Show simple item record

dc.contributor.advisorDasanto, Bambang Dwi
dc.contributor.authorFAKHRI, MUHAMMAD DHIYAUL
dc.date.accessioned2024-08-06T01:03:23Z
dc.date.available2024-08-06T01:03:23Z
dc.date.issued2024
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/155748
dc.description.abstractDaerah dataran tinggi merupakan daerah yang rentan terkena dampak perubahan iklim dikarenakan masyarakatnya sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Penilaian kerentanan penghidupan masyarakat perlu dilakukan untuk memahami tingkat kerentanan suatu wilayah dan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kerentanan sehingga dapat menentukan Langkah untuk menurunkan tingkat kerentanan. Kombinasi pembobotan dilakukan untuk melihat variasi hasil tingkat kerentanan berdasarkan metode pembobotan yang berbeda. Metode yang digunakan adalah LVI (termasuk LVI-IPCC) yang dikombinasikan dengan dua metode pembobotan yang berbeda, yaitu mengasumsikan semua bobotnya sama dan menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Hasil perhitungan berdasarkan data wawancara dan kuesioner, Nagari Gadut dan Nagari Kapau tergolong kategori rentan dari semua metode. Kombinasi pembobotan yang berbeda menghasilkan tingkat kerentanan yang tidak jauh berbeda. Berdasarkan hasil analisis, langkah yang dapat dilakukan untuk menurunkan nilai kerentanan yaitu melalui program pendidikan dan pelatihan dari pemerintah. Keterlibatan pemangku kepentingan yang berkelanjutan juga sangat penting untuk memastikan keberhasilan dari rencana adaptasi. Bentuk adaptasi yang bisa dilakukan oleh petani kecil yaitu penyesuaian tanggal tanam, penggunaan varietas tanam yang tahan terhadap variabilitas iklim, mempraktikkan teknik konservasi tanah, intensifikasi pupuk, meningkatkan irigasi, dan melakukan kegiatan non-pertanian.
dc.description.abstractHighland areas are vulnerable to the impacts of climate change because most of the people are farmers. A vulnerability assessment of community livelihoods needs to be conducted to understand the level of vulnerability of an area and to know the factors that affect the level of vulnerability to determine measures to reduce the level of vulnerability. A combination of weightings was conducted to see the variation in the results of the vulnerability level based on different weighting methods. The method used was LVI (including LVI-IPCC) combined with two different weighting methods, namely assuming all weights are equal and using Principal Component Analysis (PCA). The calculation results based on interview and questionnaire data, Nagari Gadut and Nagari Kapau are classified as vulnerable categories from all methods. Different weighting combinations produce levels of vulnerability that are not much different. Based on the results of the analysis, steps that can be taken to reduce the vulnerability value are through education and training programs from the government. Continuous stakeholder involvement is also significant in ensuring the success of the adaptation plan. Forms of adaptation that can be carried out by smallholder farmers are adjusting planting dates, using planting varieties that are resistant to climate variability, practicing soil conservation techniques, intensifying fertilizers, increasing irrigation, and conducting non-agricultural activities.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePenilaian Kerentanan Penghidupan Masyarakat Nagari Gadut dan Nagari Kapau Kabupaten Agamid
dc.title.alternativeAssessment Livelihood Vulnerability of Gadut Village and Kapau Village in Agam Regency
dc.typeSkripsi
dc.subject.keywordLivelihoodid
dc.subject.keywordLivelihood Vulnerability Index (LVI)id
dc.subject.keywordLVI-IPCCid
dc.subject.keywordPrincipal Component Analysis (PCA)id


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record