Hubungan antara Dimensi Tegakan Hutan Tanaman dengan Faktor Tempat Tumbuh dan Tindakan Silvikultur pada Hutan Tanaman Pinus Merkusii Jungh. Et De Vriese di Pulau Jawa

Date
1990Author
Suhendang, Endang
Haeruman, Herman
Soerianegara, Ishemat
Siswadi
Sudiono, Yon
Fakuara Ts, Yahya
Metadata
Show full item recordAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bentuk hubungan antara volume dan luas bidang dasar tegakan dengan peubah-peubah keadaan tempat tumbuh (terdiri atas beberapa sifat fisik tanah, ketinggian tempat dari muka laut, kemiringan lapangan, arah menghadap lereng, rata-rata tinggi curah hujan tahunan dan nilai Q) dan peubah-peubah penjarangannya (terdiri atas umur diadakan penjarangan, derajat penjarangan dan tenggang waktu antara dua penjarangan yang berturutan). Bentuk hubungan ini dinyatakan dengan fungsi hasil tegakan yang mengandung peubah-peubah tersebut selain peubah keadaan tegakannya, yaitu kerapatan tegakan dan umurnya. Fungsi hasil tegakan ini diharapkan akan dapat dipakai untuk menduga besarnya volume dan luas bidang dasar tegakan pada lahan-lahan yang sudah berupa tegakan maupun yang akan ditanami (belum ada tegakannya).
Pembentukan fungsi hasil tegakan dengan memasukkan peubah-peubah keadaan tempat tumbuh dan tindakan silvikultur dilakukan dengan dua cara yaitu cara satu tahap dan cara dua tahap. Pada cara satu tahap, peubah keadaan tempat tumbuh dimasukkan ke dalam model bersama-sama dengan peubah tindakan silvikultur sebagai peubah bebas dari fungsi hasil tegakan tersebut. Sebelum dimasukkan ke dalam model, terlebih
dahulu diadakan penyusutan dimensinya agar model yang dihasilkan
sederhana. Ada dua bentuk hasil penyusutan dimensi peubah-peubah
keadaan tempat tumbuh, yaitu dugaan indeks tempat tumbuh tegakan (1)
dan skor komponen untuk empat komponen utama yang pertama dari peubah-
peubah keadaan tempat tumbuh (komponen utama pertama W1, komponen
utama ke dua W2, komponen utama ke tiga W3, dan komponen utama ke
empat W₁). Cara satu tahap dengan memakai I sebagai wakil peubah-
peubah keadaan tempat tumbuhnya selanjutnya dinamakan cara pendekatan
I, sedangkan apabila dipakai W1, W2, W3 dan W4 selanjutnya dinamakan
cara pendekatan II.
Cara dua tahap dinamakan sebagai cara pendekatan III. Pada cara ini mula-mula dilakukan pendugaan indeks tempat tumbuh berdasarkan peubah-peubah keadaan tempat tumbuhnya, kemudian ditentukan kualitas tempat tumbuhnya berdasarkan nilai dugaan indeks tempat tumbuh yang diperoleh (tahap 1). Pada tahap 2 dibuat fungsi hasil tegakan dengan cara memasukkan peubah-peubah penjarangan ke dalam peubah bebasnya untuk setiap kualitas tempat tumbuhnya.
Contoh yang dipakai dalam penelitian ini adalah 34 petak percoba-permanen yang terdapat di tujuh tempat di Jawa Barat dan Jawa Tengah, yaitu Garut (4), Sumedang (4), Bandung (8), Pekalongan (10) dan Ranyumas (8). Khusus untuk petak percobaan yang terdapat di Pekalongan dan Banyumas, masing-masing tersebar pada dua lokasi yang berbeda. Satuan percobaan berbentuk empat persegi panjang dengan luas yang berkisar antara 0.154 ha sampai dengan 0.164 ha. ...
Collections
- DT - Forestry [361]

