Show simple item record

dc.contributor.advisorBengen, Dietriech Geoffrey
dc.contributor.advisorNatih, Nyoman Metta N.
dc.contributor.advisorNurjaya, I Wayan
dc.contributor.authorRuntuboi, Ferawati
dc.date.accessioned2024-07-10T06:12:58Z
dc.date.available2024-07-10T06:12:58Z
dc.date.issued2024
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153409
dc.description.abstractKonektivitas habitat hotspot merupakan pengembangan konsep konektivitas fungsional yang menyediakan pengetahuan baseline tentang relung ekologi bagi megafauna laut seperti pari manta. Pemahaman tentang konektivitas dalam penelitian ini terkontekstual pada dua komponen utama yakni karakteristik lingkungan dan preferensi sumberdaya zooplankton. Pari manta (Mobulidae) terdiri dari dua spesies yakni Mobula alfredi atau pari manta karang dan Mobula birostris atau pari manta oseanik. Pari manta merupakan kelompok ikan pelagis bersifat planktivora dengan mobilisasi dan pola migrasi yang tinggi. Populasi global pari manta saat ini mengalami penurunan dengan status IUCN endangered terhadap pari manta oseanik dan vulnerable untuk pari manta karang. Perairan Raja Ampat merupakan salah satu habitat agregasi dan lokasi perkembangbiakan pari manta paling banyak di wilayah Indonesia. Status tersebut membutuhkan berbagai informasi untuk memahami relung ekologi pada habitat hotspot yang terintegrasi dengan karakteristik lingkungan dan ketersediaan sumberdaya zooplankton. Penelitian ini bertujuan mengkaji keterkaitan habitat hotspot pada kedua habitat agregasi di Selat Dampier dan Misool bagian tenggara berdasarkan karakteristik lingkungan dan ketersediaan sumberdaya zooplankton. Penelitian ini menerapkan beberapa metode analisis dalam mengkaji karakteristik lingkungan dan struktur zooplankton dengan memanfaatkan data lingkungan dari Marine Copernicus 2019-2021 dan verifikasi lapangan pada habitat hotspot tahun 2021. Data pemantauan secara simultan dilakukan ketika observasi lapangan yakni pada 5 hotspot di Selat Dampier yakni hotspot Manta sandy (MS), Manta reef (MR), Arborek sisi barat (AB), Hool Gam (HG) Yefnabi kecil (YK) dan pada 7 hotspot pada perairan Misool bagian tenggara Magic Mountain (MM), Eagle nest (EN), Tanjung Warakareket (TjW), Tanjung kerikil (TjW), Kanem (K), Boowindows (BW) dan Boowest (BWS). Kemunculan pari manta pada 12 hotspot sebagai data kemunculan yang didominasi oleh pendistribusinya pada reef dengan kedalaman 8–30 m serta pada beberapa hool dengan kedalaman yang relatif dangkal. Pada 12 hotspot kemunculan bervariasi dengan kelimpahan yang rendah dari 1-10 individu. Kemunculan paling tinggi terlihat di Yefnabi kecil Selat Dampier dan Eagle Nest Misool bagian tenggara. Variasi karakteristik lingkungan pada setiap hotspot pari manta. Sebaran SPL pada Selat Dampier berkisar 29,9-30.4 0C, Misool bagian tenggara berkisar 28,9-29,0 0C. Salinitas pada kedua wilayah ini menunjukkan nilai sama 34,50-34,95 ppm. Klorofil-a 0,16-0,47 mg-m3 untuk SD dan MS. Arus permukaan di SD berkisar antara 0,09-0,21m/s dan MS berkisar antara 0,09-0,21m/s. Kisaran pH konsisten sama pada kisaran 8,01-8,02. Analisis PCA dari komponen F1 dan komponen F2 mampu menggambarkan kombinasi linear dari parameter lingkungan pada hotspot pari manta sebesar 69,68%. Hotspot K, EN,TjW dicirikan oleh parameter arus permukaan, oksigen terlarut dan kedalaman dengan nilai tinggi. Salinitas, fitoplankton menjadi penciri pada hotspot MR, MS, MAB dan HG dengan nilai rendah. Parameter pH, klorofil-a, kelimpahan zooplankton menjadi penciri pada hotspot TjK, BW dan MM dengan nilai tinggi. Hotspot YK dan BW dicirikan oleh parameter SPL dengan nilai rendah. Identifikasi metabarcoding menemukan 32 jenis zooplankton pada tiga filum: Krustasea, Chaetognatha dan Cnidaria. Jenis-jenis tersebut dominan di sembilan titik yang terletak di Selat Dampier dan Misool bagian tenggara. Metrik keanekaragaman alfa, termasuk taksa yang diamati, Chao1, dan indeks Shannon, menunjukkan perbedaan yang signifikan antara titik api dan dua wilayah, yang dikonfirmasi oleh uji ANOVA (p = 0,0029 untuk taksa yang diamati, p = 0,0029 untuk Chao1, p = 0,0021 untuk Shannon). Selain itu, uji keanekaragaman alfa menunjukkan bahwa Misool bagian tenggara memiliki keanekaragaman yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan Selat Dampier (p <0,01). Sebaliknya, keanekaragaman yang diamati di dalam wilayah yang berbeda relatif rendah, dengan tidak ada perbedaan berdasarkan nilai p-value ANOVA sebesar 0,37. Keanekaragaman beta, yang dinilai melalui ANOSIM (dengan 999 permutasi), memberikan hasil yang mengindikasikan bahwa tidak ada kemiripan yang signifikan dalam struktur komunitas zooplankton (R = 0,225, p = 0,078). Plot nMDS menunjukkan bahwa komunitas zooplankton di Selat Dampier dan Misool Tenggara mengelompok secara terpisah. Secara khusus, komunitas ditiga hotspot EN, TJW, dan K menunjukkan struktur taksonomi yang sama, dari tingkat ordo hingga spesies, sebagaimana overlay pada diagram Venn. Variasi parameter lingkungan pada hotspot kemunculan pari manta. Analisis PCA membentuk tiga kelompok utama sebagai penciri antar hotspot. Kelompok pertama menunjukan parameter kedalaman, Do, arus permukaan merupakan penciri dari hotspot EN, TjW, TjK dan BWS dengan nilai tinggi. Kelompok kedua pada hotspot MM, BW, BWS dicirikan oleh parameter pH, pari manta karang, kelimpahan zooplankton, dan klorofil-a dengan nilai yang tinggi. Kluster ketiga dengan parameter penciri adalah SPL pada hotspot MR. Kluster keempat yang terbentuk dari analisis ini dengan parameter pencirinya adalah salinitas dan fitoplankton dengan nilai tinggi pada hotspot MS, MAB dan HG. Keterkaitan karakteristik lingkungan terhadap kemunculan pari manta didorong oleh kelimpahan zooplankton yang menunjukan signifikansi yang kuat di sekitar hotspot dengan nilai korelasi 0.82. Pemodelan habitat pari manta di Perairan Raja Ampat mengkonfirmasi habitat hotspot potensial yang berpotensi dikunjungi pari manta berdasarkan karakteristik lingkungan. Hasil permodelan habitat dalam penelitian model nilai AUC sebesar 0,978 sehingga model dapat dianggap baik atau kepercayaan tinggi terhadap kesesuaian habitat pari manta. Keterhubungan habitat hotspot MM di Misool bagian tenggara terkoneksi dengan hotspot EN dan MR di Selat Dampier. Hotspot EN terhubung dengan K, HG, TjW. Secara keseluruhan kemunculan pari manta di sejumlah hotspot sangat dipengaruhi oleh karakteristik lingkungan sebagai pendorong struktur dan sebaran zooplankton yang merupakan makanan pari manta. Konektivitas habitat hotspot pari manta menunjukan tersedia sejumlah habitat potensial yang mendukung keberlanjutan populasi pari manta di Raja Ampat dari komponen karakteristik lingkungan dan sumberdaya zooplankton
dc.description.sponsorshipLPDP-BUDI DN
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleKarakteristik Lingkungan, Mangsa Zooplankton dan Konektivitas Habitat Hotspot Kemunculan Pari Manta (Mobula alfredi Mobula birostris) Di Kepulauan Raja Ampatid
dc.title.alternativeEnvironmental Characteristics, Zooplankton Prey and Habitat Connectivity of Manta Ray Occurrence Hotspots Manta (Mobula alfredi Mobula birostris) in the Raja Ampat Islands
dc.typeDisertasi
dc.subject.keywordkonektivitasid
dc.subject.keywordhabitatid
dc.subject.keywordhotspotid
dc.subject.keywordpari mantaid
dc.subject.keywordraja ampatid
dc.subject.keywordzooplanktonid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record