuensi dan indeks dominansi berturut-turut 80% dan 0,64%, lebih tinggi dari Fusarium. Pertumbuhan cendawan terpilih (no. 135) pada suhu ruang (± 27 °C) dalam media malt extract agar (MEA) lebih cepat (jari-jari koloni 7,25 cm pada 8 hari masa inkubasi), dari PDA (jari-jari koloni 7,64 cm pada 14 hari masa inkubasi). Koloni pada MEA seperti serabut dan berwarna putih, sedangkan koloni pada PDA sangat tipis dan membentuk pustula berwarna hijau. Cendawan terpilih memiliki hifa septat; ukuran konidia 2,84 µm dengan bentuk globus dan berwarna hijau, bergerombol di ujung fialid. Panjang fialid 6,83 µm dan terdapat 3 fialid per kelompok pada ujung konidiofor. Klamidospora tidak tampak pada pertumbuhan di preparat yang menggunakan cuplikan MEA. Sebaliknya, klamidospora elipsoidal berukuran 7,0 µm tampak di preparat yang menggunakan cuplikan PDA. Berdasarkan ciri mikroskopis tersebut menunjukkan cendawan terpilih sebagai genus Trichoderma.
Sekuen DNA Trichoderma (isolat no. 135) memiliki similaritas terhadap Trichoderma asiaticum YMF 1.00352 (99,48%) dan Trichoderma pholiotae JZBQH12 (99,74%) pada kelompok Harzianum dengan nilai bootstrap pada pohon filogenetik sebesar 84%. Dampak positif pada waktu uji patogenisitas cendawan terpilih melalui inokulasi cendawan ke umbi BM-VLP1 dengan masa inkubasi 11 hari, yaitu pada umbi tumbuh akar 1,54 cm, tumbuh pucuk dan tidak menyebabkan pembusukan pada umbi. Deteksi kualitatif dan kuantitatif cendawan terpilih pada medium cair malt extract dengan masa inkubasi 28 hari menghasilkan IAA (27,394 ppm) dan kinetin (17,197 ppm).
Trichoderma (isolat no. 135) yang diinokulasi ke media tumbuh BM-VLP1 berupa tanah:zeolit (100:0) dan diberi cekaman kekeringan dapat mempertahankan pertumbuhan tinggi tanaman (36,8 cm), relatif sama dengan tinggi tanaman (37,8 cm) yang ditumbuhkan pada tanah:zeolit (100:0) yang tidak mendapat cekaman kekeringan dan tidak diinokulasi cendawan. Tanaman pada kedua perlakuan tersebut tumbuh lebih tinggi dibandingkan tanaman yang ditumbuhkan pada tanah:zeolit (0:100) yang mendapat cekaman kekeringan dan tidak diinokulasi cendawan (31,5 cm). Respon serupa ditemukan pada panjang akar BM-VLP1. Selain itu, tanaman yang diberi inokulum cendawan pada kondisi cekaman kekeringan masih dapat meningkatkan jumlah daun, diameter daun, batang semu, dan umbi, serta panjang akar. Unsur N, P, K, Ca, dan Mg umbi meningkat pada kondisi cekaman kekeringan yang mediumnya diinokulasi Trichoderma dibandingkan kandungan unsur makro umbi yang ditumbuhkan pada medium yang tidak diinokulasi cendawan, baik pada kondisi tercekam maupun tidak dalam cekaman kekeringan (disiram). | |