Show simple item record

dc.contributor.advisorToelihere, Mozes R.
dc.contributor.advisorSukra, Yuhara
dc.contributor.advisorDiojoseebagio, Soewondo
dc.contributor.advisorBarizi
dc.contributor.authorYusuf, Tuty Laswardi
dc.date.accessioned2010-03-26T02:16:17Z
dc.date.available2010-03-26T02:16:17Z
dc.date.issued1990
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/1496
dc.description.abstractKekurangan protein hewani yang disebabkan oleh rendahnya populasi ternak, khususnya sapi, di samping masih rendahnya mutu ternak tersebut akibat perkawinan silang-dalam dan banyaknya pemotongan hewan jantan berkualitas baik, serta berbagai hal yang berkaitan dengan perkembang-biakan ternak merupakan masalah yang harus dipecahkan. Teknologi Transfer Embrio (TE) merupakan salah satu metode dalam upaya meningkatkan populasi dan mutu ternak sapi. Metode TE terdiri dari serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengendalian dan manipulasi fenomena reproduksi pada hewan donor maupun resipien. Berbagai aspek dalam rangkaian kegiatan tersebut pada ternak sapi di Indonesia belum banyak diketahui. Oleh karena itu suatu penelitian mengenai gambaran estrus alamiah pada bangsa sapi Fries Holland (FH), sapi Bali dan sapi Peranakan Ongole (PO), pengaruh pemberian Prostaglandin F2x (PGF2) secara intramuskuler (i.m.) dan intrauterin (i.u.), hubungan antara intensitas estrus dengan corpus luteum (CL), pengaruh FSH, PMSG dan HCG terhadap superovulasi pada donor, pengukuran kadar progesteron plasma darah pada hewan donor dan resipien menggunakan metode RIA, serta pemeriksaan kebuntingan sebagai evaluasi hasil transfer embrio pada resipien perlu dilakukan untuk menunjang keberhasilan TE pada ketiga bangsa sapi tersebut di atas. secara Penelitian dilakukan pada tiga bangsa sapi di dua tempat yaitu pada sapi FH dan PO yang dipelihara intensif di kandang beratap asbes, berlantai semen milik PT. Karyana Gita Utama, Cicurug, Jawa Barat dan pada sapi Bali yang dipelihara secara ekstensif di ladang ternak Desa Binel, kompleks Besipae, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Panjang siklus estrus yang diamati pada 29 ekor sapi FH dan 28 ekor sapi Bali mempunyai rataan yang hampir sama, masing-masing 20.3 hari dan 21.1 hari, sedangkan pada sembilan ekor sapi PO hanya 18.5 hari. Kebanyakan sapi FH dan sapi Bali mempunyai panjang siklus estrus antara 18.5 sampai 24 hari, sedangkan sapi PO antara 16.5 sampai 22 hari. ...
dc.languageid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.subject.ddcReproductive Biology
dc.titlePengaruh Prostagladin F2alfa Gonadotropin terhadap Aktivitas Estrus dan Superovulasi dalam Rangkaian Kegiatan Transfer Embrio pada Sapi Fries Holland, Bali dan Peranakan Ongoleid
dc.typeDissertations
dc.subject.keywordTeknologi Transfer Embrio (TE)
dc.subject.keywordSuperovulasi sapi
dc.subject.keywordSiklus estrus & hormon reproduksi
dc.subject.keywordEvaluasi kebuntingan resipien


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record